Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 36: Pengakuan Cinta yang Salah


__ADS_3

"Milanie Aku,,, tahu ini salah. Tapi Kamu tahu sendiri jika cinta itu diluar kendali kita" kata kak Lucky menjelaskan.


"Kenapa kak Lucky berfikir ini salah? Cinta itu bukan kesalahan kak, tapi anugrah. Aku sebagai teman lamamu sangat mendukung kak Lucky jika Kak Lucky memiliki pasangan. Aku bahagia akhirnya Kak Lucky menemukan pasangan hidup di umur siap nikah. Aku benar-benar sangat bahagia mendengar kabar ini" kataku.


"Teman lama, bahagia menemukan pasangan hidup?" kata kak Lucky.


"Iya, siapa gadis itu? Kakak akan memberitahuku kan? Jangan disembunyikan" kataku.


"Oh, sepertinya Kamu terlalu berlebihan. Dan Aku juga terlalu berharap" kata kak Lucky dengan expresi yang sangat kecewa.


"Tunggu, belum mulai kok kecewa sih. Harus percaya diri dong kak" tegurku.


"Ayo kak siapa? Gadis itu siapa?" tanyaku bersemangat.


"Siapa ceweknya kak? Aku pasti akan membantumu" kataku.


"Apa itu Aliya?" tanyaku menduga.


"Sepertinya jam istirahat telah selesai, Saya masuk dulu saja" kata kak Lucky berpaling.


"Kak Luck, Aku tidak akan mengizinkanmu masuk sebelum memberitahuku siapa namanya" kataku dengan menghadang langkah kak Lucky ke arah kantor.


"Sudahlah lupakan. Tidak penting juga" jawab kak Lucky acuh.


Kak Lucky berjalan ke arah yang tidak kena jangkauan hadanganku.


Namun kali ini Aku tetap menghadangnya.


Berjalan ke kanan, ke kiri. Tetap Aku hadang.


"Aku asisten direktur beraninya kamu tidak sopan!" tegur kak Lucky.


"Dimataku sekarang kakak adalah sahabatku" jawabku.


"Sahabat?" kata kak Lucky.


Aku menganggukkan kepala dengan mantap.


"Jujur Aku sangat kecewa" kata Kak Lucky.


"Maksud kak Lucky apa?" tanyaku bingung.


Kak Lucky berjalan dan Aku tetap bertanya di sampingnya.


Karena tergesa-gesa, tak melihat jalan di bawah. Ada pagar pendek pembatas taman di sana.


Kakiku tersandung, dengan gerakan yang cepat. Kak Lucky menangkapku.


Sehingga posisi Kami seperti layaknya pasangan berdansa.


"Makasih, maaf" kataku.


"Kamu benar-benar ingin mengetahui siapa Dia?" tanya kak Lucky dengan mata tatapan yang sayu.


"Iya, karena bagaimana pun kak Lucky adalah orang yang pernah menolongku dulu. Jadi, mendengar berita ini. Aku sangat ingin tahu" jawabku.


"Kamu" kata kak Lucky.


"Maksud kak Lucky?" tanyaku bingung.


"Puisi itu untukmu" kata kak Lucky.


Tanpa mau mendengar apapun kak Lucky melanjutkan langkah kakinya masuk ke kantor.


Sedangkan Aku masih tidak percaya dengan pengakuan kak Lucky tadi. Membuatku membeku di tempat itu.


Aku sendiri bingung dengan perasaanku.


Expresi apa yang Aku keluarkan sekarang?


Senang karena berdebar.


Atau Sedih karena ini cinta yang salah.


Aku benar-benar bingung.


Situasi macam apa yang sedang menjadi ujian ku saat ini?


Setelah itu, beberapa hari kak Lucky tidak sering datang ke kantor.

__ADS_1


Namun, ini justru hal yang bagus.


Karena setelah itu. Pasti saat Kita bertemu nanti akan merasakan canggung.


"Jadi memang lebih baik tidak bertemu" gumamku.


