Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 33: Tangan Perdamaian


__ADS_3

Setelah beberapa kali Sekretaris Pak Mahardika mengajukan pertemuan dengan Zaidan, akhirnya Zaidan menyetujui pertemuan itu. Dan hari ini Mereka saling bertemu di ruangan Pak Mahardika.


Sedangkan Aliya diperintahkan oleh bu ketua untuk pergi ke kantor Pak Mahardika. Untuk melaporkan data perusahaan. Karena kebetulan kantor tempat ku bekerja ini adalah salah satu cabang dari Kantor milik Pak Mahardika.


"Permisi mbak, Saya Aliya dari Cv. Terpadu cabang kantor Pak mahardika. Hari ini Saya membawa laporan kantor. Bisakah Saya izin bertemu dengan beliau?" kata Aliya kepada Sekretaris yang selalu siap dan duduk di depan ruangan Pak Mahardika.


"Hari ini Pak Mahardika masih ada Meeting. Silahkan ditunggu di sana mbak" kata Sekretaris mempersilahkan Aliya duduk di ruang tunggu yang berada di sisi jalan menuju ruang Pak Mahardika.


"Kira-kira berapa lama?" tanya Aliya.


"Untuk itu Saya tidak bisa memastikan mbak" jawab Sekretaris Pak Mahardika.


"Baiklah" kata Aliya.


"Melihat bagaimana Sekretaris tidak berani mengganggu meeting Pak Mahardika. Sepertinya Dia tamu yang penting" batin Aliya.


...****************...


"Orang yang dulu menolak proposal dan memecatku. Sekarang memanggilku hingga berkali-kali. Jika tidak mengingat bagaimana jasanya kepada Ayahku dulu. Mungkin Aku menolak undangannya mentah-mentah" batin Zaidan.


Zaidan duduk bersama Dimas di depan Pak Mahardika.


"Kalian memang setia satu sama lain ya? Dari dulu hingga sekarang selalu bersama-sama" kata Pak Mahardika salut dengan keeratan Zaidan dan Dimas.


"Karena ada kepercayaan diantara Kami Pak. Dan Kami selalu saling bahu membahu satu sama lain. Meski saat ada seseorang yang lebih menarik datang di tengah-tengah Kami" kata Zaidan.


Deg!


Pak Mahardika mengerti benar maksud dari ucapan yang dilontarkan Zaidan. Mengingat bagaimana Dia memperlakukannya saat ada sosok Angga yang terlihat lebih unggul.


"Zaidan, Saya mengundangmu khusus untuk menawarkan perdamaian. Mari Kita lupakan masa lalu yang tidak enak sekali diingat. Dan mulai berjalan ke depan" kata Pak Mahardika.


Tentu saja meski hati Zaidan masih sulit memaafkan, Tapi Zaidan harus menunjukkan sikap profesionalnya di hadapan orang yang berada di depannya itu.


"Kita to the poin saja. Apa tujuan Anda mengundang Saya?" tanya Zaidan.


"Ha, ha, ha, ha. Ayolah Zaidan. Kita sudah lama tidak bertemu. Kenapa Kamu sangat kaku?" kata Pak Mahardika.


"Lebih baik kaku di depan. Daripada pintar bersilat lidah kan?" jawab Zaidan.


"Baiklah. Saya ingin mengatakan bahwa Angga itu ternyata bukanlah orang baik. Dia memalsukan data pribadinya dan berhasil menipuku. Aku sangat terkejut dan menyesal tidak mempercayaimu dulu" kata Pak Mahardika.


"Lalu, expresi apa yang harus Saya pakai sekarang?" jawab Zaidan.


"Expresi? Apa maksudmu Zaidan. Begitu bencikah Kamu terhadap sikapku dulu?" kata Pak Mahardika.


"Saya banyak jadwal, bisakah kita persingkat pertemuan ini?" kata Zaidan.


"Ha, ha, ha, padahal Saya ingin mengulurkan tangan perdamaian. Memang benar, kekuasaan dan uang menjadikan orang bisa tamak. Cih! Tak kusangka Kamu seperti Ayahmu" kata Pak Mahardika.


"Jangan pernah menghina Ayahku!" peringatan Zaidan.


"Seperti yang Anda bilang. Kekuasaan dan uang dapat membuat orang tamak. Seingatku, perkataan adalah cerminan dari diri orang itu sendiri" jawab Zaidan.


"Kamu keterlaluan Zaidan" kata Pak Mahardika dengan mengepalkan kedua tangannya geram.


"Lupa atas jasaku pada hidup keluargamu" tambah Pak Mahardika.


"Sepertinya Saya masih ada jadwal. Saya permisi dulu Pak" kata Zaidan.


"Orang yang dulu sangat Aku hormati. Kini menjadi musuh karena insiden keberadaan Angga." batin Zaidan.

__ADS_1


"Awalnya dengan istriku, sekarang dengan orang yang Aku hormati" batin Zaidan.


