
Ctaaaarrr!!! ⚡⚡⚡⛈️🌩️🌧️🌦️
Duarrr!!!!
Gludak, gludak, gludak!!!
Suara petir sedang bergemuruh ramai saling bersahutan satu sama lain.
Bersama hantaman ribuan peluru yang menembaki tapak Bumi.
Hari masih sangat pagi, tapi cuaca terasa murka.
Aku terbangun duduk di atas ranjang.
Dan saat Aku terbangun. Aku menengok ke samping tempatku yang tadinya berbaring.
Tidak ada siapapun di sampingku.
"Berarti Zaidan tidak pulang semalam" batinku.
Segera Aku bangkit di tempat tidur. Fikiranku sudah berperang. Hatiku berkecambuk. Banyak fikiran setan yang berlayar di kepalaku.
"Apakah Zaidan punya selingkuhan di luar? Hingga tidak pulang semalam?" batinku.
"Apa yang Dia lakukan hingga tidak sempat pulang dalam satu hari satu malam?" batinku.
"Apakah pada akhirnya hatinya telah menerima Putri? Yang merupakan menantu idaman kesayangan Ibunya?" batinku.
Fikiran-fikiran negatif kali ini berhasil menguasai otakku.
Dengan segera, Aku meraih ponsel dan segera ingin menelvon Zaidan. Untuk menanyakan kebenaran alasannya.
Jangan tanya dengan perasaanku yang sedang menggebu-gebu ingin demo besar-besaran kepada Suamiku sendiri.
Saat Aku menyalakan ponselku, ternyata Zaidan sempat mengirimiku pesan. Saat Aku telah terlelap. Sehingga belum tahu isi pesannya. Seketika rasa yang menggebu-gebu bagaikan api 🔥 yang berkobar seketika padam.
Setelah itu Aku membukanya.
Isinya adalah,,,
"Maaf Sayang,,, Kali ini Aku sedang di luar kota. Di sini hujan deras sekali. Aku ingin pulang tapi cuaca sangat tidak mendukung. Dan esoknya Aku harus bertemu dengan Investor di kota ini juga. Jadi Aku tidak bisa pulang. Love you Sayang. Happy nice dream" pesan Zaidan.
Hatiku seketika luluh membaca pesan dari Zaidan yang merupakan Suamiku itu.
Tring!!!
Dalam beberapa menit, ada sebuah pesan masuk lagi di ponselku.
"Sudah bangun? Kalo malas masak beli saja. Jangan terlalu capek" pesan dari Zaidan.
Saat Aku mau membalasnya, tak lama ada sebuah pesan masuk lagi di ponselku.
"Milanie, hari ini Kamu ke kantor?" pesan dari Lucky.
Melihat kedua pesan itu. Tentu Aku memproritaskan Suamiku yaitu Zaidan.
"Iya Sayang sudah, Iya nanti Aku beli saja. Aku masak buat Graha saja. Hati-hati di sana ya sayang" jawab pesanku.
Lalu Aku membalas pesan dari kak Lucky.
"Insyaallah Iya" jawabku.
"Hujannya lebat, suruh anterin Suamimu saja Mil. Anakmu juga kasian kalo kehujanan" jawab Kak Lucky.
Kemudian Zaidan juga membalas pesanku.
"Iya Sayang" jawab Zaidan.
"Suamiku masih di luar kota. Jadi Aku sendirian sekarang kak. Kakak nggak perlu khawatir tentangku" jawabku.
Tak sengaja Aku salah kirim pesan. Pesan yang seharusnya untuk Kak Lucky telah terkirim ke Zaidan. Dan Zaidan telah membacanya.
__ADS_1
"Astaga???" sontakku kaget tidak menyadari yang telah Aku lakukan.
"Bagaimana ini?" gumamku dengan bermondar-mandir ke sana kemari.
"Zaidan pasti salah faham" batinku.
Segera Aku mengirim pesan ke Zaidan.
"Sayang, itu temen kantorku. Maaf Aku salah kirim" pesanku.
"Iya" jawab Zaidan.
"Sayang marah?" tanyaku.
"Kenapa tanya begitu?" balas Zaidan.
"Aku takut Kamu salah faham" jawabku.
"Tidak, Dia temanmu. Ya sudah apa yang perlu di salah fahami? Lain kali jangan salah kirim pesan lagi ya sayang" jawab Zaidan.
"Beneran nggak apa-apa?" tanyaku masih khawatir.
"Iya" jawab Zaidan.
Karena setahu Zaidan teman kantorku semua adalah perempuan. Zaidan belum tahu tentang keberadaan kak Lucky.
Karena Kak Lucky Asisten khusus Direktur. Jadi Dia lebih sering di luar daripada masuk kantor.
