
Melihat bosnya yang sangat mesum. Bella hari itu untuk pertama kalinya tidak bersemangat dalam perjalanan pulang.
Dia menundukkan kepalanya, melihat watak atasannya yang tidak pernah main-main dalam ancamannya. Membuat Bella takut, bagaimana pun meski Bella seorang yang tidak punya. Bukan berarti Dia harus memberikan seluruh harga dirinya.
Setelah kedatangannya dari bekerja, Bella sering melamun dan terdiam.
Mengurung diri di kamarnya.
Banyak pertimbangan-pertimbangan yang Dia fikirkan. Apakah Dia harus berhenti bekerja?
Atau bercerita ke Ayah tentang semua ini?
Pasti kedua orang tuanya lah yang paling tahu jawaban dari semua pertanyaan di atas. Karena kedua orang tua telah lebih lama menjalani rintangan hidup dan merasakan kehidupan orang dewasa.
Tapi, saat Bella mulai bekerja. Teringat bayangan betapa bangganya kedua orang tuanya yang mendengar putrinya mendapat pekerjaan. Apalagi bekerja di sebuah PT SEARCH yang besar. Membuat namanya bisa dibanggakan. Hal itu menjadi pertimbangan yang berat untuk Bella.
Akhirnya Bella memutuskan bercerita kepada kedua orang tuanya saat makan malam.
"Tok, tok, tok"
"Bella" panggil Ibunya.
"Tok, tok, tok"
Bella beranjak berdiri dan membuka pintu itu.
"Kamu belum makan, Ayo makan dulu nak!" perintah Ibu.
"Baik bu" jawab Bella sendu.
Di meja makan persegi yang sederhana, Mereka bertiga makan bersama-sama.
Dengan ragu Bella menceritakan apa yang di rasakannya tentang sikap bosnya itu.
"Bapak, boleh Bella bercerita sesuatu?" tanya Bella ragu.
Tangan Bapak Bella terhenti mendengar perkataan putrinya.
"Cerita saja nak, katakan tidak apa-apa" kata Bapak.
"Bapak, sebenarnya atasan Bella yang sekarang. Dia bahaya Pak" kata Bella.
"Bahaya bagaimana maksudmu?" kata Bapak.
"Dia orang yang mesum Pak, Dia juga tidak pernah mengerjakan tugas pekerjaannya. Semua diberikan pada Bella. Dan gaji Bella tidak bisa besar karena gelar Bella hanya SMA" kata Bella.
"Bella takut, suatu saat Dia mencabuli Bella Pak" kata Bella.
"Astaga, ternyata atasanmu seperti itu toh. Nggak nyangka Bapak. Sudah Kamu resign saja dari sana. Cara mencari uang itu banyak ndok. Nggak hanya di sana saja" kata Bapak.
"Iya Bel, Kamu langsung kasih surat pengunduran diri hari ini juga. Bagaimana pun harga diri anak Ibu lebih penting daripada uang" kata Ibu.
"Tapi tidak apa-apa Ibu, Bapak?" kata Bella.
"Ini demi kebaikanmu Kamu harus segera berhenti bekerja dari sana secepatnya" kata Bapak.
__ADS_1
"Terimakasih Ibu,,," kata Bella.
"Terimakasih Bapak,," kata Bella.
"Dengan ini Aku beruntung telah diberikan orang tua yang baik. Jika Mereka lebih haus uang, pasti Aku justru dipaksa menggodanya agar dapat gaji yang lebih besar. Tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka lebih mengarahkanku pada jalan kebaikan" batin Bella.
Malam itu sekaligus, Aku mulai mengetik surat pengunduran diri.
"Bekerja bisa dimana saja, asal suasananya nyaman dan aman. Itu sudah lebih dari cukup" gumam Bella.
"Daripada kesucian masa depanku dipertaruhkan di sini, Aku lebih memilih mundur di tengah perjalanan. Dan mencoba mencari rute yang lain untuk mencapai tujuan" gumam Bella.
"Klik, klik, klik"
"Akhirnya selesai" gumam Bella.
...****************...
Keesokan harinya, Bella langsung menyerahkan surat pengunduran diriku di meja Pak Angga.
Mata Pak Angga membulat melihatnya. Melihat memang selama ini, hanya Bella yang mengerjakan semua pekerjaannya. Tentu Pak Angga sedikit bimbang akan melepasku.
"Bella, apa Kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini?" kata Pak Angga.
"Iya Pak Saya yakin" jawab Bella.
"Baik kalau begitu, Surat ini akan Saya ACC. Dengan syarat Kamu harus mempersiapkan pekerjaanmu untuk bisa ditinggalkan. Setidaknya 1 bulan lagi. Dan kalau bisa Kamu juga harus bisa mencari penggantimu selama itu" kata Pak Angga.
