
Saat Aku pulang dari kerja. Terlihat semua pekerjaan rumah masih berantakan.
Mulai dari cucian baju, jemuran, lantai rumah yang kotor, cucian piring dan belum juga masak.
Melihat keadaan yang demikian, membuat kepalaku semakin pusing. Rasanya badan sudah lelah bekerja, belum lagi mengurus Graha, masih belum beberes rumah. Rasanya semakin remuk badan ini. Harus memikul 3 tugas sekaligus. Yang hanya bisa dirasakan sendiri. Tanpa terlihat orang lain.
Aku berjalan langsung menuju ke kamar dan menghempaskan tas selempang kerjaku.
Lalu merebahkan badanku di atasnya.
Sesekali Aku meluruskan punggungku agar Dia beristirahat. Sudah setiap hari Dia kuat membopong tubuhku dengan segala pekerjaan.
"Hahhhh!!" gumamku.
"Rasanya sungguh nikmat" gumamku.
Aku butuh waktu 15 menit untuk mengistirahatkannya. Mengosongkan fikiran, melemaskan otot yang masih tegang dengan memejamkan mata.
Hingga 15 menit telah berlalu.
"Ayok, semangat Milanie. Siapa lagi kalau bukan Kamu yang mengerjakannya" gumamku untuk menyemangati diri sendiri.
Aku meraih ponsel, lalu menekan galery musik. Lalu Aku putar musik dengan full Volume.
Tak lupa Aku mengganti pakaian kerjaku dengan baju daster berbahan dari kain jersey.
Lalu Aku memulai aksiku untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Meski dalam hati yang terdalam sangatlah malas dan lelah. Tapi, melihat keadaan tidak ada yang bisa diandalkan. Dengan terpaksa harus menyemangati diri sendiri untuk menyelesaikannya.
Boro-boro Zaidan mau membantu. Zaidan di rumah saja tidak betah. Selalu sibuk dalam pekerjaannya.
Aku menyelesaikan pekerjaan rumah berusaha melakukannya dengan senang. Bersama lagu yang saat ini Aku putar dari band Padi yang berjudul Sang Penghibur yang rilis pada tahun 2007.
Membuatku semakin menggugah semangatku. Mengerjakan pekerjaan rumah menari-nari dengan riang gembira bagaikan orang gila. Tapi inilah caraku untuk pelepasan kebebasan emosi.
Semenjak Aku hidup pisah dari orang tua. Aku menjadi bebas mengerjakan rumah pada waktu kapan pun. Apalagi Aku anaknya sih Mut-mutan. Kadang rajin kadang malas. Jadi Aku bisa mengerjakannya saat mut ku pas. Tidak harus merasa sungkan atau dengan rasa terpaksa lagi. Ini membebaskanku dari rasa despresi.
Jadi, meski lelah melihat pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Jika dilakukan saat keadaan yang senang akan terasa lebih ringan.
...****************...
Zaidan dan Putra kini sedang duduk di kursi yang berada di taman dekat air mancur ikan menganga.
Kursi sejarah yang merupakan kesukaan Milanie. Karena alasan di sinilah perkenalan antara Zaidan dan Milanie di mulai.
Namun, sekarang situasi telah berbeda. Zaidan memegang kepala dan memejamkan mata.
__ADS_1
Badannya kali ini tidak bisa tegak seperti sedia kala. Terlihat seperti orang yang lemas dan lunglai.
Putra yang berada di sampingnya menyadari betapa pusingnya Zaidan saat ini.
Melihat CEO perusahaannya demikian. Membuat Putra tidak tega melihatnya. Akhirnya, Putra menyampaikan ide yang ada di kepalanya kepada Zaidan.
"Maaf Pak, bagaimana jika Kita mencari siapa orang yang berani mencemarkan nama Pak Zaidan dengan teganya. Kebetulan Saya memiliki teman yang pernah membobol akun pemerintah. Kemudian Dia pernah dipenjara selama 1 bulan. Tapi, setelah bebas. Dia direkrut untuk menjadi bagian pemerintahan" kata Putra.
"Kenapa Kamu ingin mencari hal itu?" kata Zaidan.
"Karena Saya mengenal Pak Zaidan orangnya baik. Tidak mungkin melakukan demikian" kata Putra.
"Putra, Kamu masih sangat polos. Di luar sana, banyak sekali orang yang bermuka dua. Saat di depan banyak orang, Mereka dapat bersandiwara menjadi seekor kucing. Tapi saat tidak ada orang yang melihat, Mereka bisa saja berubah menjadi serigala. Kamu jangan mudah percaya dengan orang yang tidak sungguh Kamu kenal. Termasuk Saya atasanmu" kata Zaidan.
