Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 22: Aku Takut


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu,,,,


Setelah Zaidan mengerahkan bagian segi pemasaran Intansi. Ternyata usaha tidak mengkhianati hasil.


Meski keliling di toko-toko bangunan kecil. Memang orderan tidak seberapa di setiap toko. Tapi, jika pemasaran dapat mencapai 100 Toko. Pemasaran cukup untuk menutupi biaya operasional selama 1 bulan


Omset naik 50% dari sebelumnya. Hingga membuat Grafik itu berwarna kuning.


"Pak Zaidan, ada berita bagus!" kata Manager Adi.


"Katakan!" kata Zaidan.


"Omset Kita bulan ini naik hingga 50% Pak. Kita sudah tidak di zona merah lagi" kata Manager Adi.


"Jangan terlena dulu, itu masih omset. Sedangkan pendapatan labanya berapa?" kata Zaidan.


"Sudahkah pendapatan dikurangi dengan Harga beli, resiko kesusutan dan biaya operasional?" kata Zaidan.


"Belum Pak" kata Manager Adi.


"Saya tidak mau laporan hanya membentuk omset. Yang Saya perlukan adalah laba bersih" kata Zaidan.


"Baik Pak" kata Manager Adi.


Manager Adi kembali lalu menulis ulang laporan. Bersama dengan bu elok.


Setelah di terka-terka seluruh biaya. Hingga memunculkan angka sebesar Rp 5.200.000,00. Yang merupakan laba bersih.


Manager Adi melaporkan angka yang telah ditemukan ini.


"Ini Pak. Laba Kita dalam 1 bulan ini" kata Manager Adi.


"Zona merah. Angka itu masih belum bisa dipakai untuk menambal biaya operasional bulan lalu yang Kita pinjam dari Bank" kata Zaidan.


"Tapi Kita bisa menutup biaya operasional 50% nya" kata Zaidan.


"Bulan ini Kita jangan melakukan pembaruan stok dulu. Kita fokus saja di pemasaran" kata Zaidan.


"Baik Pak" kata Manager Adi.


"Dan satu hal lagi, Kiita masih butuh pinjaman bank dana 50% dari jumlah kemarin. Dan besok Kita mengadakan Briefing untuk menekan dan membangun semangat Mereka" kata Zaidan.


"Baik Pak" kata Manager Adi.


Saat Manager Adi sibuk mencatat semua perintah Zaidan di buku note nya. Zaidan memanggilnya. Hingga membuat pena yang dipegangnya berhenti berlayar di daratan kertas yang bertengger di atas papan.


"Manager Adi" panggil Zaidan.


"Iya Pak" kata Manager Adi.


"Terimakasih, Kamu selama ini sudah mau menemaniku" kata Zaidan dengan tersenyum.


"Saya juga terimakasih Pak Zaidan telah membangun Instansi ini. Yang mampu memberi Saya dan Mereka gaji untuk dapat memenuhi kebutuhan" kata Manager Adi.


"Kita sebagai manusia memang harus tolong menolong" kata Zaidan.


"Mari Kita sama-sama majukan Instansi ini" kata Zaidan.


"Dengan senang hati Pak" kata Manager Adi.


...****************...


Hari telah malam.


Terlihat bulan sedang tersenyum menghadap bumi. Bersama taburan bintang bagaikan suar di lautan hitam. Bersama dengan hembusan angin yang berhasil menembus pori-pori jendela dan pintu.


Di dalam rumah, Aku masih menyuapi Graha. Sedangkan Zaidan sedang di kamar membujurkan badannya di ranjang.


Setelah makan, Graha sibuk menonton TV.


Aku sengaja menghampiri Zaidan ke kamar.


Zaidan berbaring dengan memejamkan mata. Namun belum tertidur. Terlihat sekali Dia sangat capek.


"Sayang, bagaimana kabar Intansi? Apakah ada kemajuan?" tanyaku.


"Iya, sedikit ada kemajuan" kata Zaidan singkat.


"Seberapa banyak kemajuannya?" tanyaku.

__ADS_1


"Omset meningkat 50%, tapi laba masih di zona merah" kata Zaidan.


"Kita syukuri saja. Ada kemajuan seperti itu di awal merintis itu sudah cukup bagus" kataku.


"Iya" kata Zaidan.


"Milanie" panggil Zaidan.


"Iya" jawabku.


"Bisakah Kamu membiarkan Aku sendiri? Aku ingin istirahat" kata Zaidan.


"Baiklah" kataku.


Karena Zaidan merasa terganggu dengan kedatanganku. Aku keluar dari kamar itu. Lalu kembali menemani Graha yang duduk di depan TV.


"Dia pasti sangat lelah" batinku.


"Akan Aku buatkan teh hangat besok untuk asupan gula energinya" batinku dengan perasaan yang bungah.


...****************...


Malam itu,


Aniya memulai aksinya untuk menghubungi Kak Lucky. Melalui nomer ponsel yang pernah Aku berikan padanya.


Dengan jantung yang berdebar-debar dan salah tingkah. Aniya memberanikan diri untuk mengirim pesan terlebih dahulu kepada Kak Lucky.


