Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 32: Penasaran


__ADS_3

Di dalam ruangan kotak persegi dengan luas 4 X 4 M.


Sosok Lelaki duduk di kursi hitam bersama meja di depannya.


Tak sekali Dia menengok ponsel yang tergeletak di mejanya.


Sudah ke 7 kali Dia mengecek ponsel. Dalam diamnya, berharap ada pesan wa yang masuk ke ponselnya.


Mengingat bisikan dari wanita yang dikaguminya sejak lama.


Kak Lucky memencet tombol ponsel berkali-kali. Namun, tak ada satu pesan yang masuk di ponselnya.


"Apa pekerjaannya sebanyak itu hingga lupa dengan perkataannya sendiri?" gumam Kak Lucky.


"Sepertinya Aku perlu melihatnya" gumam Kak Lucky beranjak dari kursi empuknya.


Dengan kaki panjang yang menyilang. Tangan berpangku mendekap bawah dadanya. Tubuh yang bersandar di tembok setelah pintu masuk kantor Karyawati.


Dari jarak 3 meter, Kak Lucky melihatku.


Aku yang sedang focus dengan pekerjaan. Membuat tidak sadar dengan kehadirannya.


"Bu Milanie?" panggil kak Lucky.


"Iya" jawabku.


"Mari ikut Saya ke kantor" kata kak Lucky.


Semua pandangan staff perempuan tertuju padaku dan bertanya-tanya. Sosok Kak Lucky yang terkenal anti perempuan. Baru kali ini mau memanggil salah satu staff dan diajak ke ruangan kantor pribadinya.


Sebuah panorama yang tidak asing bagiku. Dulu Zaidan juga bersikap seperti ini padaku.


Seperti dunia sedang memutar cerita lamaku saat Aku sebelum menikah.


Dengan banyak tanda tanya pula. Aku mengikuti perintah kak Lucky.


"Duduk!" kata kak Lucky.


Aku duduk di depan mejanya.


Kak lucky diam dan hanya memandangku. Layaknya orang yang ingin menebak keinginanku.


"Ada yang lupa?" tanya kak Lucky.


"Apa?" tanyaku.


"Orang tanya, malah balik tanya" kata kak Lucky.


"Saya benar-benar tidak mengerti maksud Pak Lucky, jadi Saya bertanya" jawabku.


"Formal sekali" kata kak Lucky.


"Sepertinya tadi pagi ada yang membisikkiku untuk mengirim sebuah pesan wa" kata kak Lucky.


"Owh, itu sebenarnya tentang hal diluar pekerjaan" kataku.


"Benarkah? Apa?" tanya kak Lucky penasaran.


"Aniya menyukaimu kak" kataku.


"Aniya? Itu yang mana?" kata kak Lucky.


"Ha? Kak Lucky sudah berapa tahun bekerja di sini masih belum mengenal nama itu?" kataku terkejut.


"Aku memang tidak terlalu mengenal staff perempuan di sini. Karena kadang Mereka berganti-ganti. Jadi buat apa Aku hafalin namanya" kata kak Lucky.


"Makanya semua orang terlihat terkejut saat kak Lucky memanggilku tadi" kataku.


"Kamu membisikiku karena ingin mengirim pesan itu?" kata Kak Lucky.


"Iya" jawabku.

__ADS_1


"Ya sudahlah. Saya kira penting" kata kak Lucky kecewa.


"Baiklah. Saya izin kembali" kataku.


"Iya" kata kak Lucky.


"Haz,,, Aku pikir Dia berubah pikiran tentang pernikahannya" batin kak Lucky.


"Laki-laki macam apa yang tega membiarkan istrinya bekerja dan melahirkan anak" batin Kak Lucky.


...****************...


"Mau kemana Luck?" tanya bu ketua.


"Pulang" jawab Lucky tanpa menoleh ke arah bu Ketua melanjutkan langkahnya.


"Wah,,, enak sekali jadi asisten direktur ya? Bebas. Tapi gaji tetap" kata bu Ketua.


Seketika kak Lucky menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Bu ketua.


"Tentu saja. Bukankah yang dicari manusia adalah rasa enak. Aku tidak akan bertahan di sini jika tidak enak. Benar tidak? Hahaha" jawab Kak Lucky bercanda.


"Iya sudah terserahmu" kata Bu Ketua.


Dari balik jendela tembus pandang di ruang kantor. Aniya melihat Kak Lucky yang pulang saat jam istirahat siang dari jarak jauh.


"Bahkan saat Dia berjalan saja terlihat sangat tampan" gumam Aniya dengan meragakan jari telunjuk dan jempolnya untuk mengangkat Lucky dari balik jendela.


Bagai orang yang sedang mengambil sesuatu yang sangat Dia inginkan.


Tapi, seketika raut wajah Aniya berubah saat teringat bagaimana perhatian Lucky yang sangat berbeda kepada Milanie.


