Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 14: Omset Menurun Drastis


__ADS_3

Seorang Manager penjualan, melihat laporan trafik penjualan dalam 6 bulan terakhir di instansi itu.


Terlihat dilayar kotak komputer itu, menggambarkan trafik yang menurun drastis. Khususnya pada bulan 3 terakhir. Sudah sejak 6 bulan, Instansi tidak berhasil menghasilkan omset. Pada bulan 3 terakhir. Trafik berwarna merah. Dan Instansi mengalami rugi. Rugi dalam bentuk penjualan tapi masih memiliki aset.


"Astaga, penjualan Instansi Kita 3 bulan terakhir sangat menurun. Bahkan menurun hingga 70% dari bulan Januari" gumam bu Ani.


"Bagaimana Mas Adi?" kata Manager Ani.


"Kita harus adakan rapat dengan Pak Zaidan" kata Mas Adi.


Setelah itu, kedua Manager masuk ke ruangan Zaidan. Mereka duduk di sofa dan mendiskusikan tentang keadaan pasar ini.


Tak lupa dengan kopi instan yang sudah berada di meja berjumlah 3 cangkir.


"Maaf Pak, ini hasil laporan penjualan Instansi Kita" kata Manager Ani.


Dengan menyodorkan laporan dana masuk. Pemakaian dana Operasional, Dana Pembelian, omset dan juga Trafik penjualan.


"Sepertinya saat ini Instansi pada posisi keadaan krisis" tambah Manager Adi.


"Maaf Pak, Saya dengar Anda sudah tidak bekerja lagi pada Pak Mahardika?" kata Manager Adi.


"Iya Kamu benar" jawab Zaidan datar.


"Kemana Dimas? Saya tidak melihatnya selama 3 bulan ini" kata Manager Adi.


"Dia memang tidak Saya panggil" kata Zaidan.


"Kenapa?" tanya Manager Adi.


Zaidan menghentikan tangannya yang sedang membalikkan kertas laporan.


"Dana perusahaan sedang krisis. Namun biaya Operasional tetap berjalan. Sedangkan omset penjualan tidak tercapai. Bahkan untuk memanggil Dimas saja Saya tidak sanggup menggajinya. Bagaimana ini Bu Ani?" kata Zaidan.


"Deg"


Kedua pasang bola mata Manager itu membulat mendengar pernyataan Zaidan yang jujur.


"Maksud Pak Zaidan?" kata Manager Adi.


"Saya benar-benar sudah tidak memiliki Dana" kata Zaidan terang-terangan.


"Tidak mungkin. Ini bukan tipemu Pak Zaidan. Pak Zaidan yang Saya tahu, pasti memiliki dana cadangan" kata Manager Adi.


"Dana cadanganku sudah dipakai oleh Ayahku untuk modal usahanya" kata Zaidan.


"Begini saja, cari investor yang mau menyuntikkan dana pada Instansi Kita" kata Zaidan.


Melihat nama Zaidan masih buruk di publik. Tentu mana ada orang yang mau menjadi investor kepada seorang yang berani menggelapkan dana.


"Maaf Pak, hal ini sangat tidak mungkin" kata Manager Ani.


"Kenapa?" kata Zaidan.


"Maaf sebelumnya Pak. PT. Search adalah Intansi yang sangat terkenal. Jadi jika ada berita tentang penyebab Pak Zaidan dikeluarkan itu sangat mudah terdengar di publik. Jadi, dalam keadaan ini sangat sulit untuk mencari seorang investor" kata Bu Ani.

__ADS_1


"Saya paham" kata Zaidan.


"Bagaimana jika Kita bersangkutan dengan bank?" kata Manager Adi.


"Manager Adi, di Bank bunganya sangat besar. Bagaimana jika Kita tidak membawa hasil dan meleset dari target?" kata Manager Ani.


"Seperti yang dikatakan oleh Manager Ani. Ini sangat beresiko. Tapi, Kita tidak memiliki jalan lain" kata Zaidan.


"Maksud Pak Zaidan?" kata Manager Ani.


"Kita akan lakukan itu" kata Zaidan.


Manager Adi dan Manager Ani saling menatap satu sama lain. Mereka benar-benar berfikir apakah ini jalan yang benar?


"Adakalanya memang Kita harus terjun di hutan yang banyak binatang buas. Tapi saat Kita tahu di sana ada banyak binatang buas, justru ini dapat membuat tekad Kita semakin kuat untuk cepat keluar dari hutan itu" kata Zaidan.


"Jadi dana yang harus Kita pinjam berapa Pak?" kata Manager Adi.


"Pinjam untuk menutupi kebutuhan biaya Operasional saja. Selebihnya, Kita harus berlari kencang agar cepat keluar dari hutan bahaya ini" kata Zaidan.


