Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 24: Aku membawa Graha Bekerja


__ADS_3

Di ruangan kerjanya, saat ini kedua kaki Angga sedang terbujur di atas meja dengan posisi yang menyilang. Badannya Dia rebahkan ke kursi. Lalu menikmati hisapan rokoknya. Dengan polosnya Dia menghisap rokok. Padahal jelas-jelas di sana adalah ruangan ber AC. Dan kedap udara.


AC yang masih menyala. Tapi Angga tetap merokok. Keadaan ini membuat Bella sekretarisnya yang saat ini berjuang keras menyelesaikan pekerjaan Angga, merasa tidak nyaman.


Awalnya Bella menahan rasa ketidak nyamanan nya ini. Tapi, asap rokok itu semakin lama semakin memenuhi ruangan.


Membuat ruangan menjadi tidak steril, dan bau asap rokok sangatlah menyengat.


Karena sudah tidak tahan. Bella sedikit ragu memberanikan diri untuk menegur Angga.


"Maaf Pak, ini adalah ruangan ber AC. Bisakah Pak Angga merokok di luar?" kata Bella ragu dengan suara pelan dan menekan.


"Fyuhhhh...!!!"


Angga terus melakukan kegiatannya. Dia justru menikmati hisapan asap rokok lalu mengeluarkannya dalam bentuk O.


Tak lama, Dia berdiri dan berjalan mendekat ke tempat duduk Bella.


Lagi-lagi Angga menyemburkan asap rokok tepat di depan wajah Bella.


"Fyuuuuuhhhh"


"Uhuk, uhuk, uhuk" Bella terbatuk menerima semburan asap rokok dari Angga.


Angga mendekatkan wajahnya ke wajah Bella.


Bella merasa takut dan berdebar.


"Aku menggajimu di sini untuk bekerja. Bukan untuk mencampuri urusan pribadiku!" kata Angga.


Angga melihat lekak-lekuk tubuh Bella dari atas hingga bawah. Karena Bella adalah wanita remaja. Tentu Dia terlihat masih segar dan cantik.


"Cantik juga ini anak" batin Angga.


"Jika Kamu mengulanginya, Aku akan berhenti menghisap rokokku. Sebagai gantinya, Aku akan menghisap kedua punuk untamu. Bagaimana? Tawaran yang bagus bukan?" kata Angga tersenyum menyeringai.


"Gleekkk!" Bella menelan salivanya.


Angga sempat menjawil salah satu punuk unta milik Bella dan segera berbalik badan. Lalu kembali ke tempat duduknya.


Bella benar-benar ketakutan atas ancaman yang diberikan Angga. Dan merasa tidak nyaman atas perlakuan Angga padanya.


"Kalau saja di sini tidak ada CCTV. Aku pasti akan menerkamnya hidup-hidup" batin Angga.


Angga kembali ke tempat duduk dan mengangkat kedua kakinya ke atas meja dengan posisi yang menyilang. Badannya Dia rebahkan ke kursi. Lalu menikmati hisapan rokoknya lagi.


...****************...


Di sisi lain, tepatnya di ruangan Pak Mahardika. Manager Pemasaran merasa tidak puas atas keputusan Pak Mahardika. Yang semakin hari semakin hanya memikirkan keuntungan instansi tanpa memikirkan kemampuan dan kesejahteraan Karyawanannya.


"Maaf Pak Mahardika, jika Salles marketing diberi tambahan jam kerja tanpa penambahan gaji. Ini akan mengurangi kualitas kinerja Mereka Pak. Secara tidak langsung Mereka akan kelelahan dan tidak bisa berfikir jernih" kata Manager pemasaran.

__ADS_1


"Saat ini, memang hanya itu solusinya. Bagaimana lagi?" kata Pak Mahardika.


"Saya yakin, pasti ada alasan di balik ini semua. Alangkah baik jika Kita mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Lalu setelah itu Kita buat keputusan" kata Manager Pemasaran atau Pak Ramli.


"Menambah jam kerja Mereka 1 jam, kenapa Pak Ramli terlihat sangat tidak setuju?" kata Pak Mahardika.


"Karena, Pak Mahardika yang Saya kenal selama ini. Dia lebih mengutamakan kesejahteraan karyawannya dibandingkan dengan profit" jawab Pak Ramli Manager Pemasaran.


Pak Mahardika langsung terdiam mendengar pernyataan dari Pak Ramli.


Karena selama ini Pak Mahardika memang selalu baik kepada Karyawannya. Karena Karyawan adalah salah satu aset perusahaan.


"Lalu apa rencana Pak Ramli selanjutnya?" kata Pak Mahardika.


"Saya akan mencoba mencari informasi di lapangan. Tentang alasan kenapa pasar menjadi sepi tidak ada satu pelanggan pun yang mau membeli perumahan Kita. Setelah itu, Saya akan mencari solusinya" kata Pak Ramli.