"Halo kak, lagi apa?" pesannya berbasa-basi.


Pesan itu masuk dengan centang dua tapi belum terbaca.


Satu menit berlalu,,,


.


Dua menit,,,,


Tiga menit,,,,


Empat menit,,,,


Jam terus berdetak.


Aniya mengecek hp nya. Dan menunggu balasan dari orang yang baru saja Dia kirim pesan.


Tidak ada tanda balasan masuk.


Wajahnya sedikit kecewa.


Tak disangka, tidak lama ada pesan masuk di layar hp nya.


"Klinting" bunyi pesan masuk.


"Halo, lagi selesai sholat. Ini siapa?" balas kak Lucky.


Melihat ada balasan, Aniya secara spontan loncat-loncat kegirangan bagaikan orang gila saat itu juga.


"Sudah rajin sholat, berwibawa, penyayang lagi. Astaga, Kak Lucky memang laki-laki yang perfect" gumam Aniya.


Lalu Aniya mengetik dan membalas chatnya lagi.


"Ini Saya Aniya Kak. Salah satu staff Kantor" balas Aniya.


"Owh iya" kata kak Lucky.


"Cuek sekali" gumam Aniya.


"Tapi, setahuku kalo laki-laki cuek. Memang saat dapetin awal itu susah. Tapi kalo sudah dapet Dia akan sayang banget hihi" gumam Aniya.


"Kak Lucky kapan ke kantor lagi?" pesan Aniya.


Pesan itu terbalas dalam waktu 3 menit.


"Masih belum tahu" balas kak Lucky.


"Kak Lucky sibuk ya?" pesan Aniya.


"Astaga, ini perempuan sudah tahu sibuk tapi masih ngotot ngechat sih" gumam Kak Lucky.

__ADS_1


"Sedikit" balas kak Lucky.


"Ya sudah kalo gitu kak. Maaf mengganggu kak Lucky" pesan Aniya.


"Iya" balas kak Lucky.


Aniya sangat merasa senang bisa mengobrol sedikit dengan kak Lucky. Walau hanya melalui chat. Bagi Aniya, ini sangatlah berharga.


Tak lama, ada pesan masuk lagi di layar ponsel Aniya.


Dari kak Lucky.


"Kamu punya nomer ponsel Milanie?" tanya kak Lucky.


"Iya punya" balas Aniya.


"Saya minta" balas kak Lucky.


"Iya Kak" balas Aniya.


Walau merasa ini aneh, tapi Aniya tetap berfikir positif. Mungkin ini karena ada pekerjaan yang akan Mereka bicarakan. Lalu tanpa pikir panjang, Aniya mengirim nomer ponsel Milanie kepada kak Lucky.


"Terimakasih Aniya" balas kak Lucky.


"Iya sama-sama" balas Aniya.


Malam itu saat Aku masih bersama Graha. Ada sebuah notif pesan masuk di ponselku. Di sana nomer yang tidak dikenal.


"Mil?" isi chat itu.


"Iya, dengan siapa? Ada yang bisa Saya bantu?" balasku.


"Tebak siapa?" balasnya.


Aku merasa sebal jika ada pertanyaan di balas dengan pertanyaan. Pesan itu hanya Aku read tanpa Aku balas.


Tak lama ada pesan lagi yang masuk di ponselku.


"Mil?" isi chat itu.


"Iya, maaf dengan siapa?" balasku lagi.


"Apa Kamu sudah lupa dengan semuanya?" balasnya.


"Apa maksudnya?" balasku.


"Entah kenapa, perasaanku tetap padamu" balasnya.


"Orang gila" balasku.


"Ha, ha, ha, Aku bercanda. Ini Aku, kak Lucky. Save ya" balas kak Lucky.


"Owh kak Lucky. Aku kira orang gila kak" balasku.


"Astaga, tega sekali Kamu mengidentifikasi Aku sebagai orang gila" balas Kak Lucky.


"Iya emang kak Lucky sih, ditanya siapa nggak ngaku-ngaku dari tadi" balasku.


"He, he, he, maaf. Lama sekali Aku tidak menjailimu" balas kak Lucky.


"Deg"


"Situasi apa ini?" batinku.


"Sadar Milanie, Kamu adalah seorang Ibu dan istri dari Zaidan" gumamku.


Seketika Aku sangat takut Zaidan melihat percakapan ini. Takut nanti jika salah pahan dan marah atau cemburu.


Tanpa Aku balas, Aku menghapus percakapan ini.


Tapi, dalam hatiku yang terdalam. Kenapa ada sebutir senang saat mengakui fakta bahwa Kak Lucky menghubungiku lagi?


Perasaanku merasa sedang goyah saat ini.


Tapi, pikiranku berkata. Jika sudah membangun keluarga, kenapa harus menerima yang lain?


Toh, jika meninggalkan yang sekarang demi menerima yang lain. Akan ada penyesuaian lagi yang besar. Yang sedang menanti hidupmu.


Aku hanya takut, Zaidan akan salah faham.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2