Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 25: Kekuatan seorang Ibu


__ADS_3

"Ctaaarrr!!!"


Terlihat kilat sedang mencakar langit bersama suara langit yang terdengar murka. Bersama dengan beribu tembakan peluru awan yang menghantam bumi.


Tak dipungkiri, jika saat ini telah memasuki musim penghujan.


Di tempat dudukku, Aku duduk dengan menamati hujan yang turun dari kaca kantor yang tembus pandang dengan area taman depan.


"Astaga, kenapa harus hujan deras? Kasihan Graha jika kedinginan nanti" gumamku.


Karena membawa Graha bekerja, Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan sedikit. Graha berlari-lari ke sana kemari. Dan sangat aktif. Tidak mau diam. Disuruh tidur pun susah.


Di usia Graha sekarang, rasa penasarannya terhadap benda sekelilingnya sangat besar.


Tak jarang Dia mengambil berkas penting, mengacak-acak berkas, mencoret-coret tembok dll.


Membuatku merasa tidak enak hati dengan Ketua.


Sedangkan saat Graha Aku cegah, Dia akan meronta-ronta dan tetap ingin melakukan apa yang Dia inginkan. Jika Aku paksa melarangnya, Dia justru akan menangis.


Dalam keadaan ini, waktuku lebih habis untuk mengurus Graha dibandingkan dengan untuk bekerja.


Mungkin bu Ketua telah memaklumi karena Dia juga pernah menjadi seorang Ibu. Tapi untuk rekan kerjaku yang masih remaja. Mereka terlihat terganggu dengan kehadiran Graha.


Hujan semakin deras. Aku duduk di kursi tamu bersama Graha yang sedang tertidur pulas.


Aku berharap, dalam waktu sebelum maghrib. Hujan sudah reda. Jadi Aku memilih untuk menunggu.


Kebetulan hari itu kak Lucky juga ada di kantor. Entah kenapa, akhir-akhir ini Dia sering berkunjung. Tidak seperti 2 bulan awal Aku bekerja dulu.


Semua rekan kerjaku telah pulang dengan memakai mantel. Yang tersisa saat ini adalah kak Lucky dan Bu Ketua.


Terlihat bu Ketua sedang bercakap dengan Kak Lucky di ruangannya.


Dalam waktu 30 menit, Bu ketua keluar dan menyapaku.


"Tidak pulang Milanie?" tanya Bu Ketua.


"Masih menunggu hujan reda bu, Graha juga masih tidur" jawabku.


"Oh, Dia masih tidur? Lalu bagaimana Kamu nanti pulangnya?" tanya Bu Ketua.


"Nunggu 30 menit lagi, nanti Saya pulang bu. Barangkali nanti hujan juga sudah reda" kataku.


"Telvon Suamimu saja, biar dijemput. Atau mampir di rumahku saja Milanie" kata Bu Ketua.


Kebetulan, rumah Bu Ketua tidak jauh dari kantor cabang. Karena dekat, Bu Ketua selalu jalan kaki saat berangkat.


"Tidak usah bu, Saya telvon Suami Saya saja" kataku.


"Iya sudah kalo begitu Ibu duluan ya? Lucky, temani Milanie dulu sebelum pergi!" perintah Bu Ketua.


"Tidak perlu, Saya tidak masalah sendiri" jawabku.


"Lucky anak yang baik, Dia tidak akan berani macam-macam padamu Milanie. Sama cewek aja takut" kata Bu Ketua.


"Bukan itu masalahnya sih,,," kataku.

__ADS_1


"Takut apa sih!" kata kak Lucky kepada Bu Ketua tiba-tiba menyahut dari ruangannya.


"Nanti kalo pulang kuncinya jangan lupa di taruh ke rumah Ibu ya?" kata Bu Ketua.


"Iya bu" jawabku.


Tak lama Kak Lucky keluar lalu mengunci ruangannya.


Sedangkan Aku masih sibuk menelvon Zaidan.


"Nomer yang Anda tuju sedang di luar jangkauan" jawaban dari ponsel itu.


Aku mencoba menelvon Zaidan beberapa kali. Tapi jawabannya tetap sama.


"Sepertinya ponsel Zaidan sedang mati" gumamku.


Akhirnya Aku menyerah dan meletakkan ponselku.


Setelah wanita dipinang oleh Suaminya. Hidupnya telah diserahkan seluruhnya kepada Suaminya. Hak seorang Suami sangat besar kepada istrinya. Jika bukan kepada Suami Istri meminta tolong, Dimana lagi? Aku harus bernaung?