"Sudah ada tembok diantara Kami yang menjulang setinggi-tingginya" batin Zaidan.


"Grrrtttt! Sial!" Batin Zaidan.


...****************...


Zaidan keluar dengan rasa kecewa yang sungguh besar. Namun Zaidan masih berusaha untuk menutupinya.


Zaidan melangkah keluar dari ruangan Pak Mahardika.


Tanpa menghiraukan ada Aliya yang sedang duduk menunggu giliran untuk masuk.


Aliya memandang Zaidan terpana akan pesona ketampanannya.


"Tampan sekali" batin Aliya melihat Zaidan berjalan keluar.


"Haaaaaaaahhhh!" emosi Pak Mahardika.


"Sialan!" gumam Pak Mahardika.


Buuuukkk!!!


Aliya mencoba untuk masuk. Tak sengaja Dia mendengar kekesalan Pak Mahardika di dalamnya.


"Apa yang terjadi diantara Mereka berdua?" batin Aliya.


Awalnya Aliya ragu-ragu hendak masuk ke ruangan. Tapi mengingat Dia sudah jauh kesana dan menunggu lama.


Jika langsung pulang, usahanya akan sia-sia.


"Permisi Pak" kata Aliya.


"Masuk!" kata Pak Mahardika.


"Maaf Pak, Saya dari CV. Terpadu. Hendak mengantarkan laporan keuangan kepada Pak Mahardika" kata Aliya.


"Taruh di meja" jawab Pak Mahardika.


"Baik Pak" kata Aliya kemudian menaruh laporan di meja.


"Kalau begitu, Saya permisi" kata Aliya.


" Iya" kata Pak Mahardika.


Deg, deg, deg,


Awalnya jantung Aliya mau copot melihat suasana yang tegang tadi.


Tapi karena Pak Mahardika selama ini orang yang profesional jadi Dia tidak akan melampiaskan emosinya di sembarang tempat.


Melihat sekarang jam makan siang.


Aliya memutuskan untuk makan dulu di kantin Pak Mahardika.


Kebetulan Zaidan juga tengah makan bersama Dimas di sana.


Dan Aliya melihatnya.


"Itu kan orang tampan yang berhasil membuat Pak Mahardika kesal. Tapi siapa Dia? Hingga berhasil membuat seorang pimpinan yang besar kesal kepadanya. Berani sekali" batin Aliya.

__ADS_1


"Tuan, bukankah emosi Tuan sedang tidak stabil? Kenapa Kita masih makan di tempat ini?" kata Dimas.


"Dimas, banyak kenanganku di tempat ini. Aku masih merindukannya" kata Zaidan.


"Saya benar-benar bingung. Jelas-jelas Tuan tadi sangat membenci Pak Mahardika. Tapi kenapa sekarang Tuan bilang rindu?" kata Dimas.


"Menurutmu, apa saya benar-benar benci tadi?" kata Zaidan.


"Iya" kata Dimas.


Dimas berfikir sebentar.


"Eh, tunggu. Jangan bilang Tuan hanya acting?" kata Dimas.


"Aku hanya menggertaknya agar tidak melakukan kesalahan lagi. Agar Dia sadar, seseorang yang setia itu lebih baik dari emas permata" kata Zaidan.


"Hingga saatnya tiba, Aku akan mengulurkan tangan perdamaian" kata Zaidan.


"Apa gunanya bermusuhan dengan seseorang. Kecuali orang itu memang pantas dibenci" kata Zaidan.


"Saya benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Tuan akhir-akhir ini" kata Dimas.


"Jangan berceloteh. Makan saja" kata Zaidan.


Drrrrttttt, drrrtttt,


Zaidan mengangkat televon yang masuk di ponselnya.


"Hallo Tuan!" (suara perempuan)


"Ada apa?" jawab Zaidan.


"Bisakah Anda membantu Saya sekarang? Saya tidak tahu meminta tolong kepada siapa lagi. Hanya Tuan yang bisa menolong Saya saat ini" (Suara perempuan)


"Apa yang bisa Saya bantu?" tanya Zaidan.


"Saya minta tolong datanglah kemari Tuan. Akan Saya share lokasi kepada Anda" (Suara perempuan)


Tiiiit!


Televon itu tertutup.


Tak lama ada pesan masuk dan share lokasi di ponsel Zaidan.


"Saya sangat berharap kedatangan Tuan. Ini sangat darurat" pesan dari perempuan itu.


"Dimas" kata Zaidan.


"Iya Tuan" jawab Dimas.


"Kamu habiskan makanannya. Saya ada urusan mendadak. Nanti Kamu pulang pakai taxi seperti biasanya" kata Zaidan.


Segera Zaidan menghilang dari pandangan Dimas.


"Astaga lagi-lagi!" gumam Dimas kesal.


"Apa perlu Aku mengundurkan diri saja ya!" -_- gumam Dimas.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2