
Dunia akan selalu berputar pada porsinya masing-masing. Rotasi yang selalu berputar membuat orang berada di titik pasang surut kehidupan. Terkadang Dia menjulang tinggi, atau ke tengah bahkan bisa juga ke bawah.
Dan yang dialami oleh keluargaku kali ini adalah Surutnya ekonomi. Membuat nama Zaidan yang tercemar tidak disungkani lagi oleh publik.
"Ada apa Ibu kemari?" tanyaku.
"Tidak apa-apa" jawab Zaidan.
"Aku ingatkan, kunci utama dari sebuah kekeluargaan adalah keterbukaan. Aku harap Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku" kataku menggertak Zaidan.
"Sungguh Sayang tidak ada apa-apa" kata Zaidan.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Zaidan.
"Belum, waktu istirahatku sepertinya hampir habis untuk perjalanan pulang menjemput Graha" kataku.
Tiba-tiba Zaidan memberikan uang 50 ribu padaku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku dapat rejeki tadi, pakailah untukmu makan di luar" kata Zaidan.
"Cih, Kamu benar-benar belagu" kataku.
"Aku hanya khawatir Kamu tidak makan karena keadaan Kita. Sudah pakailah" kata Zaidan menyodorkan uang itu kepadaku dengan paksa.
"Apa yang perlu Aku tukar setelah menerima ini?" kataku.
"Do'akan saja urusanku lancar. Dan rezekiku banyak. Itu saja" kata Zaidan.
"Kenapa tiba-tiba minta do'a padaku?" kataku heran atas perubahan sikap Zaidan.
"Aku dengar!!! Ucapan seorang perempuan yang telah bergelar menjadi Ibu itu sangat mustajab. Jadi, Aku meminta tolong padamu ya Sayang" kata Zaidan.
"Astaga, Kamu semakin mahir membuat wanita jatuh cinta padamu" kataku.
"Berarti Kamu jatuh cinta padaku sekarang" kata Zaidan.
"Menurutmu?" kataku malu.
Zaidan menggodaku dengan sangat percaya diri.
Tak lama Aku pamit untuk kembali bekerja.
Tiba-tiba Zaidan menarik tanganku.
Lalu Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Hati-hati di jalan. Jangan tergesa-gesa" bisiknya.
"Iya Sayang" jawabku.
Tanpa Aku sadari, Zaidan berhasil mencuri ciuman di mulutku.
"Cup"
"Ih, apa'an sih. Ini kantor tahu" kataku.
"Kenapa jika kantor?" kata Zaidan.
"Astaga,,, sudahlah! Aku kembali" kataku sedikit malu.
__ADS_1
Jangan tanya, keadaan pipiku saat itu sungguh berwarna merah merona.
Aku segera keluar dan berpaling untuk menutupi rasa malu ku itu.
Sudah sejak lama hubunganku dan Zaidan semakin membaik akhir-akhir ini. Walau Kami hanya hidup di rumah kontrakan. Tapi hidupku berubah menjadi jauh lebih tenang dan damai dibandingkan dengan satu atap dengan orang tua.
Karena, tidak dipungkiri jika sebuah pernikahan adalah awal dari sebuah perjuangan hidup dan kedewasaan seseorang. Dan di titik inilah kehidupan yang nyata dimulai.
Tak lama saat Aku telah pergi. Suara ketukan pintu ruangan Zaidan bernyanyi lagi.
"Tok, tok, tok" ketukan pintu.
"Masuk" kata Zaidan.
"Maaf Pak, apakah anda yakin akan pergi ke lapangan langsung hari ini?" tanya manager Adi.
"Keputusanku yang mana yang menurutmu bimbang dan goyah manager Adi?" jawab Zaidan.
"Tidak ada Pak. Kalau begitu,,, Saya akan memanggil Dimas untuk mengantar Pak Zaidan" kata Manager Adi.
"Tidak perlu, Saya akan berangkat dengan anak gudang" kata Zaidan.
"Baiklah. Akan Saya panggilkan Mereka untuk menyiapkan mobil Pak Zaidan" kata Manager Adi.
"Saya tidak ingin pakai mobil. Suruh Mereka siapkan motor Mereka. Nanti akan ada tambahan uang sewa atas motor Mereka" kata Zaidan.
"Tapi, Pak di luar terasa sangat panas" kata Manager Adi.
"Tidak masalah. Kamu pikir Saya bisa sampai dititik ini tidak pernah kepanasan?" kata Zaidan.
Sekilas ingatan Manager Adi teringat saat bagaimana Zaidan merintis Instansi ini bersamanya. Sebelum ada banyak staff Karyawan. Mendirikan sebuah Instansi benar-benar dari nol.
Begitu keras perjuangan seseorang dibalik kesuksesannya.
Segera Manager Adi menunjuk salah satu staff gudang yang bernama Putra.
Sedangkan Bimo yang mengurus barang gudang. Dan kak Hilmi yang menjadi admin laporan masuk dan keluarnya barang gudang.
Di gudang, cukup Mereka yang stay di sana.
"Putra, hari ini Kamu ke lapangan dengan Pak Zaidan ya?" kata Manager Adi.
"Bersama Pak Zaidan Pak? Maksud Pak Adi dengan CEO PT. Maju Terus?" kata Putra.
"Iya, segera ambil motormu dan jangan sampai membuat Dia menunggu" kata Manager Adi.