"Deg"
Perkataan Zaidan benar-benar membuat Putra merasa bingung. Padahal, jika orang yang terlihat jelas-jelas dipercaya olehnya. Kebanyakan dari Mereka akan menggunakan kesempatan untuk memanfaatkan kepercayaannya.
Tapi tidak dengan Zaidan. Zaidan justru menyangkal jika ada orang yang menyebutnya sosok yang baik.
"Daripada mencari orang yang menyebarkan berita itu. Saya lebih fokus pada kemajuan Instansi sekarang" kata Zaidan.
"Semua kenalan Manager Saya telah menolak ajuan Saya. Sekarang, Kita hanya bisa fokus pada pemasaran. Kita mulai keliling di toko-toko yang sedang berkembang. Meski sedikit, yang terpenting penjualan tetap jalan" kata Zaidan.
Putra mendengarkan perkataan Zaidan dan menatapnya. Di hadapan Putra, terlihat banyak air keringat yang merata di dahi dan rambut depan Zaidan. Beberapa juga menetes.
"Baik Pak" kata Putra.
"Kamu sudah selesai istirahatnya?" tanya Zaidan.
"Ini sudah cukup Pak. Kita berangkat mulai dari mana dulu Pak?" tanya Putra.
"Di samping kananmu" kata Zaidan.
Putra menoleh ke kanan Dia duduk. Di sana ada sebuah kafe.
"Bukankah itu kafe? Apa kita makan dulu Pak?" tanya Putra.
"Tentu saja menawarkan barang Kita. Dan Kamu yang melakukannya" kata Zaidan.
"Owh, Baik Pak" jawab Putra sedikit ragu.
"Jangan ragu, cari bosnya. Buat percakapan hingga kalian akrab. Kemudian baru Kamu tawarkan barang Kita" kata Zaidan.
"Baik Pak" kata Putra.
"Saya tunggu di sini!" kata Zaidan.
__ADS_1
"Astaga, katanya tadi mau berkeliling di toko. Tapi kenapa perintahnya jadi di kafe" gumam Putra dengan berjalan menjauh dari Zaidan.
Meski tempat yang diperintahkan oleh Zaidan sangat tidak memungkinkan untuk tempat penjualan. Tapi Putra tetap melakukan perintahnya Zaidan. Sebagai wujud karyawan yang baik dan penurut.
Sebelum bertindak, Putra mengumpulkan keberanian dan rasa percaya dirinya terlebih dahulu. Seperti kata Zaidan. Putra membuang rasa ragunya saat itu. Lalu menyapa ramah kepada penghuni kafe.
"Halo, permisi!! Saya dari PT. Maju Terus. Bisakah Saya bertemu dengan pemilik kafe ini?" kata Putra.
Salah satu karyawan di sana merespon baik atas kedatangan Putra.
Dengan segera karyawan kafe itu memanggil bosnya. Yang kebetulan duduk di bagian kasir kafe.
"Ada perlu apa?" tanya bos kafe.
"Perkenalkan Saya dari PT. Maju Terus. Kalo boleh tahu dengan Pak siapa namanya?" tanya Putra.
"Saya Ramdan" kata bos Kafe itu.
"Iya Pak Ramdan. Sudah berapa lama membangun Kafe ini?" tanya Putra berbasa-basi agar hadir rasa akrab antara Mereka berdua.
Mereka saling bercakap-cakap. Dan Putra sedang menjalankan strategi Marketing versi dirinya sendiri saat itu.
Di lain sisi, Badanku merasa sangat payah. Setelah melakukan segala kegiatan pekerjaan rumah. Terpaksa Aku meminta bantuan Zaidan.
Aku menelvon Zaidan sore itu.
"Halo, Mas Zaidan?" kataku.
"Ada apa?" tanya Zaidan.
"Aku sangat capek. Nanti tolong Kamu yang jemput Graha di rumah Ibu ya?" kataku.
"Iya, setelah selesai nanti Aku akan mampir ke sana dan menjemput Graha" kata Zaidan.
"Terimakasih Sayang" kataku.
"Iya" kata Zaidan.
"Hati-hati di jalan" kataku.
"Pasti" kata Zaidan.
"Tiiiittt!!"
Televon itu Aku matikan.
"Hahh,,,, Aku penasaran. Dia akan berhasil atau tidak" gumam Zaidan dengan menoleh ke arah Kafe.
__ADS_1
...----------------...