
Saat Aku melangkah masuk ke rumah Ibuku dengan hati yang senang.
Kerinduanku pada Graha telah menggebu-gebu meski hanya 1 hari tak melihat sosoknya.
Saat Aku masuk ke rumah, Ibuku menemuiku dengan memasang wajah yang cemberut dan tampak kesal.
"Ibu dimana Graha?" tanyaku berhati-hati.
"Itu, Dia di belakang main air" jawab Ibuku.
"Lagian ngapain saja sih seharian kerja di kantor? Sudah dinafkahi Suami masih saja ribet cari kerja" kata Ibuku.
Deg!
Ibuku sendiri saja berbicara demikian.
Ini adalah ungkapan titik lelah Ibuku saat mengurus cucunya sendiri.
Sedangkan Aku berencana untuk membayar pengasuh saja. Tapi Zaidan menolaknya mentah-mentah.
Dengan opini kita tidak tahu apa yang perawat itu lakukan kepada Graha saat Kita tidak ada di sampingnya.
Yah, tentu saja.
Merawat anak yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Meski 30% gajiku telah Aku berikan padanya.
Tapi sekali lagi, sebagai Anak tentu Aku tidak sopan menitipkan anakku kepada Ibuku.
Lagi-lagi, yang berfikir rumit adalah seorang istri.
Setelah menikah, selain istri menjadi tahanan Suami, istri harus memikirkan segala hal tentang urusan keluarganya.
Dia tidak bisa melakukan apa yang benar-benar Dia inginkan. Tidak ada waktu untuk dirinya.
Oleh karena itu, sebagian besar Mereka lari dengan aktifitas yang bisa Mereka lakukan untuk mencari kebahagiaan Mereka sendiri. Yaitu dengan berbelanja.
Dengan berbelanja, wanita bisa melepaskan kepenatan, kesepian, dan menstabilkan emosi yang harus direndam saat berperan sebagai Ibu dan Istri.
...****************...
Melihat reaksi Ibu yang kelelahan merawat cucunya.
Kini reaksi itu menjadi beban fikiranku.
"Apakah Aku harus berhenti bekerja?" batinku.
"Sepertinya untuk saat ini memang itu pilihan yang tepat" batinku.
"Tapi,,, jika Aku memilih berhenti. Apa tidak apa-apa nanti Aku bergantung pada Zaidan?" pikirku.
...****************...
Di atas meja kerja bersama lampu belajar yang terang.
Lucky tersenyum- senyum sendiri. Bagai remaja yang sedang jatuh hati kepada seorang perempuan.
Bersama pena yang diayunkannya. Malam ini, Dia menuliskan puisi.
...****************...
Pagi itu Aku berangkat kerja dari rumah orang tuaku.
Terlihat sekali Ibuku merasa direpotkan olehku. Karena harus mengurus Graha.
Ya, tentu. Mengurus anak kecil membuat aktifitas kita terbatas. Serta mampu memeras emosi.
Lagi-lagi melihat pemandangan yang demikian. Membuatku goyah, untuk tetap berkarir.
Heran sekali, padahal yang meminta anak laki-laki. Tapi tanpa merasa bersalah semua dibebankan pada perempuan.
Hah! Nafas kesalku.
Hari itu Aku bekerja tidak fokus sama sekali karena fikiranku yang sedang berperang.
Hingga saat tanganku tak sengaja menjatuhkan buku pembukuan.
__ADS_1
Buku itu terjatuh dengan posisi yang terbuka. Tepat di atasnya ada secarik kertas yang terlipat.
Aku memungutnya dan membukanya pelan-pelan.
Ternyata isi dari kertas itu adalah puisi seperti ini:
Bungaku
Meski sebanyak 72 purnama telah terlewati.
Aku juga tidak faham,
Kenapa dirimu tetap melekat pada inti kepalaku.
Kau bagaikan mahkota bunga.
Yang tetap segar pada tangkainya.
Tak meredup, Tak layu juga.
Wangi semerbak yang menyebar darimu.
Justru menggodaku.
Aku meminta pertanggung jawaban darimu.
Karena telah menghukum jiwaku seperti ini.
Kamis, 28 September
"Pffffffttttt"
"Ha ha ha ha ha"
"hwa, hwa, hwa, hwa"
"Hidup lagi capek-capeknya justru ketemu beginian" gumamku.
"ha, ha, ha, ha,"
"Kamu gila ya Mel?" tanya Natasya temen kerjaku.
"Lihat deh, coba baca puisi ini!" kataku dengan memberikan secarik kertas itu kepada Natasya.
