Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 30: Sindiran


__ADS_3

Hujan lebat,


Telah membuat badanku berhenti dan tidak berkutik untuk keluar.


Di balik jendela kamarku yang tembus pandang bersama tirai berwarna putih yang membentang. Menutupi jendela namun tembus pandang.


Aku merasa bimbang,


"Bagaimana Aku berangkat kerja jika keadaan seperti ini?" batinku.


"Jika Aku berangkat, bagaimana dengan Graha?" batinku.


"Apa aku izin tidak masuk saja ya?" batinku.


Baginilah posisi perempuan yang telah menyandang gelar seorang Ibu. Di fikirannya banyak sekali pertimbangan. Tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.


Melainkan berfikir panjang membentang sepanjang dari sabang hingga merauke.


"Tringg!!!"


"Tringg!!"


"Assalamualaikum"


"Maaf bu, Saya hari ini izin tidak masuk kerja. karena ada kepentingan" kataku saat menelvon bu ketua.


"Kepentingan apa Mil?" tanya bu Ketua.


"Kepentingan keluarga bu" jawabku.


"Kepentingan keluarga mengurus anak" lanjut batinku.


"Baiklah" jawab bu ketua.


"Terimakasih bu, Assalamualaikum" kataku.


"Wa'allaikumussalam" jawab bu Ketua.


Brukkk!!!


Wadah yang berbentuk kotak persegi panjang itu menadahi badanku yang kecil ini.


"Yah tidak apa-apa sesekali izin meski pekerjaan masih ada di kantor" gumamku.


...****************...


Pagi ini 2 ekor mata itu menyapu ke segala arah.


Seorang pria menengok sedikit ragu menghadap kantor yang isinya adalah perempuan saja.


Melihat gerak gerik yang tidak seperti biasanya, membuat bu ketua memiliki tanda tanya kepadanya.


"Apa yang Kamu cari Luck?" tanya bu ketua.


"Ah, tidak bu. Saya hanya ingin tahu siapa saja yang berangkat meski saat hujan deras seperti sekarang" jawab Lucky.


"Mulai kapan kamu peduli dengan hal-hal yang tak berguna seperti itu?" kata bu Ketua.


"Menurutku itu berguna. Bukankah tidak jauh dari memandang situasi sekitar?" kata Lucky berdalih dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Iya sudah terserah" kata Bu ketua dengan berjalan masuk ke ruang kantor melewati Lucky yang berdiri di samping pintu.


"Milanie tidak ada, pasti Dia kesulitan berangkat" batin Lucky.


Setelah itu Lucky berjalan kembali ke ruangannya. Ruangan yang dulu hanya dia singgahi hanya sekali dalam seminggu.


Namun kini ruangan itu seperti rumahnya akhir-akhir ini.


...****************...

__ADS_1


Tok, tok, tok!!


Tak lama setelah hujan reda di tengah hari. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Tepat saat Aku sedang tidur siang.


Mendengar ketukan pintu yang berkali-kali membuatku bangun dari lelap tidurku.


Aku berjalan menuju pintu dengan perasaan senang. Berfikir jika Zaidan Suamiku telah pulang dari luar kota.


Saat Aku membuka pintu.


Ternyata dugaanku salah.


Dia adalah mertuaku yang datang.


Dengan membawa bawang merah seikat.


"Oh, Ibu. Silahkan masuk bu!" kataku.


Ibu mertuaku masuk berjalan ke dalam. Dengan melihat sekitar rumahku.


Dia lalu memberikan bawang merah seikat itu padaku.


Lalu berjalan ke belakang rumah menuju dapur. Melihat ke sana dan ke sini.


Tak lama pandangan itu terpaku dalam satu sudut.


Tepatnya sudut baju cucian.


"Ini cucian sudah berapa hari di situ?" kata Ibu mertua.


Namanya saja masih punya anak kecil dan bekerja. Tentu saja dalam segi kekuatan Aku sudah lelah. Jika ditambah mengurus rumah dengan sangat rinci dan teliti.


Kekuatan mana lagi yang akan Aku pakai? Semua sudah terkuras untuk lembur mengasuh anak dan bekerja mencari uang.


"7 Hari Ibu" jawabku.


Aku hanya diam. Mendengar perkataan Orang tua seperti itu sebenarnya ingin sekali menjawab bla, bla, bla, dan bla, bla, bla.


Tapi Aku memilih diam karena Dia adalah orang tua Suamiku sendiri. Orang yang perlu Aku hormati.


"Gimana sih, jadi perempuan kok jorok banget" sindir mertua.


"Gimana kalo Suamimu nanti melirik wanita lain? Baru rasa Kamu" kata Ibu mertua.


"Yah kalo melirik ya udah, Milanie juga nggak maksa" lirihku.


