
"Jika perilaku Zaidan seperti ini padaku. Apakah Ibunya mengetahuinya? Tentu saja tidak" gumamku.
"Yang ada dipandangan Ibunya, jelas Aku yang merebut Zaidan dari rangkulannya" gumamku.
"Hah... padahal memang lebih ringan semua hasil dari tangan sendiri. Daripada menerima" gumamku.
Menerima lebih sulit daripada uang hasil sendiri. Saat menerima uang dari suami, pasti ada sesuatu yang akan di minta dari yang Kita miliki. Sebuah tuntutan, Kepatuhan, bisa juga seluruh hidup dan waktu Kita.
"Tapi,,," gumamku sesekali melirik ke arah Graha.
"Dia masih sangat kecil untuk menerima kenyataan tidak memiliki orang tua yang lengkap" gumamku.
"Jika Aku kembali, Aku akan masuk pada ikatan itu lagi" gumamku.
"Tapi, apa salahnya memberi Zaidan kesempatan. Jika Zaidan tetap tidak mau mendengarku. Aku bisa kembali lagi ke orang tuaku" pikirku.
Bagaimanapun, istana yang paling nyaman dari seorang perempuan adalah orang tuanya.
Pada akhirnya, Aku memutuskan untuk memberi kesempatan dan kembali menjadi istri Zaidan. Dan rela melepaskan karir dan mimpiku. Kembali menjadi seorang istri sebagai pondasi keluarga. Kembali menjadi seorang Ibu dan Istri di rumah. Karena sadar, jika inilah yang paling dibutuhkan oleh Graha. Lagi-lagi pilihanku adalah Demi anak.
"Mungkin ini pilihan yang terbaik" gumamku.
"Tesss!!"
Seketika air mataku jatuh. Setelah menikah, sulit sekali seorang perempuan untuk bisa menjadi dirinya sendiri. Karena Dia dituntut untuk patuh kepada Suaminya.
Kebebasan hidupnya akan terikat. Karena tuntutan atas kewajibannya sebagai Ibu dan Istri.
Karena kebebasan hidup yang terikat ini. Sesekali Istri berbelanja. Berjalan-jalan keluar menghirup udara segar. Karena ini adalah salah satu cara untuk menghibur dirinya sendiri. Dari rasa kesepian, Jenuh, dan lelah. Yang setiap hari mengerjakan pekerjaan monoton dan tidak ada habisnya.
"Baiklah. Aku melakukannya Karena Ibadah. Dan harus dengan bahagia melakukannya. Meski kenyataan tidak sesuai harapan. Harus bisa bersyukur dan menerima" batinku.
Aku berjalan kembali ke kamar. Saat Aku membuka pintu kamarku pelan. Terlihat Zaidan sedang duduk menunggu keputusanku.
"Milanie!" kata Zaidan.
"Apakah Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi?" kataku.
Zaidan mengangguk dengan mantap.
"Iya" kata Zaidan.
"Ayo Kita memulai semua dari awal" kata Zaidan.
"Benarkah Kita akan mengontrak rumah?" kataku.
"Iya, jika itu bisa membuatmu nyaman. Tapi, dengan itu Kamu berhentilah bekerja. Kamu hanya perlu mengurus Graha. Cukup Aku saja yang mencari nafkah" kata Zaidan.
"Baiklah. Mari kita perbaiki dimulai dari itu" kataku.
"Benarkah?" kata Zaidan senang.
Zaidan segera memelukku dengan erat setelah mendengar jawabanku.
__ADS_1
"Lepas! Aku memilih keputusan ini demi Graha. Bukan karena ingin kembali denganmu" kataku.
"Tetap saja Aku sangat senang Milanie" kata Zaidan.
"Terimakasih Sayang" kata Zaidan.
"Aku berjanji akan berubah" kata Zaidan.
"Aku pegang janjimu Zaidan. Jika suatu saat Kamu lupa dengan perkataanmu sendiri. Kembalikan saja Aku kepada orang tuaku" kataku.
Zaidan memelukku kembali. Tanpa peduli Aku menepisnya. Dia tetap memelukku dengan erat.
Karena kekuatan Zaidan 2X lipat lebih besar dariku. Membuatku tidak berkutik lagi untuk bergerak. Membuatku terkunci dalam dekapannya. Dan yang Aku rasakan dalam rangkulannya adalah.
"Nyaman" batinku.
"Nyaman dan hangat" batinku.
Hatiku merasa sangat tenang dalam dekapan itu. Merasa terisi dan bahagia.
Seketika suasana membaik. Emosiku juga sudah tenang.
"Boleh Aku menjelaskan sesuatu Zaidan?" kataku.
"Apa?" kata Zaidan.
"Sesungguhnya yang dirasakan oleh istri adalah sikap dari Suaminya. Bagaimana Dia menyikapi dan menghargai Istrinya. Itu saja" kataku.
Tak lama Aku teringat Graha sedang di luar.
"Hem,,," jawab Zaidan.
