Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 13: Berusaha Bangkit Bersama


__ADS_3

Semua orang saling berjabat tangan kepada Bu Putri dan mengucapkan selamat kepadanya.


Beda dengan keadaan Zaidan. Tidak seorang pun yang ingin mengucapkan selamat kepadanya.


Zaidan tetap duduk di mejanya. Dan fokus memperhatikan laki-laki yang bernama Angga itu. Zaidan memastikan lagi, bahwa Dia benar-benar seperti Niko. Yang berbeda hanya cara berpakaiannya saja.


Tak lama, Angga menghampiri Zaidan di tempat duduknya. Dan menyapa Zaidan.


"Halo Pak Zaidan, lama tidak bertemu" kata Angga.


Zaidan merasa aneh dengan kalimat yang dilontarkan oleh Angga. Jelas-jelas jika sebagai Angga ini pertama kalinya Mereka bertemu. Tapi kenapa Angga berkata demikian.


"Oh, maksudnya. Salam kenal Pak Zaidan. Saya adalah orang yang sangat ingin bertemu dengan Pak Zaidan" kata Angga.


"Kenapa Anda sangat ingin bertemu dengan Saya?" kata Zaidan.


"Karena Aku ingin menyaksikkan kejatuhanmu Zaidan" batin Angga.


"Saya mendengar Anda adalah Manager yang paling mahir dari pekerjaan. Terutama dalam bidang Eksterior" kata Angga.


"Tidak juga" jawab Zaidan.


"Hem,,, Saya hanya melakukan karena itu tugas Saya. Dan mulai bulan depan Pak Angga yang akan menggantikan Saya. Saya berharap Pak Angga bisa melakukan lebih baik dari Saya" kata Zaidan.


"Tentu, akan Saya lakukan dengan yang terbaik" kata Angga.


"Tapi, Saya lihat. Pak Angga ini sangat mirip dengan seseorang" kata Zaidan.


"Siapa?" tanya Angga.


"Dia bernama Niko. Tapi, Dia telah dipidana. Tidak mungkin jika Dia adalah anda" kata Zaidan.


"Benar. Karena Niko sekarang telah menjadi Angga" batin Angga.


"Ada yang bilang, setiap orang memiliki 7 orang yang mirip di muka bumi ini. Mungkin Dia salah satu orang yang mirip denganku Pak Zaidan" kata Angga dengan tatapan tajam kepada Zaidan.


"Iya mungkin saja" kata Zaidan.


Karena Zaidan merasa sangat asing dan tak nyaman di acara tersebut. Zaidan telah merasa cukup. Kemudian Dia pamit untuk pulang duluan.


"Saya pulang dulu. Nikmatilah pestanya" kata Zaidan.


"Iya, Saya sangat menikmatinya Pak Zaidan" kata Angga.


"Dan melihatmu jatuh seperti ini. Membuatku merasa puas Zaidan" batin Angga.


Zaidan segera pulang dan berfikir kembali.

__ADS_1


Bagaimana mungkin orang yang pernah dipidana memiliki ijazah dari Universitas Indonesia program Internasional.


"Ini tidak mungkin. Tapi, kenapa Angga sangat persis seperti Niko?" pikir Zaidan.


"Ah sudahlah. Tidak mungkin jika Niko adalah Angga" gumam Zaidan dengan menyetir mobilnya menuju pulang.


"Sayang, Kamu sudah pulang?" kataku yang sedari tadi menunggu kedatangan Zaidan.


"Iya" jawab Zaidan singkat.


Tidak lama Zaidan meletakkan tas kerjanya. Lalu menggengam kedua tanganku saat duduk di sofa ruang tamu.


"Milanie, ada yang perlu Aku bicarakan padamu" kata Zaidan.


"Iya, ada apa?" kataku.


"Hari ini, Aku telah dipecat oleh Pak Mahardika. Tapi, Aku akan tetap berusaha untuk mencari cara agar Kamu dan Graha tetap tercukupi" kata Zaidan.


"Aku tidak tahu kenapa semua menjadi seperti ini. Aku memang menggunakan dana dari uang pembayaran cicilan pelanggan. Tapi, Aku sungguh-sungguh akan mengembalikannya minggu depan. Tapi, entah siapa yang melaporkan hal ini kepada Pak Mahardika. Informasi penggelapan dana itu terdengar saat Aku belum sempat mengembalikan dananya. Aku benar-benar tidak bermaksud" kata Zaidan menjelaskan.


"Sudah Sayang. Aku mengenalmu. Kamu bukan orang yang seperti itu" kataku.


