Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 10: Tawaran Keputusan


__ADS_3

Saat Zaidan masuk, Aku telah tertidur pulas.


Tepat saat Zaidan masuk Graha telah terbangun dan bermain sendiri. Zaidan tersenyum melihatnya lalu menghampirinya dan menyapanya.


Zaidan menemani Graha bermain kali ini. Tanpa mengganggu tidurku yang pulas saat itu.


"Graha, bermain apa nak?" tanya Zaidan pelan.


"Main sama Ayah yuk!" kata Zaidan.


Graha hanya melihat dan sedikit takut pada Zaidan.


"Kenapa takut? Ini Ayahmu nak" kata Zaidan.


"Sini!" kata Zaidan.


Awalnya Graha sedikit takut dengan kedatangan Zaidan. Karena Zaidan adalah orang asing baginya. Sudah ada setengah tahun Mereka tidak bertemu.


Walau demikian, Zaidan tetap mendekati Graha. Lama-lama Graha telah terbiasa dengan kehadiran Zaidan.


Mereka bermain hingga larut. Tak terasa mata Zaidan sudah terasa kantuk.


Sedangkan Graha masih saja aktif berjalan kesana kemari.


Zaidan menutup pintu kamar. Lalu membaringkan tubuhnya.


Meski Graha bermain, yang terpenting Graha tidak keluar kemana-mana.


Aku yang saat itu telah tertidur pulas dan kesadaranku menghilang. Tanpa Aku sadari, tanganku meraih pinggang Zaidan dan memeluknya bagaikan orang yang sedang memeluk guling.


Zaidan yang terasa kantuk berat itu. Mendadak terpaku dengan rangkulanku.


"Glek"


Zaidan menelan salivanya. Ditambah lagi Dia memang sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri. Tentu saja gerakanku mampu membangunkan adik Zaidan yang tadinya tertidur.


Zaidan melihat wajahku. Rasa rindunya membuat Dia semakin menggebu-gebu. Jangan tanya dengan detak jantungnya.


Berdetak kencang.


Melihat Graha yang masih terjaga dan Aku terlihat pulas. Zaidan hanya bisa menahan rasa biologisnya.


"Kamu sendiri yang memancingku Milanie!" gumam Zaidan.


"Jangan salahkan Aku jika Aku melakukan sesuatu saat Kamu bangun nanti" gumam Zaidan.


"Buk!!!!"


"Aw" Spontan Zaidan.


Tidak lama Zaidan dilempari salah satu mainan oleh Graha.


"He, he, he," Graha tertawa melihat hasil tingkahnya sendiri.


Suara dan gerakan badan Zaidan membuatku terbangun dari tidurku.


Dan, siapa yang menyangka, saat Aku membuka mata. Aku benar-benar tidak percaya sedang memeluk tubuh Zaidan.


Dengan spontan Aku mendorong Zaidan dengan keras dari ranjang.


Menyebabkan Zaidan jatuh dari ranjang.


"Aw, Kau!" Spontan Zaidan.

__ADS_1


"Astaga, apa yang talah Aku lakukan" gumamku.


"Kenapa Kamu ada di sini?" kataku.


"Seharusnya Aku yang marah. Kenapa Kamu mendorong Suamimu sendiri?" kata Zaidan.


"Kamu!! benar-benar" kataku gemas dengan tingkah Zaidan yang tidak pernah menyerah.


Meski Aku penuh emosi. Aku melihat Graha sedang bermain.


"Tidak baik jika Aku bertengkar dengan Zaidan di depan Graha" batinku.


"Graha" kataku.


"Kamu bangun nak" kataku.


"Sini sama Ibu" kataku.


"Sudah mendorong orang. Tidak ditolong atau minta maaf kek. Jahat sekali sih" gerutu Zaidan.


Mendengar celoteh Zaidan membuatku mengatakan maaf padanya.


"Maaf" kataku cetus.


"Graha ayo kita bobok di luar yuk! Di sini gerah sekali rasanya" kataku.


Melihatku beranjak pergi akan keluar dari kamar. Zaidan segera meraih salah satu lenganku.


"Kamu mau kemana?" kata Zaidan.


"Keluar" kataku cetus.


"Tidak boleh, Kamu harus bertanggung jawab" kata Zaidan.


"Tanggung jawab apa'an sih" kataku tidak mengerti.


"Jelas-jelas ada Graha Kamu tidak malu dengan anakmu? Dasar pria mesum" kataku.


Aku beranjak pergi melanjutkan langkahku yang tadi.


"Tunggu!" kata Zaidan.


"Apa lagi sih?" kataku sebal.


"Jika Graha tidur. Kamu mau bertanggung jawab?" kata Zaidan.


"Graha tidur atau tidak. Aku tidak akan bertanggung jawab atas apapun. Tadi juga Aku tidak sengaja. Toh siapa juga yang menyuruhmu tidur di sini" kataku.


