Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 27: Kesucian yang Direnggut


__ADS_3

Melihat tidak ada kecurigaan dengan sikap Pak Ramli. Membuat Angga sementara ini merasa posisinya masih aman.


Dengan santainya Angga kembali ke kantor setelah setoran semua selesai.


Tak disangka, dengan kepura-puraan Pak Ramli tidak tahu tentang kelakuan Angga, Ini justru membuat Pak Ramli tidak ada hambatan untuk menyelidiki penyebab pasar menurun.


Setelah sosok Angga telah menghilang di tempat itu. Pak Ramli mulai mencari informasi dan bertanya-tanya kepada semua pelanggan. Bersama alat perekam di ponselnya. Sebagai bahan bukti untuk diberikan kepada Pak Mahardika.


...****************...


Ufuk barat telah tergenang di lautan langit. Berwarna semburat kemerahan. Menandakan jika hari telah menjelang sore.


Sudah waktunya untuk memasuki jam pulang kerja.


Bella bersiap-siap merapikan seluruh berkas di mejanya yang terlihat sangat tertumpuk.


Saat di tengah kesibukannya, tiba-tiba saja Angga menyuruhnya untuk lembur.


"Setelah ini ikut Saya dulu! Ada yang perlu kamu selesaikan" kata Angga.


"Sekarang Pak?" tanya Bella.


"Kapan lagi? Ini akan dihitung lembur untukmu" kata Angga.


"Ada apa ini? Kenapa firasatku tidak enak?" batin Bella.


Walau sebenarnya Bella telah sudah merasa lelah karena bekerja seharian. Tapi sudah resiko jika ikut orang harus patuh dengan atasannya.


Dengan berat hati Bella menuruti perintah dari Angga.


"Kamu naik mobil Saya saja" kata Angga.


"Tapi nanti bagaimana dengan motor Saya Pak?" tanya Bella polos.


"Nanti bisa diambil" kata Angga.


"Baik" kata Bella.


Bella naik mobil Angga dan naik di bangku belakang.


30 menit perjalanan, Mereka telah sampai di tujuan. Di sebelah kanan mobil, ada sebuah apartemen bertingkat 2 yang sedang berdiri tegak di atas tanah.


"Ini dimana Pak?" tanya Bella.


"Ini adalah apartemen Saya" kata Angga.


Awalnya Bella tidak curiga apapun. Hanya saja entah kenapa firasatnya terasa benar-benar tidak enak.


Angga membuka pintu Apartemennya.


"Ikuti Saya" perintah Angga.


Angga melangkah hingga naik ke tangga. Hingga langkahnya tertuju di sebuah kamar. Lalu Angga masuk ke dalamnya.


Menyadari jika itu adalah kamar. Membuat Bella ragu untuk masuk. Dan memutuskan untuk hanya berdiri di depan pintu kamar.


"Masuklah!" perintah Angga.


"Maaf Pak Angga, Saya tunggu di sini saja. Pekerjaannya bisa Saya kerjakan di luar" kata Bella.


"Ini pekerjaan yang harus dilakukan di dalam. Masuklah!" kata Angga.

__ADS_1


"Apa yang harus Saya lakukan Pak?" tanya Bella.


Tak lama Angga keluar dan menarik paksa tangan Bella untuk masuk ke kamar.


"Sudah kubilang Masuk. Ya masuk saja!" kata Angga dengan menarik kekuatan penuh tangan Bella.


Tanpa aba-aba Bella pun terseret dan masuk ke kamar Angga.


Tak lama Angga mengunci pintu kamarnya.


"Pak Angga, kenapa harus dikunci?" tanya Bella.


"Agar tidak ada yang mengganggu Kita" kata Angga.


"Apa maksud Pak Angga?" tanya Bella.


"Kamu cantik Bella, Aku menyukaimu" kata Angga dengan mendekati Bella bersama nafas yang membara penuh dengan nafsu.


"Maaf Pak Angga, Saya tidak mengerti maksud Pak Angga" kata Bella tegas.


"Kamu ingin berapa? Akan Aku berikan berapapun yang Kamu mau" kata Angga.


"Maaf Pak, Saya wanita tidak semurah itu" kata Bella.


Dengan cekatan Bella lari dan meraih ganggang pintu kamar.


Namun sayangnya pintu telah dikunci oleh Angga. Dan kunci pintu juga dipegang oleh Angga.


Membuat Bella tidak bisa keluar dari kamar itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Angga.


"Aku memintamu dengan lembut dan menawarkan harga tapi kamu tolak mentah-mentah" kata Angga.


