
Untuk Mereka yang melihat dari luar. Sebuah Adorasi seorang Suami lebih terlihat dibandingkan dengan Adorasi seorang Istri. Karena Suami lebih sering terlihat di luar dibandingkan tugas seorang Istri.
Padahal, Adorasi seorang Istri tidak kalah besar untuk Suami dan keluarganya.
Saat itu, Kami berangkat menuju ke rumah Zaidan.
Hening, tanpa suara apapun di dalam perjalanan.
Jangan tanya dengan kabarku saat itu. Akara-akara gelabah sedang membumbui Daksaku.
Menjadi eminser pada Citta dan membentuk sebuah matrik dalam sebuah hubungan.
Walau demikian, Aku tetap teguh untuk menghadapinya.
Setelah beberapa menit Kami akhirnya sampai.
"Lagi-lagi Aku harus kembali ke sini" batinku.
"Tapi ini semua demi Graha" batinku.
"Kriiiiieeeekkk!!!" pintu depan dibuka.
Terlihat sepi, Aku juga belum bertemu dengan sosok yang berhasil memberiku trauma tentang hidup.
Zaidan melangkah masuk ke kamar. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Dia terlihat lelah.
Sedangkan Aku hanya duduk di ruang tamu. Meski Zaidan masih menganggapku sebagai istrinya. Tapi Aku tetap merasa asing saat kembali ke rumah bagai neraka ini.
Tak lama, Ibu mertuaku berjalan dengan menggendong Graha di ruang tamu.
Dia melihatku dengan lirikkan meremehkan dan tidak suka. Apalagi saat ini wajahku tidak kupoles bedak sama sekali. Karena telah banyak menerima hantaman masalah. Membuat wajahku terlihat semakin jelek dibandingkan dengan wajahku saat masih bujang dahulu.
"Oh, Kamu ke sini? Kok terlihat belum mandi" kata Ibu mertua.
Aku diam.
"Sampai kapan Kamu akan bekerja meninggalkan Graha? Anak masih kecil sudah ditinggal. Ibu macam apa sih" kata Ibu mertua.
"Seharusnya, Aku yang bertanya Ibu. Sampai kapan seorang istri akan mendapatkan haknya? Siapa yang memiliki tanggung jawab? Tapi siapa yang dituntut melakukan semuanya?" jawabku.
"Apa maksudmu? Maksudmu selama ini anakku tidak bertanggung jawab? Dia banting tulang dari pagi sampai malam. Kamu yang seharusnya sadar diri. Sudah jelek tapi mintanya yang tinggi-tinggi" kata Ibu mertua.
"Aku tidak pernah meminta Ibu. Aku lebih suka dengan hasilku sendiri. Makanya, Aku kembalikan Zaidan padamu Ibu" kataku.
"Dasar anak dan istri durhaka. Dibilangi Orang tua malah jawab" kata Ibu Mertua.
Luka-luka yang selama ini terpendam. Kini Aku luapkan tanpa melihat siapa yang ada di depanku.
Memang orang tua adalah orang yang harus dihormati. Tapi jika Mereka keterlaluan. Apakah tidak boleh Kita menjawabnya.
Sejatinya menjadi anak adalah tugas yang berat. Belum lagi tugas sebagai seorang istri kepada Suaminya.
Di sini, kewarasan seorang istri sangat dipertanyakan. Karena statusnya yang harus kalah dan mengalah.
"Saya kemari hanya untuk menjemput Graha" kataku tegas.
__ADS_1
"Buat apa dijemput jika Kamu bekerja? Graha pasti tidak akan keurus jika ikut denganmu" kata Ibu mertua.
"Saya bekerja untuk bisa menafkahi Graha. Saya tidak akan meminta sedikit pun uang dari Zaidan" kataku dengan meraih Graha kuat-kuat.
"Oek, oek, oek" Graha menangis.
"Kamu menyakitinya. Ibu macam apa sih Kamu" kata Ibu mertua.
"Serahkan Graha padaku. Aku yang mengandungnya dan melahirkannya" kataku.
"Zaidan" panggil Ibu mertua.
Zaidan segera datang dan terkejut dengan suasana di sana.
"Kenapa Kamu membawa perempuan ini kemari? Ceraikan saja perempuan ini dan kembalikan kepada kedua orang tuanya" kata Ibu mertua dengan membawa Graha.
"Engkau adalah seorang Ibu, seharusnya engkau tahu. Bagaimana rasanya seorang Ibu dipisahkan dengan anaknya" kataku dengan tangis yang terisak.
"Orang yang paling jahat adalah orang yang memisahkan antara anak dan Ibunya" kataku.