"Lepaskan Aku Zaidan" kataku.
"Tidak mau" kata Zaidan.
"Zaidan, Graha masih di luar" jelasku.
"Sebentar lagi" kata Zaidan dengan tetap memelukku dengan erat.
Beberapa menit, saat Zaidan hendak melepas rangkulannya. Tak lupa Zaidan mengecup keningku dengan lembut.
"Cup"
"Apa'an sih" kataku.
Segera Aku menepis Zaidan dan pergi untuk melihat Graha di luar.
Ternyata Graha telah tertidur di lantai.
Dengan berhati-hati, Aku mengangkatnya. Dan memindahkannya ke kamar.
Dengan gesit Zaidan menyiapkan tempat untuk Graha tidur.
__ADS_1
Aku terbelalak dengan sikap Zaidan yang berubah sangat peduli. Sikap kepedulian ini walau sederhana. Tapi melihat rasa pedulinya yang mulai terbuka. Aku merasa sangat senang. Seperti telah memiliki pasangan partner yang saling support. Saling bekerja sama dan bahu membahu. Inilah yang dapat membuat keluarga lebih harmonis.
"Kamu Ayah yang baik" kataku bentuk apresiasiku dengan sikap Zaidan yang peduli.
Kami saling tersenyum satu sama lain.
Dalam sekejab, coba'an-coba'an yang pernah mengiris hati dulu. Seketika lupa dan hanya bahagia yang Aku rasakan saat itu.
...****************...
"Mas, berasnya habis!" kataku.
"Mana uangnya, biar Aku belikan" kata Zaidan.
"Ini Mas" kataku dengan memberikan uang untuk membeli beras.
Sudah sejak 2 tahun Kami telah memutuskan untuk mengontrak. Walau Zaidan seorang CEO dan Manager, Saat itu ekonomi Kami sedang berjalan tidak mulus. Gaji dari Manager Zaidan harus digunakan untuk menutupi kerugian perusahaannya saat ini. Karena ada oknum yang sengaja menjatuhkan nama baik perusahaan Zaidan. Dan saat ini nama Zaidan buruk di depan publik. Tentu saja ini juga berimbas pada bagaimana pandangan Pak Mahardika kepada Zaidan.
Saat ini, coba'an yang menimpa Kami adalah ekonomi.
"Sayang, Aku minta maaf. Aku masih belum bisa membahagiakanmu" kata Zaidan.
"Iya tidak masalah Mas. Rejeki sudah ada yang mengatur. Apapun keadaanmu, Aku akan ada di sampingmu. Asal Kamu bisa menghargaiku sebagai Istrimu. Sikapmu yang lembut dan pengertian padaku. Itu sudah lebih dari cukup" kataku dengan tersenyum.
Hal yang dibutuhkan seorang laki-laki saat jatuh adalah dukungan. Bukan cacian dan hina'an yang menjatuhkan.
...****************...
"Klotak, klotak, klotak" Terdengar bunyi sepatu di sebuah gedung yang kumuh dan sepi sedang berjalan.
Laki-laki itu berhenti dan berdiri di samping gedung yang menyuguhkan keindahan dari ketinggian Kota.
Dengan menjepit rokok di sebelah tangan kirinya. Laki-laki itu menghisap rokok itu dengan penuh kenikmatan.
Lalu Laki-laki itu mengebulkan asapnya dengan panjang.
"Fyuuuuuhhhh"
"Hem" Dia tersenyum miring merasa puas dengan hasil kerja kerasnya.
"Rasakan Kamu Zaidan. Kamu telah jatuh. Dan sebentar lagi. Aku akan mengisi posisimu di Pak Mahardika" gumam Niko.
Selama 2 tahun semenjak Niko terbebas dari penjara. Dia tidak bisa lupa siapa yang telah memasukkannya ke jeruji besi. Dendam di hatinya sangat membara. Menciptakan tekad Niko untuk menghancurkan Zaidan sangat kuat. Berbagai cara Niko lakukan untuk menjatuhkan Zaidan.
Salah satunya menyebarkan berita Hoax. Niko sengaja membuat Website informasi dengan akun yang sebanyak-banyaknya. Menemui wartawan untuk memberikan kabar yang sengaja Dia buat namun seperti nyata. Tak lupa juga Niko telah merubah segala identitas mulai KTP, ijazah, KK dan pasword. Dengan Nama baru.
Hal ini dilakukannya agar Niko terhindar dari daftar nama pelaku pidana. Dan memulai hidup baru. Menjadi orang baru.
Tapi, rasa benci dan dendamnya kepada Zaidan tidak terelak. Meski Dia sudah bisa hidup menjadi orang baru. Niko tidak bisa melewatkan musuh masa lalunya begitu saja.
Di sisi lain, Karena penangkapan ini. Niko harus meninggalkan Ibunya seorang diri. Ibunya harus mencari uang sendiri atas hidupnya. Selama 4 tahun.
Inilah yang membuat Niko semakin benci kepada Zaidan.
__ADS_1
...----------------...