Tak lama ada notif pesan masuk lagi di ponselku.
"Mil?" pesan dari kak Lucky.
"Iya" jawabku.
"Kamu berangkat sama Suamimu kan?" pesan Kak Lucky.
"Maaf Kak, menurut Saya ini sudah bukan lagi hal pekerjaan. Jadi, kak Lucky tidak perlu khawatir padaku" jawabku.
"Iya kak, tapi Saya hanya takut ada yang salah faham. Jadi, kak Lucky tidak perlu khawatir apapun lagi pada Saya" jawabku tegas.
Kak Lucky hanya membalas emot jempol.
"👍"
Dan pesan Kami berakhir sampai di situ.
...****************...
"Ternyata Kamu masih perawan ya manis,,, hahaha" kata Nico berbangga diri.
Sedangkan Bella kini lemas tak berdaya. Tergeletak lunglai di atas ranjang. Entah dimana ototnya yang selama ini kuat untuk digunakan bekerja. Kini tubuhnya seperti hanya daging tanpa tulang dan otot. Dengan keadaan tali yang masih melilitnya.
Bella lemah tak berdaya.
Tatapan matanya kosong.
Rambutnya berantakan bagaikan sangkar burung.
Hanya tetesan air mata yang keluar dari matanya yang sayu.
.
.
Amarah.
Benci.
Dendam.
Rasaer tercampur aduk dalam hatinya.
__ADS_1
Kini, Bella merasa dunianya telah dihancurkan oleh seorang laki-laki bangsat.
Mahkotanya telah direnggut dengan cara yang bejat.
Rasanya ingin sekali menampar orang yang ada di depannya saat ini.
Bahkan ingin menusuknya.
Jika tidak mampu, ingin bunuh diri saja rasanya.
Awan hitam telah menutupi hatinya yang cerah.
Namun meski pikiran dan emosi itu menyatu. Pada kenyataannya Bella tak berkutik apapun.
Sedangkan Nico dengan tanpa rasa bersalahnya.
Dia langsung kembali memakai pakaiannya. Lalu meraih rokok yang ada di mejanya.
Kemudian dengan lihainya Nico duduk di sebelah Bella dengan menyalakan rokoknya.
"Sudah lama Aku menahan gejolak ini Bella" kata Nico.
"Kamu benar-benar nikmat" kata Nico.
Tangisan Bella semakin mengalir deras mendengar suara laki-laki yang merusak masa depannya itu.
Dan Nico melihat air mata Bella.
"Hei,,,, ayolah!! Bukankah tadi nikmat Sayang... Kenapa justru menangis?" kata Nico.
Bella hanya memalingkan wajahnya dan tak mau melihat Nico.
"Hei, Aku sedang berbicara padamu perempuan ******! Berani-beraninya mengacuhkanku! Dasar anak tidak sopan!" kata Nico dengan menghisap rokoknya kembali.
"Cih! Dasar sok suci" kata Nico.
Rokok yang diampit dengan kedua jari kirinya kini dilempar dengan seenaknya.
Setelah itu Nico keluar dari kamar. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ibunya.
Nico menyusuri anak tangga rumahnya. Terlihat Ibunya sedang duduk di ruang keluarga dengan kepala yang menunduk. Bersama dengan kedua tangan yang mengepal berada di depan dadanya.
"Ibu!" panggil Nico.
Ibu Nico mendengar panggilan anaknya. Namun Ibu Nico sengaja tidak ingin menjawab panggilan Nico.
"Ibu!" panggil Nico lagi.
Nico khawatir sesuatu terjadi kepada Ibunya. Melihat Ibunya mematung tak bergerak sama sekali di kursi sofa. Dan ini untuk pertama kalinya Ibu Nico tidak menyahut panggilannya.
"Ibu!" panggil Nico lagi semakin khawatir.
Saat panggilan ketiga. Seketika Ibu Nico berdiri dengan wajah yang tegas.
"Jangan panggil Aku Ibu" kata Ibu Nico.
"Aku bukan Ibumu" kata Ibu Nico.
"Apa maksud Ibu?" kata Nico.
"Kamu bukan anakku" kata Ibu Nico.
"Kamu laki-laki bejat. Aku tidak pernah melahirkanmu. Jadi jangan anggap Aku Ibumu" kata Ibu Nico.
Mendengar ucapan Ibunya yang tidak ingin menganggap Dia adalah anaknya. Membuat Nico geram.
Mengingat selama ini Nico selalu memberikan uang kepada Ibunya. Dan selalu mengutamakan Ibunya. Kini, setelah semua yang Nico lakukan. Ucapan itulah yang keluar dari mulut Ibunya. Seketika emosinya memuncak.
"Apa katamu?" kata Nico.
...----------------...
__ADS_1