"Manager Ani, kerahkan anak lapang untuk berkeliling dan mencapai target" kata Zaidan.


"Baik Pak" kata bu Ani.


"Jika perlu, anak gudang cukup 2 orang saja yang berjaga. Lainnya jadikan salles marketing" kata Zaidan.


"Baik Pak" kata Bu Ani.


"Manager Adi, Kamu yang mengurus pencairan dana ini" kata Zaidan.


"Dan Saya akan juga ikut terjun ke lapangan" kata Zaidan.


"Maaf Pak, tapi" kata bu Ani.


"Apa salahnya Saya juga ingin lebih akrab dengan staff ku" kata Zaidan dengan tersenyum.


"Baik Pak" kata bu Ani.


Setelah rapat tersebut, para Manager mulai melakukan hasil rapat yang telah diperoleh. Dengan tekad yang membara. Semua karyawan di bangunkan dari rasa tenggelam dan lesu. Melihat sejak 6 bulan sepi tidak menghasilkan omset. Tentu membuat Mereka juga lesu.


Tapi, kini dengan adanya Zaidan di samping Mereka. Membuat Mereka semangat kembali. Zaidan tidak hanya memberikan saran-saran yang membangun. Tapi Zaidan juga mendorong, agar Mereka maju sesuai dengan kreatifitas Mereka. Zaidan juga menyuguhkan jika Mereka adalah keluarga dan tim. Bukan sebuah atasan yang sewenang-wenang kepada bawahannya.


Dan inilah, yang Zaidan lakukan.


Entah, mulai darimana. Yang awalnya Zaidan merasa terpuruk karena telah dipecat dari Pak Mahardika. Kini rasa itu berubah menjadi syukur.


Dengan ini, Zaidan bisa lebih focus pada Instansinya sendiri. Yang sedang dalam fase keadaan jatuh.


...****************...


"Aku heran, kenapa Zaidan tidak mau menceraikan Milanie? Aku harus berbicara secara empat mata dengan Zaidan hari ini" gumam Ibu Zaidan.


Siang itu, Ibu Zaidan menyiapkan makan siang untuk Zaidan.


Kali ini Ibu Zaidan menyiapkan makan siang tanpa memberitahu Zaidan terlebih dahulu. Agar menjadi suprise baginya nanti. Dan agar Zaidan tidak bertanya-tanya alasan kenapa Ibunya tiba-tiba melakukan yang tidak pernah Dia lakukan selama ini.

__ADS_1


Lalu Dia segera keluar membawa makanan siang yang telah ditata rapi di kotak makan itu ke kantor Pak Mahardika.


Seperti pada instansi umumnya. Seorang tamu wajib melapor terlebih dahulu di bagian administrasi.


"Permisi mbak, Saya di sini ingin bertemu dengan Manager Zaidan Indra Parayudha" kata Ibu Zaidan.


"Maksud Ibu Pak Zaidan?" tanya administrasi.


"Iya" jawab Ibu Zaidan.


"Maaf Ibu, Pak Zaidan sudah tidak bekerja di sini sejak 3 bulan yang lalu" kata administrasi.


"Apa? Apa yang telah terjadi?" kata Ibu Zaidan.


"Kabarnya Pak Zaidan telah melakukan penggelapan dana buk" kata administrasi.


"Syuuut, hei tidak seharusnya Kamu membuka aib mantan Manager di sini Lani" kata Administasi lainnya.


"Memang seperti itu kan beritanya" jawab Administasi.


"Dasar kamu itu" kata administrasi lainnya.


Ibu Zaidan terpaku mendengar kabar ini.


Hal pertama yang dipikirnya adalah,,,


"Kenapa Dia sampai tidak tahu?" pikir Ibu Zaidan.


Segera Ibu Zaidan berjalan dengan sempoyongan menuju tempat duduk ruang tunggu. Ibu Zaidan duduk di sana. Lalu meraih ponsel yang ada di tas bermerknya warna Merah menyala itu.


"Tringgg!!!"


"Tringgg!!!"


Ponsel Zaidan berbunyi setelah rapat.


Zaidan meraihnya dan mengangkatnya.


"Halo Ibu. Ada apa?" kata Zaidan.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Ibu Zaidan.


"Zaidan di PT. Maju Terus" jawab Zaidan.


"30 menit Ibu akan datang ke sana. Jangan makan siang dulu. Ibu membawakan nasi untukmu" kata Ibu Zaidan.


"Baiklah. Zaidan tidak akan makan hingga menunggu Ibu datang" kata Zaidan dengan tersenyum.


"Tiiiitt!!"


Panggilan ditutup.


"Akan terjadi apalagi ini?" gumam Zaidan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2