"Ini semua gara-gara keberadaan Milanie yang membuat hancur PDKT ku. Haz,, dasar emak-emak yang haus laki-laki" gumam Aniya dengan melirik sinis padaku.


Tanpa mendengar gumamannya. Aku tahu benar expresi apa yang telah Dia hadirkan di wajahnya.


Tapi Aku tidak ingin ambil pusing. Yang terpenting tujuanku di sini adalah mencari uang untuk powerku sendiri.


...****************...


Zaidan mengajakku untuk menjemput Graha di rumah Ibu Mertua.


"Ayo yang, Kita jemput Graha!" ajak Zaidan.


Berhubung Aku juga masih santai, Akhirnya Aku menyetujui ajakan Zaidan untuk menjemput Graha di rumah Ibu Mertua.


Kami pergi naik kendaraan mobil Zaidan.


Perjalanan Kami hanya membutuhkan waktu 10 menit. Karena jarak Kami yang tidak terlalu jauh.


Bisa dibilang satu kota, tapi bukan tetangga.


Saat Kami datang, Ibu mertuaku menyambut kedatangan Kami.


Setelah Kami saling berbincang beberapa menit. Lalu Zaidan langsung mengambil Graha. Karena jika langsung pulang, itu etika yang kurang sopan terhadap orang tua.


"Lah, emang paling enak itu buat anak. Urusan yang ngurus kasih neneknya" sindir Ibu mertua.


"Kamu kerja itu uang saja yang dipikirin" celotehnya.


"Padahal Suaminya sudah kerja jadi CEO lagi. Eh kurang muluk. Kok kurang bersyukur jadi istri" sindirnya.


"Berhenti kerja saja, punya anak kok ditelantarkan!" perintah Ibu mertua.


"Astaga, kata-kata apa lagi yang Ibu mertuaku ucapkan Tuhan" batinku.


"Aku tidak ingin marah. Tapi kenapa hatiku sakit. Jika Aku berteriak, apakah ada yang mau mendengar?" batinku.


Akhirnya, Aku tidak marah, atau berteriak. Melainkan memendam amarah dan akhirnya hanya menangis.


Seberat inikah ujian dari seorang istri?

__ADS_1


Rasanya sakit namun tak berdarah.


Dan yang lebih menyakitkan. Hanya Aku seorang yang tahu rasanya. Tidak dengan orang lain.


Mereka hanya melihat senyumku saat rasa sakitku tidak terlihat.


Yang Mereka lihat hanya betapa beruntungnya Aku memiliki Zaidan.


Istri seorang CEO.


Padahal, laki-laki yang melambung tinggi dan berjabat tinggi. Justru akan banyak godaan yang menghampiri. Dan akan ada ujian rasa sombong yang terbesit hadir di hatinya.


Kecuali Mereka laki-laki yang tidak merasa memiliki apapun dan faham Agama.


Bukan laki-laki yang hanya hafal ilmu atau laki-laki yang hanya hafal Kitab. Melainkan Laki-laki yang faham dari seluruh akar Agama. Dan melakukan perwujudan dari pedomannya.


...****************...


Tring!!!


Ada pesan wa masuk di ponsel Zaidan.


Saat Zaidan menyetir mobilnya. Zaidan hanya melihat layarnya sebentar lalu meletakkan ponselnya kembali.


Aku yang kebetulan duduk di sampingnya dengan memangku Graha.


Melirik sedikit gerak-gerik Zaidan. Namun tak terlihat siapa yang memberinya pesan.


Entah kenapa Aku merasa,,,,


Seperti ada yang disembunyikan olehnya.


Walau Aku merasa demikian. Aku lebih menetralkan fikiranku kembali.


"Sepertinya hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan" batinku.


Tak lama mobil yang dikendarai Zaidan telah berhenti.


Menyimbolkan bahwa Kami telah sampai di rumah 🏡.


Zaidan keluar dan tak lupa mengambil ponselnya untuk dimasukkan ke saku celana.


Tak menghiraukanku seperti awal pernikahan dahulu. Dia lebih memilih langsung berjalan masuk tanpa membantu membukakan pintu tempat dudukku.


"Kenapa Dia menjadi Dingin?" batinku.


"Mungkin Dia kecapean" batinku.


Saat Aku masuk, Zaidan menjadi lebih sibuk dengan ponselnya.


Membalas chat dan berbaring di ranjang.


Tak lama, Dia tertidur.


Aku melihat wajahnya, memang terlihat lelah.


Tapi,,,


Adakalanya Aku merasa penasaran. Dengan siapa Dia saling mengechat?


Saat Aku mencoba meraih ponselnya.


Ternyata Zaidan masih belum tertidur pulas.


Dia melihat tanganku sedang meraih ponsel yang Dia geletakkan di meja dekat ranjang kamar.


"Apa yang sedang Kamu lakukan?" tanyanya dengan melihatku.


Seketika jantungku kaget seperti maling yang sedang tertangkap basah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2