"Pakai motor Saya? Bukan mobil?" tanya Putra.
"Iya, nanti akan ada tambahan uang sewa untuk motormu" kata Manager Adi.
"Bukan itu maksud Saya. Saya hanya memastikan dulu daripada nanti salah. Eh tapi terimakasih Pak sudah dikasi uang sewa hehe" kata Putra.
"Iya sana cepat!" kata Manager Adi.
"Baik Pak" kata Putra.
Dengan cekatan Putra melakukan yang diperintahkan oleh Manager Adi.
Perintah untuk mengantar seorang CEO tentu membuat Putra merasa agak gugup. Karena ini pertama kalinya dalam sejarah di PT. Maju Terus sosok CEO turun tangan dalam lapangan setelah perkembangan Instansi.
Tentu, hal ini juga menggambarkan bahwa situasi di Intansi dalam lingakaran pasar yang sangat kritis.
__ADS_1
Akhirnya, Zaidan dan Putra berangkat saat itu juga.
Awalnya Zaidan mengunjungi teman-teman Managernya yang dulu pernah berhubungan dengan Zaidan.
Dan menawarkan kontrak kerjasama serta barang Instansi yang dimilikinya tentang dekorasi Interior dan eksterior.
Dari 9 Orang Manager yang dikenalnya. Tidak ada satu pun dari Mereka yang membuka jembatan untuk Zaidan.
Tentu, nama yang buruk dipublik apalagi Zaidan mantan dari Manager PT ternama. Siapa yang tidak tahu tentang kabar penggelapan dana itu.
Dan siapa yang akan mau bekerja sama dengan orang yang sedang memikul nama korupsi itu? Membantu untuk membeli barangnya saja tidak ada yang berminat. Apalagi penyuntikan Investasi atau saling bekerja sama.
Dan yang terakhir, dengan mengumpulkan keberanian yang penuh. Zaidan datang kepada Pak Mahardika.
Lalu Dia mengajukan sebuah kontrak kerja sama kepadanya.
Saat Zaidan masuk ke ruangan, terlihat Pak Mahardika sedang bercanda dengan Angga.
Dari kejauhan, Zaidan menamati Angga lagi. Gerak-gerik, mimik wajah dan bahkan suara tidak salah lagi sama persis seperti Niko.
Walau Zaidan merasa curiga jika Angga adalah Niko. Melihat statusnya saat ini, tentu difikir hal ini tidak memungkinkan sama sekali.
Di sela-sela candaan Mereka. Zaidan sengaja mengetuk pintu untuk mendapatkan perhatian dari keduanya.
"Owh Zaidan, silahkan masuk!" kata Pak Mahardika.
Angga melirik Zaidan lalu Mereka saling tatap.
"Angga, Kamu bisa kembali ke ruangan" kata Pak Mahardika.
"Baik Pak" kata Angga.
"Mau apalagi bedebah itu muncul di sini?" batin Angga.
"Katakan Zaidan" kata Pak Mahardika.
"Pak, Saya sebenarnya kemari ingin menawarkan kontrak kerja sama antara perusahaan Pak Mahardika dengan Saya" kata Zaidan.
"Saya tahu, Kamu sangat membutuhkan dana sekarang Zaidan. Tapi, bagaimana lagi. Jika kepercayaan telah diretakkan. Menurutmu apakah itu bisa pulih? Atau akan tetap retak?" kata Pak Mahardika.
"Maaf Pak, Saya jelaskan yang terjadi saat itu. Saya memang meminjam dana. Tapi Saya tidak berniat untuk menggelapkannya. Saya sudah berencana akan mengembalikannya minggu depan. Tapi, entah darimana Pak Mahardika menerima laporan penggelapan dana itu sebelum Saya memberikannya kepada Manager keuangan" kata Zaidan.
"Jika maling sudah terungkap. Mereka akan berdalih agar terlihat tidak salah. Demi melindungi diri Mereka sendiri. Kamu tahu maksud Saya kan Zaidan?" kata Pak Mahardika.
"Apa? Maling?" kata Zaidan merasa tidak terima dengan sebutan itu.
"Begini saja. Untuk menghargai kesetiaanmu pada PT Search dan kesuksesan Proyekmu dengan Bu Putri. Aku akan memberikanmu dana. Kamu butuh berapa? 100? 200? atau 500?" kata Pak Mahardika.
"Saya tidak ingin penghargaan seperti itu. Yang Saya inginkan adalah sebuah kerjasama" kata Zaidan.
"Zaidan, bahkan Kamu sudah berada disudut pojokan. Tapi tetap saja tidak sadar diri" kata Pak Mahardika.
"Jika memang menolak. Setidaknya bicaralah dengan baik Pak Mahardika yang terhormat" kata Zaidan.
"Ha, ha, ha, ha, bahkan Kamu sekarang berani menasehatiku? Kasihan sekali Kamu Zaidan. Mungkin, bisa jadi ini adalah karma untukmu" kata Pak Mahardika.
"Hah, Ternyata tidak ada gunanya Aku kemari" kata Zaidan.
Tanpa pamit Zaidan keluar dari ruangan dengan berbalut emosi. Mengingat kata-kata Pak Mahardika yang menusuk telinga.
"Sial!!!" batin Zaidan.
__ADS_1
...----------------...