Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 19: Pondasi Diri


__ADS_3

Saat berjalan hendak masuk, sesekali kak Lucky memandangku sebentar.


Saat Kak Lucky melihatku. Aku menundukkan wajah.


"Akan lebih baik jika Dia tidak tahu keberadaanku" batinku.


Setelah direktur dan Asistennya masuk. Semua barisan Karyawati bubar dan kembali ke pekerjaan Mereka masing-masing.


Di sela-sela aktifitas itu, Ketua memanggilku.


"Mil, Kamu cari camilan untuk suguhan Pak direktur. Cepat ya?" perintah ketua.


"Baik Bu" jawabku.


Aku segera pergi keluar dan mencari camilan gorengan yang terdekat.


Lalu Aku tata kemudian Aku suguhkan di meja.


Saat itu Kak Lucky tidak merespon kehadiranku. Ekor matanya hanya melirik sekilas ke arahku. Dan asik beradu obrolan dengan lainnya.


Mereka sedang berbincang asik.


Setelah perbincangan itu selesai, Mereka masuk ke ruangan khusus direktur. Yang tepatnya berada di samping sebelah kantor.


Aku kembali ke meja kerja.


Tak lama kak Lucky masuk ke ruangan kantor dan bertanya kepada seluruh karyawati dengan suara lantang.


"Siapa di sini yang sedang membuat formulir kehadiran karyawan?" tanya kak Lucky.


Mendengar pertanyaan itu, Aku langsung merasa jika itu adalah tugasku. Tapi Aku tidak ingin merespon.


"Milanie Mas Lucky" jawab Rindu.


Mendengar jika Aku yang mengerjakannya Kak Lucky menghampiriku.


"Boleh Saya memintanya sekarang?" tanya kak Lucky.


"Iy, iya, tentu" jawabku gugup dan kaku.


"Akan segera Saya cetakkan. Tunggu sebentar!" kataku.


Segera Aku menyetak formulir yang telah Aku buat tadi pagi.


Jangan tanya dengan hatiku. Saat itu, hatiku benar-benar bingung tak karuan. Salah tingkah iya. Bertemu dengan Dia berhasil membuat hatiku sekilas lupa akan statusku.


"Ini!" kataku dengan menyodorkan kertas formulir.


"Terimakasih" kata Kak Lucky.


Sedangkan Kak Lucky memandang santai padaku seperti orang yang tidak pernah mengenalku.


Saat kak Lucky menghilang dari mataku. Aku sadar, Aku sekarang adalah seorang Ibu dan Istri. Bukan lagi seorang perempuan remaja yang belum terikat oleh laki-laki.


Aku menyebutnya, ini adalah godaan. Orang hebat adalah,,,


Bukan Mereka yang berselingkuh.


Tapi,,,,


Mereka yang bisa memegang kesetiaan hanya untuk satu orang. Menjadi khalifah untuk dirinya sendir agar tidak terjerumus ke lubang jurang.


Itulah orang yang hebat sebenarnya.


Apalagi setelah Menikah, Kita harus siap mencintai, menyayangi, dan berkorban untuk hanya dengan satu orang saja.


Awalnya Aku merasa kaget dan senang bertemu lagi dengan kak Lucky.


Hatiku yang dulu mulai bergejolak. Pertahanan berguncang. Teringat masa-masa yang terlihat bahagia yang pernah dilakukan bersama.


Tapi, 15 menit kemudian. Otakku berputar.


Mengingat bagaimana kebaikan Zaidan yang pernah dilakukannya kepadaku. Membuatku kembali menjadi seorang istri dan Ibu dari anak.


Bertemu dengan kak Lucky pun ini tidak akan mengubah keluargaku.

__ADS_1


Karena pertemuan ini, sudah berbeda dari yang dulu antara Aku dan kak Lucky jalani.


Aku lebih memilih untuk setia dan membangun pagar untuk segala godaan di luar.


Di sini Aku juga mengerti, kenapa laki-laki banyak yang selingkuh?


Karena ada sebuah kesempatan. Yang Mereka ambil untuk kesenangan sementara.


"Astaga Milanie, Aku baru kali ini melihat kak Lucky menatap seseorang" kata karyawati lainnya.


"Itu karena,,, Kak Lucky adalah temanku dulu. Tidak lebih dari itu" kataku.


"Benarkah Mas Lucky temanmu Milanie?" tanya karyawati lain penasaran.


"Iya, teman satu ekstrakurikuler saja" jawabku.


"Wah, kebetulan sekali. Dunia memang tidak lebih seluas daun kelor. Selalu seperti itu" kata Rindu.


"Iya" jawabku.