"Sumpah, jadi keinget masa remajaku dulu. Puisi orang yang jatuh cinta. Ha, ha, ha," kataku masih tertawa cekakak an.
"Duh Mel, Aku tidak tahu alasan apa yang membuatmu tertawa seperti itu. Tapi menurutku ini romantis sekali tau nggak?" kata Natasya.
"Apa ini puisi dari Suamimu Mel?" tanya Natasya.
"Eh, ya enggaklah. Suamiku itu sibuk. Boro-boro buat ginian. Dia lebih mirip seperti robot pekerja namun bermuka patung perwira" kataku.
"Lalu, ini puisi siapa?" tanya Natasya.
"Nggak tahu nemu di buku itu" kataku.
"Bukankah buku itu baru saja Kamu ambil dari ruangan Mas Lucky?" kata Natasya.
"Eh" Seketika Aku terdiam dan kaget.
"Benar juga" kataku.
"Jangan-jangan Kak Lucky sedang jatuh cinta" kataku dengan suara ditekan.
"Syuuuuttttt. Sini -sini. Mau Aku kembalikan nanti" kataku dengan menyahut secarik kertas itu.
"Kira-kira siapa wanitanya ya?" tanya Natasya menduga-duga.
"Entahlah" kataku.
Mendengar nama Lucky seketika Aliya memandangku tajam. Dia penasaran dengan puisinya.
Tanpa aba-aba Aliya menghampiriku dan menyahut puisinya.
Aliya dengan semangat membaca puisinya.
"Astaga, tak kusangka mas Lucky seromantis ini" gumam Aliya.
__ADS_1
"Aliya, bisa dikembalikan? Ini hanya dugaan. Jadi belum tentu benar jika yang membuat adalah kak Lucky. Jadi tolong kembalikan. Nanti akan Saya coba tanyakan" kataku.
"Ih, dasar pelit" kata Aliya dengan terpaksa mengembalikan kertas itu.
Aliya langsung membalik badan dan kembali ke meja kerjanya.
"Benarkah Kak Lucky yang membuat ini?" batinku.
"Jika memang benar, syukurlah. Aku ikut bahagia jika teman lamaku akhirnya memiliki pilihan hidup" batinku.
...****************...
Akhirnya sudah masuk jam istirahat.
Ada beberapa orang memilih tidur di kantor. Ada juga yang memilih makan di luar.
Sedangkan Aku. Memilih untuk tetap duduk di mejaku. Dan mengetik surat pengunduran diri.
"Baiklah. Mungkin ini pilihan yang tepat. Bismillah" gumamku.
Di ruangan kak Lucky. Kak Lucky sibuk bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
"Apakah Milanie sudah membacanya?" fikirnya.
"Haz, coba Aku bertanya langsung saja" gumam kak Lucky.
Tringg!!
"Hei" pesan masuk di whats up ku.
Karena Aku sedang terlalu fokus, jadi Aku tidak mendengar jika ada pesan masuk di ponselku.
"Kamu tidak keluar?" pesan dari kak Lucky.
Kak Lucky menatap layar ponselnya saja namun tidak ada balasan dariku.
"Astaga sesibuk itukah Dia hingga tidak peduli dengan seorang asisten direktur?" gumam Kak Lucky.
Kak Lucky memilih beranjak dan keluar melihat kondisi kantor.
Kriiiiieeek.
Melihat ada yang sedang tidur di ruang kantor.
Kak Lucky hanya bisa berdiri di pintu dan melihatku.
Dia sengaja menungguku agar Aku menyadari keberadaannya.
Sekitar 10 menit, Aku melihat kak Lucky.
Dengan komunikasi antar wajah. Kami saling memahami maksud dari expresi itu.
Aku berdiri pelan. Tak lupa juga membawa secarik kertas puisinya.
Lalu Kami berjalan keluar kantor. Tepatnya duduk di tempat duduk taman.
"Ini" kataku mengembalikan kertas puisi tadi.
"Apakah puisi ini milik kak Lucky?" tanyaku.
"Glek" kak Lucky menelan salivanya.
Jantungnya juga berdegup kencang. Seperti lelaki yang menyatakan perasaanya kepada pasangan.
"Iya, bagaimana menurutmu?" tanya kak Lucky.
"Benarkah? Itu puisi buatan tangan kak Lucky sendiri?" tanyaku tidak percaya.
"Iya tentu. Ini orisinil tanpa plagiat" jawab kak Lucky.
"Astaga, akhirnya kak,,, Aku sangat bahagia" kataku.
"Benarkah Kamu bahagia?" kata Kak Lucky dengan mata membulat.
Aku menganggukkan kepala dengan mantap.
...----------------...
__ADS_1