"Apa katamu?" tanya Ibu mertua.


"Tidak apa-apa Ibu" jawabku dengan tersenyum paksa.


"Mana Graha?" tanya Ibu mertua.


"Dia di kamar bu tidur" jawabku.


Tak lama Ibu mertuaku menengok Graha ke kamar. Tak lupa juga diikuti melihat isi sekitar kamar.


Aku tahu betul keadaan di dalam almariku. Bajuku berantakan karena lipatan yang tak rapi. Akibat dari tarikan saat mengambil baju yang berada di tengah tumpukan lipatan.


"Semoga saja tidak membuka Almari" batinku.


Tak disangka Ibu mertuaku hanya menengok Graha, lalu pamit pulang setelah itu.


"Hah,,, Pisah rumah saja masih dapat omelan. Bagaimana jika satu atap. Pasti akan lebih parah" gumamku.


Terkadang, wanita lebih suka memilih menyendiri. Dengan alasan takut mendengar kata-kata yang tidak diperlukan untuk didengar. Dan pastinya, untuk menjaga kewarasan jiwanya.


Suasana rumah terasa sunyi. Terlihat Graha sangat tertidur pulas. Tanpa merasa bersalah, Graha berpindah-pindah ke segala arah bagai jam yang memutari lingkarannya.


Dalam kesempatan ini, Aku harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untuk bersih-bersih, mencuci dan yang terpenting melipat baju jemuran yang berhasil jadi sindiran Ibu mertua.

__ADS_1


Meski kadang rasa malas merayuku dengan penuh pesona. Sebagai seorang Ibu dan istri. Waktu untuk bersantai menjadi sangat sedikit. Bahkan jarang juga jika waktu itu ada.


Setelah menyandang status gelar seorang istri. Seorang perempuan harus benar-benar mandiri.


Karena tidak ada Suami yang bisa menggantikan peran sebagai orang tua istri sendiri.


Bahkan kadang justru isinya penuh dengan tuntutan.


...****************...


Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore.


"Hahhh,,, akhirnya selesai" gumamku dengan merebahkan punggungku di atas sofa.


Di dalam rumah yang pintunya Aku tutup rapat.


Aku lelah di balik atap-atap yang tak kasat mata dari manusia lainnya.


Membuat kadang lelahnya seorang perempuan tidak pernah dihargai. Padahal, lelah seorang Istri tidak digaji.


Tok, tok, tok!!


Tak lama pintu rumah ada yang mengetuk.


Aku berjalan dan membukanya dengan keadaan yang masih kucel.


Saat Aku buka pintunya, tak kusangka Dia adalah Zaidan.


"Kamu sudah pulang Yah?" tanyaku.


"Ya" jawabnya singkat.


Dengan mata yang hanya lewat sebentar melihatku.


Akhirnya Aku segera mandi. Tak lama Graha bangun.


Belum sempat berdandan. Aku harus segera memandikan Graha sebelum kelewat maghrib.


Sebelum mandi pun, Graha masih rewel dan tak mau mandi.


Dia berlari kesana-kemari karena tidak mau mandi.


"Graha ayo mandi nak, sudah sore. Bunda capek nak kalo lari-lari" kataku.


Tanpa mengerti rengekan ku Graha tetap berlarian kesana-kemari tanpa rasa bersalah.


"Ayah, Graha yah. Dia nggak mau mandi itu" kataku.


Tanpa jawaban Zaidan hanya merebahkan badannya di ranjang.


"Yah" panggilku.


"Ya gimana kamu ngurusnya? Kenapa merengek padaku?" jawab Zaidan.


"Iya coba saja barangkali kalo sama kamu mau" kataku.


"Aku itu baru pulang dari luar kota nda. Pulang-pulang Kamu suruh-suruh. Aku capek. Pengertian dikit lah" kata Zaidan.


"Kamu capek? Kamu pikir selama ini Aku tidak capek? Mengurus Graha, masih bekerja lalu juga mengurus rumah? Aku memang tidak ke luar kota. Tapi menghandle 3 pekerjaan sekaligus di satu punggung itu lebih capek yah" jawabku.


"Ya sudah, tinggalin pekerjaanmu. Resign saja biar tidak capek" kata Zaidan.


"Resign? Dari banyaknya Instansi hanya tempatku bekerja yang mau menerimaku meski sudah punya anak. Dengan mudahnya Kamu menyuruhku resign? Lalu bagaimana dengan orang tuaku yang telah menyekolahkanku selama 14 tahun? Hanya untuk menjadi pembantumu hingga Aku tua?" jawabku.


Seketika mata Zaidan membulat dan menatapku tajam.


"Kau!" kata Zaidan dengan menahan amarah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2