
Pagi itu, Aku kembali berangkat bekerja. Di balik papan penyekat kantor di tempat tamu. Aku mendengar beberapa orang sedang berbincang.
Dan di atas meja tamu telah bertengger beberapa minuman capuccino latte berjumlah 3 gelas. Namun tidak ada seorang pun yang duduk di sana.
"Apakah masih ada rapat?" gumamku.
Dengan sedikit waspada, Aku masuk ke kantor pelan-pelan.
Ternyata di dalam kantor telah duduk Bu Ketua, Kak Lucky dan Pak direktur. Mereka berbincang dengan seru.
Melihat meja kerjaku masih di duduki oleh Kak Lucky. Aku memutuskan untuk kembali dan menunggu di tempat duduk tamu.
Karena Aku adalah staff baru, jadi melakukan suatu hal tanpa perintah membuatku sedikit sungkan.
Tak lama Rindu juga sudah datang.
Melihatku duduk di tempat tamu, membuat Rindu bertanya kepadaku.
"Milanie, kenapa tidak masuk?" tanya Rindu.
"Bangku kerjaku masih dipakai. Jadi, Aku tunggu di sini" jawabku.
"Astaga, masuk saja. Mereka tidak akan melihatmu jika Kamu di sini" kata Rindu.
"Takutnya Mereka sedang rapat" kataku.
"Tidak, memang seperti itu biasanya. Kamu tunggu percuma, akan semakin lama" kata Rindu.
Akhirnya, Aku mengikuti Rindu masuk ke ruangan kantor.
"Mas Lucky, Milanie takut masuk kalo Kamu duduk di mejanya" kata Rindu dengan blak-blakan.
"Hust" kodeku malu.
"Owh, silahkan Milanie. Kamu nggak bilang apa-apa. Jadi Aku tidak tahu" kata kak Lucky dengan berdiri mempersilahkan Aku duduk.
Aku hanya mengangguk kan kepala.
"Permisi ya kak" kataku.
"Hem" kata kak Lucky.
"Owh jadi ini anak barunya? Siapa namanya tadi?" tanya Pak Direktur.
"Saya Milanie Pak" kataku.
"Milanie. Umur berapa?" tanya Pak Direktur.
"Umur Saya sekitar 23 tahun Pak" jawabku.
"Dia adik kelas Saya dulu Pak" tambah Kak Lucky.
"Owh, melihat umurnya. Bisa jadi kalian takdir. Ha, ha, ha," canda Pak Direktur.
"Wah gimana nih Pak Direktur. Milanie sudah punya keluarga Pak" kata Bu Ketua.
"Benarkah?" kata Pak Direktur.
"Iya, sudah punya anak juga" kata Bu Ketua.
"Astaga, kecil seperti ini sudah punya anak?" kata Pak Direktur.
"Iya Pak" jawabku.
Seketika wajah Kak Lucky terdiam dan tidak berekspresi sama sekali setelah mendengar kabar jika Aku telah memiliki keluarga.
Dan setelah itu, Dia tidak pernah menyapaku atau memandangku selama 6 hari itu.
__ADS_1
Hingga, Hari ini adalah hari terakhir Pak Direktur di Kantor.
Karena hari terakhir, ada sebuah pertemuan briefing siang itu.
Semua staff Karyawan dan Karyawati berkumpul di ruang tamu.
Di depan, telah duduk seorang yang berwibawa yaitu Pak Direktur. Dia menjelaskan tentang perusahaan yang Dia kelola. Mulai dari sejarah, pengelolaan, cara bertahan dan berdiskusi tentang cara memajukan perusahaan.
Cara ini, juga diterapkan oleh Zaidan saat Dia fokus untuk memajukan instansinya.
Tak lama, Pak Direktur juga mempersilahkan Kak Lucky untuk berbicara kepada rekan-rekan kerja.
Tak dipungkiri, jika Kak Lucky dari masa sekolah memang sudah terbiasa melakukan presentasi di depan kalayak ramai. Membuat Dia lihai dalam berbicara tentang pekerjaan.
Terlihat jika Dia memiliki power yang kuat di depan. Hal ini membuat para gadis karyawati gelabakan ingin sekali mendekati Kak Lucky.
"Astaga, Dia sangat keren dan gentleman sekali" gumam Aniya.
Tak lama kegiatan Briefing telah selesai. Kumpulan itu telah bubar.
Aniya salah satu staff Karyawati yang memiliki perasaan kepada Kak Lucky. Saat itu Dia menghampiriku.
"Bu Milanie" kata Aniya.
"Jets"
Mendengar panggilan Bu, membuatku merasa sudah sangat tua. Meski memang kenyataannya Aku sudah menjadi seorang Ibu.
"Iya Aniya, ada apa?" tanyaku.