"Semua adalah masa lalu. Tidak perlu dipermasalahkan sekarang Milanie" batinku.


Dengan pendirian yang Aku bangun kokoh untuk tidak berharap sesuatu.


"Lagi pula, pilihannya dulu adalah membuangku seperti sampah. Apa alasanku untuk tetap menyukainya? Nothing" gumamku.


"Niatku di sini adalah bekerja. Untuk Graha dan membantu Zaidan" batinku.


...****************...


Jam dinding terus berputar pada porosnya.


Tidak terasa hari telah semakin semburat keemasan.


Pukul setengah lima, waktu pulang telah tiba.


Semua staff mulai mengemasi barang-barang pribadi yang Mereka bawa.


Termasuk Aku. Secepat mungkin Aku berkemas dan segera pulang.


"Milanie!!!" panggilnya.


Di jalanan menuju parkir motor. Langkahku terhenti.


Pandanganku menyapu ke segala arah. Mencari asal dari suara itu.


Tak kusangka, Dia adalah kak Lucky. Dia sengaja mengikutiku keluar.


"Kak Luck?" kataku.


"Lama tidak bertemu" kata kak Lucky.


"Iya" jawabku.


"Kamu masih sama ya? Seperti dulu" kata Kak Lucky.


"Sama bagaimana?" tanyaku.


"Kecil, ha ha ha" kata kak Lucky.


"Iya, Kak Lucky juga semakin kurus" kataku.


"Itu karena, Aku telah kehilangan seseorang yang berharga" kata Kak Lucky.


"Oh, benarkah?" kataku pura-pura tertarik.


"Sejak kapan Kamu bekerja di sini?" tanya kak Lucky.


"Masih 2 bulan Kak" jawabku.


"Oh, makanya waktu kunjungan yang lalu Kamu masih belum terlihat" kata Kak Lucky.


"Iya" kataku.


"Em, Kak Saya harus segera pulang. Saya permisi dulu ya?" kataku segera mengakhiri percakapan itu.

__ADS_1


"Baiklah hati-hati. Apa perlu Aku antar?" tanya kak Lucky.


"Tidak perlu. Terimakasih" kataku.


"Baiklah, jangan lewat tengah ya? Lewat pinggir sebelah kiri" kata Kak Lucky.


"Oke siap" kataku.


Aku segera pulang dari sana. Karena takut, pondasiku akan runtuh jika berlama-lama saling bercakap.


"Milanie, ternyata melupakanmu itu sangat sulit" batin Kak Lucky.


"Tring!!!"


"Tringg!!"


Tak lama ponselku berdering. Menandakan ada panggilan masuk.


Aku mengangkatnya.


"Halo?" kataku.


"Roda Kaki motor, selalu berputar pada porosnya. Nonaku yang cantik, sekarang ada dimana?" goda Zaidan.


"Apa'an sih pakai pantun segala" kataku.


"Ais,,, pertanyaanku tidak dijawab nih" kata Zaidan.


"Ini sedang di parkiran mau pulang Sayang" kataku.


"Mampirlah ke Kantor dulu ya sayang? Kita pulang boncengan bareng saja" kata Zaidan.


"Baiklah. Tunggu Aku datang ya" kataku.


"Iya sayang, muaaaaaccch" kata Zaidan manja.


"Apa'an sih" kataku.


"Nggak balas ciumanku nih" kata Zaidan.


"Astaga, muach. Sudah ya?" kataku.


"Hati-hati di jalan" kata Zaidan.


"Deg"


Aku teringat, perkataan yang dilontarkan oleh Zaidan sama persis seperti yang dikatakan oleh kak Lucky tadi.


"Iya Sayang" jawabku.


"Tiiiittt!!!"


Televon itu telah terputus.


Aku segera menaiki motorku dan menuju ke kantor Zaidan.


Karena Zaidan tidak bisa naik motor. Sore itu Aku yang membonceng Zaidan.


Kami pulang bersama, dengan menikmati keindahan di sekitar jalanan bersama matahari terbenam.


Terbesit di batinku ada perasaan bersalah kepada Zaidan.


"Bagaimana ini? Apakah Aku harus bercerita pada Zaidan?" batinku.


"Tapi, bagaimana jika nanti Zaidan melarangku bekerja?" batinku.


"Atau Dia nanti cemburu dan marah?" batinku.


"Sudahlah jalani saja. Aku juga tidak berniat untuk selingkuh sama sekali" batinku.


"Yang terpenting sekarang adalah,,, orang-orang baik yang berada di sekitarku" batinku.


"Seperti Zaidan dan Graha" batinku.


Dalam perang batin, Aku tersenyum tipis dengan berkendara sepeda motor di depan Zaidan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2