Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 31: Sindiran perempuan iri


__ADS_3

"Sebenarnya apa sih maumu?" kata Zaidan.


"Kamu di suruh di rumah saja tidak mau. Minta bekerja, sudah bekerja katanya capek. Lalu Kamu ini maunya apa?" kata Zaidan.


"Aku mau menghandle rumah itu dengan bekerja sama. Tidak ada Aku atau Kamu yang harus mengerjakan. Tapi saling mendukung, saling membantu. Jika ada yang luang ya Dia yang ngerjakan. Jangan semua dipangku kan padaku" jawabku.


"Kan Aku pernah bilang, kalo kamu capek ya udah tidak usah diberesin. Gampang kan?" kata Zaidan enteng.


"Bagimu semua ini gampang. Lalu bagaimana dengan Ibumu yang kerap sekali menyindirku?" kataku.


"Ibu? Bukankah tidak ada Ibu di sini?" kata Zaidan.


"Tadi siang Dia kemari dan menyindir cucian baju" jawabku.


"Oh, ya sudah tidak usah didengerin hal seperti itu. Di sindir gitu aja jadi marah-marah nggak jelas" kata Zaidan.


"Andai Zaidan tahu bagaimana perasaanku sebagai perempuan" batinku dengan menahan emosi.


"Sudah, sudah, sini duduk!" kata Zaidan.


"Kamu capek, istirahatlah. Aku yang akan memandikan Graha" kata Zaidan.


Seketika emosiku mereda melihat bagaimana sikap Zaidan setelah bertengkar.


Semakin lama, Zaidan semakin dewasa tentang menyikapi emosi perempuan. Dia mau mengalah dan pengertian.


Aku tidak ingin menutupi kenyataan bahwa Aku merasa senang melihatnya.


Zaidan mau mendengar rengekkanku. Walau awalnya Dia sempat emosi.


Akhirnya Zaidanlah yang turun tangan untuk memandikan Graha.


Sedangkan Aku teringat bahwa belum ada masakan untuk makan malam.


Yang tadinya berniat istirahat sebentar. Kenyataan tidak mengizinkan untuk beristirahat. Terpaksa harus bangun dan memasak di dapur untuk makan malam.


...****************...


Pria yang tingginya masuk kategori standart. Dengan tas yang melingkar di kedua bahunya.


Kini sedang berjalan menuju pintu keluar.


Suasana yang basah menyelimuti sekitar. Membuat aura tanah segar dan dingin. Diiringi awan yang mendung.


Kaki yang memakai sepatu fantofel pria. Melangkah jalanan yang basah karena hujan tadi pagi.


Tak lama ada seorang wanita yang mengikutinya dari belakang.


"Kak Lucky" panggilnya.


Seketika langkah kaki yang panjang itu terhenti dan berputar menghadap belakang.


Ternyata yang memanggilnya adalah Aniya. Salah satu karyawati yang dari dulu terkagum-kagum pada Lucky.


"Iya?" jawab Lucky.


"Bolehkah Saya berjalan bersama dengan kak Lucky?" kata Aniya.


"Iya" jawab Lucky cuek dengan menundukkan pandangan.


Lucky melanjutkan langkahnya yang terlihat sangat cool tanpa banyak bicara.


Melihat cara berjalannya saja membuat hati Aniya klepek-klepek. Karena aura Lucky memang terpancar dari sifat dinginnya namun baik.

__ADS_1


Hanya langkah kaki yang terdengar dari keduanya.


"Kak, Saya lihat Kak lucky akhir-akhir ini jadi sering datang ke kantor. Apakah pekerjaan Kak Lucky sebanyak itu hingga tidak kunjung habis?" tanya Aniya membuka obrolan.


"Iya" jawab Lucky berdalih.


Padahal, di lubuk hati yang paling dalam Lucky. Alasan Dia sering masuk kantor karena ingin bertemu dengan Milanie.


Meski hanya memandang, baginya itu sudah cukup menyenangkan dirinya.


"Em,, mungkin kak Lucky jika butuh bantuan Saya bersedia untuk membantu Kak Lucky" kata Aniya.


"Terimakasih untuk tawarannya. Tapi tidak perlu repot-repot" kata Lucky.


"Tidak repot kok kak. Justru Saya senang bisa membantu orang lain" kata Aniya dengan mata yang berbinar-binar.


"Nanti jika Saya kualahan Saya akan meminta bantuanmu" kata Kak Lucky.


"Oke Siap. Aniya bersedia untuk kak Lucky" kata Aniya kegirangan.


Dengan temperamennya yang cuek, Lucky langsung berjalan belok menuju motornya di parkiran. Tanpa memberi salam perpisahan kepada Aniya.