"Dengar-dengar Bu Milanie ini temannya Kak Lucky saat masa sekolah ya?" tanya Aniya.
"Iya, tapi hanya teman biasa" jawabku.
"Saya tahu, pasti kalian teman biasa. Tidak mungkin Kak Lucky punya perasaan pada bu Milanie" kata Aniya.
"Ha, ha, ha, Kamu pintar juga ya?" kataku berlagak menyanjung gadis remaja itu.
"Kalau begitu, boleh Aku meminta tolong Bu?" tanya Aniya.
"Meminta tolong apa?" tanyaku.
"Tolong mak jomblangkan Aku dengan kak Lucky Ya? Dia benar-benar lelaki idamanku banget" kata Aniya.
"Soal itu,,,," kataku dengan menggaruk-garuk leherku walau tidak gatal.
"Please ya bu? Bu Milanie kan kenal sama Kak Lucky" kata Aniya.
"Saya akan berusaha bantu, tapi Saya tidak bisa berjanji akan berjalan seperti keinginanmu" kataku.
"Iya bu, terimakasih banyak ya Bu Milanie. Nanti pasti akan Aku traktir Bu Milanie jika ini berhasil" kata Aniya sumringah.
"Jangan bilang berterimakasih dulu. Aku saja belum bertindak" kataku.
"Aku percaya pada Bu Milanie" kata Aniya.
"Astaga, dengan mudahnya Dia meminta tolong. Menambah pekerjaanku saja" batinku.
Mau tidak peduli, tapi Aku tidak bisa.
"Setidaknya Aku harus membantunya sedikit" batinku.
Sore itu, tepat pada setelah jam istirahat. Aku mendatangi Kak Lucky di ruangannya. Dengan alasan mengambil format kehadiran karyawan kembali.
"Tok, tok, tok"
Aku mengetuk Pintu.
__ADS_1
"Masuk!" jawab Kak Lucky.
Aku masuk ke ruangan.
"Maaf Kak Lucky, untuk format kehadiran. Bolehkah Saya mengambilnya kembali?" tanyaku.
"Bukankah Kamu bisa mencetaknya lagi?" tanya Kak Lucky.
"Iya, itu hanya saja. Agar lebih hemat kertas saja" kataku.
"Hm? Tak kusangka Kamu karyawati yang hemat untuk perusahaan ya?" kata Kak Lucky.
"Tapi sepertinya kertasnya hilang. Saya lupa menaruhnya dimana. Karena banyak sekali berkas" kata Kak Lucky.
"Owh, baiklah" kataku.
"Kak?" kataku.
Seketika suasana di sana hening.
Kak Lucky baru memandangku setelah mendengar panggilanku.
"Boleh Aku minta Nomer hp mu? Sebagai teman kerja?" tanyaku.
"???"
"Tega sekali kamu menikah tidak mengundangku Milanie" alih Kak Lucky.
"Memang acaranya dilakukan di rumah Zaidan saja" kataku.
"Nama Suamimu siapa?" kata Kak Lucky.
"Zaidan" jawabku.
"Kebetulan sekali namanya mirip sekali dengan seorang koruptor di PT. Search" kata Kak Lucky.
Sengaja Kak Lucky membicarakan tentang Suamiku agar Aku mengingat statusku.
Tapi, sepertinya Dia salah faham. Padahal niatku meminta nomer hp nya untuk Aku kasihkan ke Aniya.
"Kak Luck, sebenarnya. Aku meminta nomer hp mu bukan untukku. Tapi untuk Aniya" kataku.
"Aniya? Siapa Dia?" tanya kak Lucky.
"Astaga, sama staff sendiri Kamu tidak kenal? Sudah Aku minta saja. Nanti Kamu akan tahu. Cepat!" kataku.
Seketika rasa akrab itu hadir kembali antara Aku dan Kak Lucky.
"Tapi jangan disebar" kata Kak Lucky.
"Iya janji" kataku dengan mengangkat 2 jariku.
Kak Lucky menyerahkan ponselnya dan menunjukkan nomer ponselnya.
Segera Aku mencatat nomer itu di secarik kertas yang memang sudah Aku bawa saat hendak masuk ruangan.
"Makasih Kak" kataku.
"Siapa nama anakmu?" tanya kak Lucky.
"Namanya Graha" jawabku.
"Bawalah kemari saat pekerjaanmu tidak sibuk" kata kak Lucky.
"Owh tidak perlu, lagi pula Aku tidak enak sama yang lain. Jika Dia menangis atau bagaimana. Namanya anak kecil tidak bisa ditebak" kataku.
"Baiklah. Saya permisi Kak" kataku.
__ADS_1
"Milanie?" panggil kak Lucky.
...----------------...