"Sudah Aku bilang. Rezeki sudah ada yang mengatur. Mungkin, ini memang sudah takarannya" kataku.


"Maafkan Aku sayang. Aku merasa menjadi orang yang egois. Telah mengikatmu tapi tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu" kata Zaidan.


Zaidan menggenggam erat kedua tanganku. Lalu menarik ku dan mendekap ku erat-erat. Saat ini, Suamiku benar-benar membutuhkan orang yang bisa menyuportnya.


"Ayo kita bangun bersama-sama" kataku.


"Bagaimana caranya?" kata Zaidan.


"Aku akan bekerja untuk kebutuhan. Sedangkan Kamu fokus untuk membangunkan PT. Maju Terus" kataku.


"Tidak, tidak, nafkah adalah tanggung jawabku bukan Kamu Milanie" kata Zaidan.


"Aku suka bekerja kok. Saat Aku bekerja, Aku bisa mendapatkan teman, Aku juga memilki tempat untuk pengalihan. Dibandingkan di rumah. Aku merasa kesepian dan jenuh. Graha juga sudah semakin besar. Dia sudah mulai mengerti dan tidak perlu Asi lagi" kataku.


"Selama Aku bekerja, Kamu bisa membawa Graha ke PT. Maju Terus. Kita berjalan bersama ya? Aku tidak apa-apa bekerja" kataku.


Zaidan terdiam. Seperti Dia berfikir sejenak. Tentang rencana yang Aku tawarkan.


"Aku sangat kantuk. Aku tidur dulu ya" kata Zaidan.


"Baiklah" kataku.


Zaidan tertidur. Ekonomi yang saat ini merosot telah mampu membuat kepalanya pusing dan menguras seluruh tenaganya.

__ADS_1


Walau demikian, ada sebuah ketenangan yang didapati oleh Zaidan setelah mendengar perkataanku. Yang tidak menyalahkan atau menghinanya. Membuat Zaidan semakin ingin bangkit dan memberikan yang terbaik untukku.


"Aku akan berusaha memajukan PT. Maju Terus. Hanya ini yang bisa Aku harapkan" gunam Zaidan.


...****************...


Seketika itu, Aku sering menitipkan Graha kepada Ibuku. Aku memulai untuk mencari pekerjaan lagi.


Karena melihat pengalamanku yang bekerja sebagai admin. Membuat Aku sedikit mudah untuk mendapatkan peluang pekerjaan lagi.


Namun, karena telah beberapa tahun saat berhenti bekerja. Membuat mentalku tidak sekuat dulu. Dan Aku harus membangun mental itu dari mulai awal lagi.


"Oke Milanie, semangat!" kataku.


Aku sengaja menyembunyikan identitasku sebagai istri dari Zaidan. Jika Mereka tahu, tentu Mereka tidak akan percaya bahwa seorang istri CEO masih bingung mencari pekerjaan.


Karena dipandangan Mereka, ekonomi seorang CEO selalu membaik. Tapi, tidak ada yang tahu jika semua ada masa surutnya.


Dan suatu rejeki untukku diterima di sebuah Toko Elektronik.


Mereka memang sedang membutuhkan seorang Karyawati. Untuk melayani kepada pembeli.


Gajinya standard, tapi ini cukup untuk makan dan diberikan kepada Ibu yang mau merawat Graha.


Aku mulai bekerja di sana.


Selama Aku bekerja, adakalanya Ibuku ada acara. Membuat Dia tidak bisa menjaga Graha. Sedangkan Zaidan juga masih fokus untuk membenahi penjualan Intansinya. Akhirnya dengan terpaksa Zaidan menyarankan untuk dititipkan kepada Ibunya.


Dalam batinku sedikit berat. Tentu Aku yang hanya menantunya sungkan untuk meminta tolong hal ini padanya.


Tapi Zaidan tetap berbicara tidak masalah.


Akhirnya Aku menurut dengan keputusannya.


Dan saat Kami menitipkan Graha padanya. Firasatku benar. Ibu Zaidan merasa keberatan.


"Kamu itu Ibu dari anak Kamu. Sampai kapan Kamu akan bekerja seperti ini?" kata Ibu mertua.


Dimata Ibu Zaidan. Zaidan masih bekerja di Pak Mahardika dengan gaji yang rumayan dan masih mendapati pemasukan dari Instansinya.


Apalagi melihat Zaidan yang memang jarang di rumah karena fokus di lapangan penjualan.


Lagi-lagi Aku yang salah di mata Ibu mertuaku.


Yang Aku lakukan hanyalah diam.


"Biar saja waktu yang akan menjawab pertanyaan itu" batinku.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2