"Kalau tidak ada pengganti bagaimana Pak?" kata Bella.
"Duh, mau keluar saja juga susah" batin Bella.
"Sekarang kerjakan ini!" perintah Angga kepada Bella.
"Baik Pak" jawab Bella.
Setelah itu, Angga langsung beranjak pergi keluar dari ruangannya.
"Kalo Aku di suruh cari pengganti, Aku akan coba buat status di wa saja. Mungkin barangkali ada temanku yang berminat" gumam Bella.
...****************...
Angga melakukan aksinya seperti biasanya. Menagih cicilan pelanggan dengan kenaikan harga.
Tanpa Angga sadari, jika di sana juga sedang ada Pak Ramli yang sedang mengawasinya.
Pak Ramli telah mendengar isus-isus dari salles marketing dan pelanggan.
Hanya saja kali ini Pak Ramli ingin lebih memastikan, apakah isus itu benar atau hanya mengada-ada.
Dari jarak 50 meter Pak Ramli menamati gerak-gerik Angga.
Melihat betapa lihainya Angga melakukan aksinya. Tentu, sudah terlihat jika selama ini Angga telah biasa melakukan penggelapan dana.
Pak Ramli curiga tentang sikap Angga yang lebih memilih untuk menjadi pengurus setoran pelanggan.
__ADS_1
"Angga, sebenarnya apa yang sedang Kamu sembunyikan?" gumam Pak Ramli curiga dengan tingkah laku Angga dari kejauhan.
Sedangkan Angga terlihat sedang meminta setoran dana kepada pelanggan.
"Apakah ada kenaikan harga lagi?" tanya salah satu pelanggan di sana.
"Sementara ini belum" jawab Angga.
"Berarti nanti ada kenaikan harga lagi?" tanya salah satu pelanggan.
"Tidak tahu, lihat pasar nanti" Jawab Angga dengan menghitung uang setorannya.
Tak sengaja Pak Ramli mendengar percakapan Mereka.
"Kenaikan harga? Apa maksudnya itu?" gumam Pak Ramli.
Tak lama Angga selesai menerima setoran semua pelanggan.
Salah satu pelanggan lewat di depan Pak Ramli dan bergumam.
"Tega sekali, harga selalu di naikkan. Sudah pendapatan pas-pas an buat kebutuhan, eh ini dipakai cicilan rumah naik terus" gumam salah satu pelanggan.
Pak Ramli menghampiri salah satu pelanggan yang berceloteh itu. Dan menanyainya.
"Maaf Pak, sebenarnya ada masalah apa?" tanya Pak Ramli.
"Itu lho Pak, Saya saranin jangan beli di perumahan ini. Di sini harganya selalu naik. Kalau berhenti di tengah jalan, cicilan nanti juga kena denda. Saya sudah terlanjur terjun Pak, jadi daripada dapet denda. Dengan terpaksa Saya harus lanjut. Gak tau sudah uangnya darimana" kata salah satu pelanggan.
"Lha,,, kok harganya bisa naik?" tanya Pak Ramli heran.
Karena selama ini, di kantor tidak ada informasi tentang kenaikan harga sama sekali.
Dari kejauhan, Angga melihat keberadaan Pak Ramli.
Angga sedikit terkejut dengan kunjungannya. Tentu Angga sedikit was-was dengan kedatangan Pak Ramli.
Angga menghampiri Pak Ramli.
"Pak Ramli, ada perlu apa kemari?" tanya Angga.
"Aku harus berpura-pura tidak mengerti apapun. Sebelum menemukan bukti yang kuat" batin Pak Ramli.
"Tidak ada, Saya hanya melihat-lihat design perumahan Kita. Hasil dari kolaborasi ide Zaidan dan bu Putri" jawab Pak Ramli.
"Owh, dari zaman dinosaurus dulu baru sekarang Pak Ramli baru melihat ya Pak" kata Angga sedikit mengejek.
"Iya" jawab Pak Ramli.
"Gimana sih, Manager Marketing tapi tidak tahu detail produknya. Makanya jangan heran pasar semakin sepi. Managernya aja tidak tahu bentuk designnya" sindir Angga.
Wajah Pak Ramli memerah menahan sindiran yang dihantamkan oleh Angga. Dia terpaksa menahan emosinya yang berkobar. Demi rencananya untuk membuka kebusukan Angga selama ini.
"Tahan emosimu Ramli. Sebelum semuanya ada bukti nyata" batin Pak Ramli.
...----------------...
__ADS_1