Sedangkan Zaidan benar-benar sibuk di Intansinya. Dan ini sudah sejak 6 bulan terakhir.


"Dia sangat imut!" kata kak Lucky dengan melihat Graha yang sedang tertidur.


"Kak Lucky bisa duluan, nanti Saya yang akan mengantar kuncinya!" kataku sengaja menjaga jarak.


"Jika Suamimu sudah menjemputmu, nanti Aku akan sembunyi agar tidak ada salah faham. Kamu tenang saja" kata Kak Lucky.


"Deg"


Memang dari dulu Dia seperti itu padaku.


"Tik!"


"Tik!"


"Tik!"


Hening, hanya suara hujan dan jam dinding yang bersuara.


"Kamu yakin sudah menelvonnya?" tanya kak Lucky.


"Sebenarnya ponselnya tidak bisa dihubungi. Mungkin batreinya habis" kataku.


"Astaga, pantesan" kata kak Lucky.


"Kalau begitu Aku akan meminta tolong kepada Aniya" kata kak Lucky.


"Jangan Kak, bagaimana pun Dia perempuan. Kasihan kalo dipanggil kembali hujan-hujan seperti ini" kataku.


"Kalau begitu,,, Aku akan menemanimu di sini hingga hujan ini reda" kata kak Lucky.


"Tik, tok, tik, tok"


Jam dinding yang sedang menatap Kami terus saja membunyikan detiknya.


Hujan yang tadinya deras kini mulai memudar. Namun tetap masih saja gerimis yang cenderung tenang.

__ADS_1


"Jika hujannya seperti ini, sepertinya akan lama jika menunggunya reda" kata kak Lucky.


Sementara Aku, dengan begitu berhati-hati melepaskan Graha dari pangkuanku.


Lalu Aku segera berlari ke belakang untuk mengambil jas hujan yang selalu tersimpan di jok motorku.


"Kak Luck, tolong nitip Graha sebentar. Saya mau ke parkir untuk mengambil jas hujan" kataku.


Kak Lucky menganggukkan kepala.


Segera Aku bergegas mengambilnya dan cepat kembali.


Saat Aku hendak masuk kembali ke ruangan kantor. Tak sengaja Aku melihat kak Lucky begitu lembut pada Graha. Dia membelai beberapa kali rambut depannya.


Hal yang memang paling Aku sukai pada laki-laki adalah bagaimana dari kelembutannya.


"Dia sangat imut sepertimu!" kata Kak Lucky.


"Benarkah?" kataku.


"Aku akan pulang dengan jas ini!" kataku.


"Sepedaku juga sudah Saya taruh di depan. Jadi Saya akan mengendongnya terlebih dahulu" kataku.


"Kamu yakin bisa sendiri?" kata kak Lucky.


"Sudah makananku sehari-hari, jadi jangan khawatir" kataku.


"Aku tidak pernah percaya jika Kita dipertemukan lagi Milanie" kata kak Lucky.


Perkataan kak Lucky mampu menghentikan gerakanku saat itu juga.


"Mungkin memang Kita adalah sahabat sejati. Jadi, Allah mempertemukan Kita" kataku.


"Memang sepertinya itulah takdir posisiku ya" kata kak Lucky.


"Kamu terlalu cepat untuk menikah, kenapa sangat terburu-buru?" kata Kak Lucky.


"Karena sebuah keadaan, situasi, dari keluarga juga dan kondisi. Yang membuatku terpaksa untuk menikah. Bukan karena Aku ingin, tapi memang takdir" kataku.


"Bagaimana mungkin ada pernikahan hanya karena takdir. Kalo nggak mau kan tinggal nolak gampang" kata kak Lucky.


"Perempuan tidak ada di posisi itu kak, selain karena dunia luar yang selalu bahaya bagi perempuan. Juga sebagai anak perempuan, harus dituntut bisa menjujung nama baik atas kedua orang tuanya. Itulah letak posisi kehidupan seorang perempuan. Dan laki-laki tidak akan pernah mengerti" kataku.


"Saya pulang dulu kak, Saya minta tolong. kuncinya,,," kataku terpotong oleh kak Lucky.


"Iya, biar Saya yang mengurusnya" kata Kak Lucky.


"Terimakasih banyak kak Luck" kataku.


Aku menggendong Graha dan membalutnya dengan jas hujan bersama naik sepeda.


Tak lupa juga memakai helm di kepala.


"Inilah kekuatan seorang Ibu. Dia rela membawa anaknya dan bekerja. Tetap mengurusnya meski Dia sendiri sangat sibuk dan sedang tidak baik-baik saja" batinku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2