...****************...


Hari esok, cuaca bersinar tanpa gerimis.


Hari ini Aku akan berangkat bekerja. Setelah menitipkan Graha pada Ibuku.


Saat hendak datang ke rumah. Ternyata Ibuku ada jadwal lain. Menyebabkan Dia tidak bisa mengurus Graha.


Sudah berkali-kali Aku bilang pada Zaidan. Agar mencari asisten bayi. Setidaknya Aku tidak terlalu capek untuk mengurus semuanya.


Tapi, Zaidan selalu menolak. Dia berfikir, jika orang lain saja yang mengurus Graha. Takut jika Graha dianiaya tanpa sepengetahuanku dan Zaidan.


Karena tidak dipungkiri jika manusia selalu memiliki batas lelah.


Melihat Ibuku sibuk. Jadi, Aku terpaksa membawa Graha pulang kembali.


Lalu merembukkannya dengan Zaidan.


Akhirnya Zaidan setuju untuk membawa Graha ke Ibunya. Meminta tolong menitipkan Graha.


Saat ijab qobul Laki-laki lah yang berperan bertanggung jawab.


Tapi pada hidup kenyataannya. Perempuanlah yang harus menanggung semua akibat dari keputusan Suaminya.


...****************...


Tok, tok, tok, tok,


Pagi itu Aku berjalan menuju kantor selesai dari memarkirkan motorku.


Di depanku berjarak sekitar 10 meter. Aku melihat Aniya dan Kak Lucky sedang berjalan bersama.


Terlihat Aniya sangat ramah kepada Kak Lucky.


Dan Kak Lucky pun memang terlihat agak cuek untuk menanggapinya.


Terlihat seperti pasangan yang serasi.


Saat kak Lucky berjalan belok menuju pintu masuk kantor. Dia melihatku sedang berjalan sendirian di belakangnya.


Sedangkan Aku masih berjalan menunduk.

__ADS_1


Melihat pandangan ke bawah ada 2 pasang sepatu yang berada di depanku.


Membuat langkahku berhenti seketika. Dan melihat siapa orang yang sedang menghadangku.


Saat Aku mendongak. Tidak salah lagi jika Dia adalah kak Lucky.


Setelah melihat Kak Lucky di hadapanku.


Hal yang Aku cari adalah Aniya.


^^^"Bukankah Dia tadi bersama Aniya?" batinku.^^^


Ekor mataku melihat ke arah Aniya berada.


Ternyata Aniya berdiri dan tidak mengerti dengan alasan kak Lucky tiba-tiba menghampiriku lalu meninggalkannya.


"Ada apa kak?" tanyaku.


"Kenapa kemarin tidak masuk?" tanya kak Lucky.


"Apa karena hujan?" tanyanya.


"Iya" jawabku cuek.


Melihat situasi seperti ini. Membuatku merasa tidak enak kepada Aniya.


Akhirnya Aku memutuskan untuk menyapa Aniya.


"Aniya, Kamu kemarin masuk?" tanyaku.


Tapi Aniya tidak merespon sapa'anku. Dia justru melangkah ke dalam tanpa menghiraukan pertanyaanku.


Sedangkan Kak Lucky mengikuti langkah jalanku.


"Kak Luck, ada yang perlu Aku beritahu padamu" bisikku.


"Apa?" tanya kak Lucky penasaran.


"Nanti deh, Saya kirim lewat wa" kataku.


Aku langsung berjalan cepat masuk mendahului kak Lucky.


"Apa kak Lucky tidak peka kalau Aniya menyukainya?" batinku.


Aku masuk ke kantor. Terlihat Aniya sangat sewot padaku.


Saat Aku duduk di tempatku.


Lagi-lagi telinga 👂 ku mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan.


"Eh Kamu tahu nggak, ada lho perempuan yang sudah punya suami dan anak. Dia masih suka menggoda laki-laki bujang" sindir Aniya.


"Ha? Iya kah? Waduh! ya bahaya kalo kayak gitu" jawab karyawati lainnya.


"Siapa emang?" tanya karyawati lainnya penasaran.


"Ada deh pokoknya. Seharusnya kalo sudah punya ya sadar diri ya? Eh ini justru menggoda laki-laki yang masih bujang. Emang istri kurang bersyukur" sindir Aniya.


"Apa yang dimaksud Aniya Aku? Tapi Aku tidak merasa menggoda kak Lucky" batinku.


"Sudahlah. Yang terpenting niatku di sini bekerja. Karena bergantung hidup kepada orang lain itu tidak enak" batinku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2