"Tidak Pak, lepaskan Saya. Tolong lepaskan Saya Pak Angga. Tolong,,, tolong,,," ronta Bella.


Sedangkan Ibu Niko yang sekarang semakin tua. Mendengar jeritan Bella di atas.


Tak lama Ibu Niko mengetuk pintu kamar Angga dengan keras.


Tok, tok, tok, tok!


"Niko, buka pintunya Niko. Niko" kata Ibu Niko.


Tok, tok, tok, tok,


"Has,,,, mengganggu saja!" kata Angga.


Angga masih melanjutkan pekerjaannya yang sedang menali tubuh Bella di ranjang dengan posisi telentang. Tak lupa juga Dia menyumpali mulut Bella dengan kain agar tidak bisa berteriak.


Setelah selesai menalinya, Angga terpaksa membuka pintu kamar.


"Apa?" tanya Angga.


"Justru Ibu yang harusnya bertanya padamu. Apa yang sedang Kamu lakukan Niko?" tanya Ibu.


"Niko mau bersenang-senang. Jadi jangan ganggu Niko Ibu" kata Angga.


"Anak siapa yang Kamu culik itu?" kata Ibu Niko.


"Sudahlah, Ibu tidak perlu ikut campur" kata Niko.

__ADS_1


"Niko, jangan seperti ini nak. Jika Kamu memang butuh melakukan seperti itu, Ibu akan mencarikanmu istri. Jangan memerkosa anak orang nak. Dosa" kata Ibu Niko.


"Maksud Ibu istri seperti Milanie? Yang tidak pernah sama sekali mau melihat Niko? Sudahlah, Niko sudah tidak ingin rumit. Niko ingin menikmatinya hari ini" kata Niko dengan menutup pintu kamarnya.


"Tok, tok, tok, tok"


"Niko, Niko, jangan nak, Niko" teriak Ibu Niko.


Sedangkan Bella hanya bisa bergumam dan tidak bisa bergerak.


"Eeeemmmm, emmmm, emmm" jerit Bella.


Bella tak berkutik, tubuhnya terlilit tali. Sedangkan mulutnya dibungkam oleh kain. Dia hanya bisa menjerit dan menangis.


"Astaga, anak seperti apa yang telah Aku besarkan Tuhan,,,,??" gumam Ibu Niko.


"Ini salahku,,," gumam Ibu Niko menyesal.


"Ini semua salahku.,,," gumam Ibu Niko menyesal.


"Aku selalu menuruti semua keinginannya. Dengan cara apapun Aku selalu menuruti keinginannya. Hingga Dia besar, Dia benar-benar tidak peduli dengan cara yang Dia lakukan. Yang Dia fikirkan adalah bagaimana keinginannya tercapai" gumam Ibu Niko Menyesal.


"Astaga,,," gumam Ibu Niko Menyesal.


"Emmmmmmm, emmmm, emmm" Bella semakin menjerit dengan sekeras-kerasnya.


Hari ini, kesuciannya telah direnggut oleh atasannya sendiri.


Dengan menjerit dan memejamkan mata. Air mata Bella sudah tidak bisa terbendung lagi. Mengalir dengan sederas-derasnya.


Pada batinnya, hal ini benar-benar menyakitkan baginya. Hal yang paling berharga darinya telah direnggut dengan bosnya sendiri yang mesum.


Keinginan yang berbalut dosa. Tak luput akan menyeret orang lain menderita. Dan kabar buruknya, semua itu adalah hanya kebahagiaan sesaat.


...****************...


"Deg!!!!"


"Firasat apa ini?" gumam Ibu Bella.


"Kenapa tidak enak sekali" gumam Ibu Bella.


"Bapak, coba bapak hubungi Bella kenapa belum kunjung pulang hingga jam segini?" kata Ibu Bella.


"Iya bu, coba Bapak Televon" kata Bapak Bella.


Bapak Bella segera meraih ponselnya dan menelvon Bella berkali-kali. Namun tidak ada jawaban sama sekali.


...****************...


Sedangkan Ibu Niko. Dengan berat hati, Dia terpaksa memanggil polisi saat itu juga.


Dengan hati yang sangat teriris bersama air mata yang jatuh dari kedua kelopak matanya. Menyadari bahwa anak kesayangannya benar-benar berada di jalan yang salah. Dia terpaksa melaporkan kejahatan anaknya sendiri.


Dia, terpaksa melakukan ini semua. Agar anaknya sadar. Bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan.


"Maafkan Ibu Niko" lirih Ibu Niko.


"Ibu harus melakukan ini" lirih Ibu Niko.


"Demi kebaikanmu" lirih Ibu Niko.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2