"Aku tidak akan marah. Tapi Aku akan berdo'a agar semua istri diberi keadilan. Dimana Dia menerima haknya dengan cara yang baik. Bukan atas dasar karena nama baik" kataku.
Waktu itu, Zaidan memegang tanganku.
"Lepas Mas! memang sudah seharusnya Kita pisah" kataku.
Sebenarnya Aku ingin keluar dari rumah itu. Tapi Graha yang membuatku tidak bisa.
Bagaimana bisa Aku keluar tanpa Graha?
Aku hanya berdiri dan meneteskan air mata.
"Dunia begitu kejam. Apalagi untuk orang bawah sepertiku" batinku.
"Aku menyesal Kamu telah menikah dengannya Zaidan" kata Ibu mertua.
"Nasi sudah jadi bubur Ibu. Tidak ada yang perlu disesali" kata Zaidan.
"Dia itu anak menantu. Berani-beraninya menjawab Ibu dengan begitu lantang. Dasar tidak tahu diri" kata Ibu mertua.
"Mungkin ada alasan kenapa Dia seperti itu Ibu" kata Zaidan.
"Kamu membelanya?" kata Ibu mertua.
"Zaidan tidak membela siapa pun Ibu. Bagi Zaidan, Ibu dan Milanie sangat penting bagi hidup Zaidan" jelas Zaidan.
"Kenapa perempuan itu juga Zaidan? Dia hanyalah pendatang. Sedangkan Ibu adalah orang yang mengandung, melahirkan dan membesarkanmu" kata Ibu mertua.
"Benar, Ibu adalah orang yang paling berjasa pada hidup Zaidan. Tapi, Milanie adalah wanita yang Zaidan ambil dari orang tuanya" kata Zaidan.
"Jelas, saat ini Milanie hanya bisa mengandalkan Zaidan. Bukan orang lain" kata Zaidan.
"Zaidan, apa wanita itu telah mendukunimu?" kata Ibu mertua.
"Tidak Ibu, ini adalah pilihan dan keputusan Zaidan sendiri" jelas Zaidan.
__ADS_1
"Boleh Zaidan menggendong Graha?" tanya Zaidan.
Ibu menganggukan kepalanya. Kemudian Dia menyerahkan Graha kepada Zaidan.
Zaidan menghampiriku yang sedang menangis sendiri di kamar.
Dengan membawa Graha kepadaku.
"Kamu merindukannya?" kata Zaidan.
Aku mengangguk-anggukkan kepala dengan yakin.
"Sangat Mas. Sangat" jawabku.
Segera Aku meraih Graha dari gendongan Zaidan.
"Graha, Kamu pasti haus. Ayo Ibu beri Asi" kataku.
"Graha tidak mau diberi susu formula" kata Zaidan.
"Memang Dia tidak mau dipisahkan oleh Ibunya" kataku.
"Lalu saat Kamu bekerja bagaimana dengan Asinya?" tanya Zaidan.
"Tentu saja Aku menandonnya sebelum berangkat" jawabku.
"Aku harus lebih rajin saat memiliki anak. Jatah waktu tidurku juga berkurang drastis. Aku juga harus menyiapkan kedua bahuku kuat-kuat untuk mencari nafkah" kataku.
"Berhentilah bekerja. Biarkan Aku yang bekerja. Kamu hanya perlu mengurus Graha" kata Zaidan.
"Tidak bekerja akan membuatku tidak memiliki pilihan Mas" kataku.
"Maksudnya?" tanya Zaidan.
"Saat Aku tidak bekerja. Aku harus mengikuti setiap keputusanmu. Tanpa mendengar keinginanku. Jika Aku tidak melakukan demikian. Pasti Kamu tidak akan memberiku jatah bulanan" kataku.
"Suara hatiku di sini akan dipertanyakan Mas" kataku.
"Aku sudah mengalah tentang aktivitasku demi Graha. Di sisi lain, Aku juga harus mengalah demi kepimpinanmu" kataku.
"Tidak dipungkiri, power dari seseorang di mata manusia adalah saat Dia bekerja atau tidak" kataku.
"Sudah ku bilang memiliki peran ganda itu sangat berat" kata Zaidan.
"Dan menahan keinginan, mendengar perkataan remeh, direndahkan dan dipojokkan itu lebih berat Mas" kataku.
"Hari semakin gelap. Aku pamit pulang" kataku.
"Biar Aku antar" kata Zaidan.
Melihat keadaan Aku tidak membawa kendaraan saat pergi ke sini. Tentu terpaksa Aku harus menerima tawaran Zaidan.
"Baiklah" jawabku.
Zaidan mengantarku dengan mobilnya.
__ADS_1
...----------------...