"Tanya saja pada tim salles marketing. Mereka pasti memiliki informasi" kata Pak Mahardika.


"Saya tunggu hingga 1 minggu" kata Pak Mahardika.


"Terimakasih Pak atas kesempatan Pak Mahardika" kata Pak Ramli.


"Saya pastikan akan kembali tidak dengan tangan kosong" kata Pak Ramli.


"Saya permisi!" pamit Pak Ramli.


Pak Mahardika mengangguk-anggukkan kepalanya saat Pak Ramli pamit keluar dari ruangannya.


...****************...


Mungkin Zaidan hanya pulang untuk menginap malam saja. Untuk siangnya, Dia selalu bekerja tanpa hari libur.


Saat pulang pun Zaidan selalu malam. Membuatku merasa kesepian. Untung saja Aku masih ada peralihan dengan bekerja. Masih ada waktu bertemu dengan rekan kerja dan bersosialisasi. Dan juga ada sosok Graha yang menemaniku.


Awalnya Aku sangat mendukung saat melihat betapa semangatnya Zaidan untuk memajukan perusahaannya.


Tapi, dengan berjalannya waktu. Hal yang berlebihan tentu tidaklah baik.


Zaidan semakin hari semakin sibuk di luar tanpa memperhatikanku di rumah. Dia hanya pulang ke rumah untuk tidur.


Pergi pagi dan pulang malam. Seperti itulah setiap harinya.


Kesibukannya membuatnya lelah dan menjadi acuh tak acuh kepadaku.


"Apakah Zaidan telah bosan padaku?" gumamku.


"Ah, tidak. Mungkin memang di kantor sangat rumit. Jadi Dia terlihat sangat lelah" pikir positifku.


Walau rasa hubungan Kami mulai hambar. Tapi Kami tetap harus bisa saling menggenggam dan mendukung.


Esoknya, saat Aku bangun. Zaidan sudah terlihat rapi dan segera berangkat.

__ADS_1


"Kamu tidak menunggu sarapan matang?" tanyaku.


"Tidak, Aku harus berangkat pagi hari ini. Rekan-rekan kerjaku sepertinya butuh pengawasanku yang lebih spesifik" kata Zaidan.


"Rekan kerja siapa?" tanyaku.


"Tentu saja para Karyawan. Aku menganggap Mereka adalah rekan kerja. Dan saat ini, Aku mengadakan kompetisi apresiasi untuk Mereka yang paling rajin. Jadi, Aku harus benar-benar memperhatikan Mereka dengan serius" kata Zaidan.


Aku hanya terdiam melihat suamiku menjadi lebih sibuk di luar sekarang.


Saat Zaidan melangkah hendak keluar. Tiba-tiba Dia berbalik lalu mengecup keningku.


"Cup!"


"Aku berangkat" pamit Zaidan.


Satu kecupan Zaidan membuat senyumku terlukis di wajahku.


"Iya hati-hati" kataku.


Walau sedikit berat harus bertahan tanpa ada perhatian. Tapi berfikir jika Zaidan melakukan demi masa depan. Aku tidak masalah.


Setelah itu Aku mulai memasak makanan untuk Graha dan untuk ku makan.


Setelah matang, terlihat Graha masih tertidur pulas. Akhirnya Aku memutuskan untuk bersiap-siap pergi bekerja.


Setelah Graha bangun, Aku mengurus Graha. Memandikannya dan menyuapinya.


Lalu Kami naik motor bersama menuju ke rumah Ibuku.


Aku hendak menitipkan Graha.


Saat tiba di sana. Ternyata Ibuku sedang sakit. Tentu, jika Aku menitipkan Graha, Ibuku tidak akan bisa beristirahat.


Jika Aku menitipkan kepada mertua, Aku juga tidak enak hati jika ke sana.


Akhirnya Aku memutuskan membawa Graha bekerja bersamaku.


Saat Aku menggendong Graha berjalan masuk ke kantor. Semua mata tertuju kepadaku.


Untuk pertama kalinya, Aku berani membawa Graha bekerja.


Awalnya Aku tidak enak hati kepada yang lain. Tapi tidak disangka, Mereka justru banyak yang gemas dengan wajah Graha.


Saat itu Aku meminta izin kepada bu ketua atas kehadiran Graha.


"Maaf bu Ketua, hari ini Saya izin membawa Graha. Karena Ibuku sedang sakit. Tidak bisa memomongnya" kataku.


"Iya tidak apa-apa. Bawa saja kemari setiap hari juga tidak masalah" jawab Bu ketua.


"Terimakasih Bu, terimakasih" kataku senang.

__ADS_1


Dan untungnya, Ketua mengizinkannya.


...----------------...


__ADS_2