"Kenapa hatimu sekeras batu!!!" pekik Zaidan.


Melihat sikapku yang tidak lembut seperti biasanya. Sikapku yang lama kelamaan semakin acuh tak acuh kepadanya. Membuat Zaidan lama-lama merasa kesal kepadaku.


"Apakah perlu Aku jawab? Sepertinya Aku sudah memberimu jawaban berkali-kali. Bahkan sudah puluhan kali. Aku seperti ini, Kamu tahu sendiri sebabnya apa" kataku.


"Kalau memang Kamu mau Kita berpisah. Graha harus ikut denganku" kata Zaidan.


"Aku Ibunya, Aku yang melahirkannya. Aku yang berhak atas dirinya" kataku.


"Aku juga memiliki hak atas Graha. Aku adalah Ayahnya. Bagaimana kabarnya jika Dia Kamu tinggal bekerja" kata Zaidan.


"Lalu jika ikut denganmu? Bagaimana kabarnya jika Graha Kamu tinggal bekerja, mengurus orang tuamu dan mengurus selingkuhanmu" kataku.


"Kenapa Kamu menyebutku selingkuh?" kata Zaidan.

__ADS_1


"Kamu tidak sadar dengan perasaan Putri. Sudah berkali-kali Dia selalu merendahkanku dan memojokkanku. Dan itu dimulai saat Aku menikah denganmu Zaidan" kataku.


"Astaga, Putri hanya rekan kerja" kata Zaidan.


"Rekan kerja tapi hingga memojokkanku maksudnya apa?" kataku.


"Aku tidak tahu tentang itu" kata Zaidan.


"Sudahlah. Pulanglah saja" kataku.


Zaidan menarik lenganku bersama Graha ke dalam kamar. Lalu menutup pintunya.


"Kamu cemburu?" kata Zaidan.


"Tidak, untuk apa Aku cemburu. Toh Aku sudah menganggapmu bukan siapa-siapa lagi" kataku.


"Lalu kenapa Kamu marah tentang Putri?" kata Zaidan.


"Siapa yang marah? Aku hanya kesal diperlakukan seperti itu" kataku.


"Kalo Kamu kesal kepada Putri karena cemburu. Aku akan menjauhinya" kata Zaidan.


"Sudah ku bilang Aku tidak cemburu. Kamu itu keras kepala sekali sih" kataku.


"Aku bersungguh-sungguh denganmu Milanie" kata Zaidan memegangi lenganku dengan begitu erat dengan tatapan yang tajam.


"Baiklah. Kita mulai dari Putri. Kita selesaikan masalah yang membuatmu ingin berpisah satu per satu" kata Zaidan.


Zaidan meraih ponselnya yang berada di saku celananya sebelah kanan. Lalu Dia mencari daftar kontak ponselnya. Ada tulisan Putri di sana. Zaidan mengekliknya.


"Lihat ini! Aku akan menghapus kontaknya" kata Zaidan.


Tanpa ragu Zaidan menghapus nomer ponsel Putri.


Entah kenapa, seketika Aku merasa Zaidan memang sedang bersungguh-sungguh kepadaku. Kali ini, Aku merasa Zaidan mulai memikirkan perasaanku. Sebagai istrinya.


"Sekarang masalah yang membuatmu ingin berpisah apa lagi?" kata Zaidan.


Dari tadi Zaidan yang berceloteh. Aku hanya diam dan melihat apa yang dilakukannya. Melihat bukti atas perkataannya.


"Ibuku?" kata Zaidan.


Aku tertegun mendengar perkataan yang terlontar dari Zaidan saat itu. Seketika hatiku tergoncang mendengarnya.


"Kita tinggal pisah saja. Tapi, saat ini Aku masih belum ada dana untuk membangun rumah. Karena dananya masih dipakai oleh Ayah memulai usaha. Bagaimana jika kita mengontrak rumah saja terlebih dahulu" kata Zaidan.


"Tapi, Kamu tidak bisa bekerja lagi" kata Zaidan.


"Akan Aku fikirkan terlebih dahulu" jawabku.


"Sekarang lepaskan Aku!" kataku.


Zaidan melepaskanku seperti perintahku.


Lagi-lagi hatiku gundah dengan tawaran keputusan Zaidan yang dijelaskannya tadi.


Aku pribadi sudah sangat nyaman menjalani kehidupanku saat ini. Masih dapat berkarir. Meski sudah berstatus seorang Ibu.


Tapi melihat lagi pada Graha. Jika Aku lebih mementingkan karirku.


"Bukankah Aku Ibu yang egois?" pikirku.


Bagaimana pun yang lebih dibutuhkan oleh seorang anak adalah kasih sayang, waktu dan perhatian dari orang tuanya. Uang hanya penunjang kebutuhan jasmaninya saja.

__ADS_1


Lagi-lagi hatiku tergoncang. Antara keinginanku dan kebahagiaan anakku.


...----------------...


__ADS_2