Setelah hari itu, Aku melakukan pekerjaanku seperti biasanya.


...****************...


Hari mulai sore,,,


Saatnya Aku pulang kerja.


Karena akhir-akhir ini Ibuku terlihat sangat lelah mengurus Graha.


Akhirnya dengan terpaksa Aku menitipkan Graha kepada Ibu mertuaku.


Tok, tok, tok


Saat ini, Aku berdiri di depan rumah keluarga yang tidak pernah menerima keberadaanku.


Bukankah hal yang memalukan bagiku menitipkan anakku kepada Mereka?


"Keluarga,,,,


Namun tidak seperti keluarga" pikirku.


Kriiiiieeeekkkk


Pintu itu terbuka.


"Adik Ipar dimana Graha?" tanyaku.


"Itu Dia maen Youtube" jawabnya.


Aku langsung menghampiri Graha. Lalu mengajaknya pulang.


Sialnya Graha tidak merespon ajakanku.


Situasinya,,, Graha tidak mau pulang.


"Owh sudah pulang Kamu?" tanya Ibu mertua.


"Iya Ibu" jawabku dengan bersalaman tangan.


"Kamu itu bekerja saja, anak tidak diurusi" kata Ibu Mertua.


"Seharusnya kalo tidak mau ngurus anak jangan buat anak dong" kata Ibu mertua.


"Maunya kok enaknya doang" tambahnya.


"Zaidan juga terlihat semakin kurus tubuhnya sekarang" gumam Ibu Mertua.


"Padahal yang meminta anak adalah Zaidan. Aku sudah bersedia mengandung dan melahirkan untuk Zaidan. Pada akhirnya Aku juga harus mengurusnya hingga akhir" batinku.


Saat itu, tanpa berucap sepatah kata pun.


Aku hanya bisa diam, menahan dan tersenyum tipis.


Dengan penuh kelembutan, Aku berusaha untuk mengajak Graha.


Berusaha mencari cara agar Graha mau ikut pulang denganku.


Dengan menawarkan sesuatu yang dia suka. Seperti membelikan permen, atau mengajaknya bermain di taman.


Ini adalah jurus jituku yang ampuh untuk merayu Graha.


Tak lama Dia menganggukkan kepala.


Dan bersedia pulang denganku.


...****************...


Setelah larut malam,


Graha telah tertidur, bersama dengan Zaidan.


Sedangkan Aku tidak bisa tidur.

__ADS_1


Merasakan otakku berputar terus menerus mempertimbangkan suasana ini.


Melihat statusku adalah seorang Ibu dan Istri.


Mengetahui juga incom perusahaan juga menurun.


Dan perkataan Zaidan yang menyuruhku untuk berhenti.


Diikuti dengan perkataan Ibu mertuaku.


Dan yang paling membuatku berat. Ibu ku juga sudah lelah harus mengurus Graha yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.


"Apakah Aku memang harus berhenti bekerja?" batinku.


1 jam,


2 jam,


Tes,,,, !!


Pada akhirnya, Aku harus mundur. Dan merelakan karirku demi keluarga.


Padahal Aku tahu betul. Sulit rasanya mencari pekerjaan.


Apalagi sudah menyandang status Ibu dan seorang istri.


Setelah Aku benar-benar resign.


Setelah ini Aku pasti akan sulit sekali untuk mendapat pekerjaan lagi.


"Dan juga,,, mungkin ini yang terbaik untuk menjaga jarak dengan kak Lucky" Pikirku.


"Bagaimana pun perasaan yang tanpa diundang ini sungguh tidak pantas" pikirku.


"Baiklah. Aku putuskan bahwa Aku akan resign dari pekerjaan" gumamku.


"Tapi sebelum itu,,,, Aku harus memastikan keseriusan Zaidan terhadapku" pikirku.


...****************...


Keesokan harinya,,,


Kami bertiga sarapan bersama di meja makan.


"Zaidan, Aku ingin berbicara serius kepadamu" kataku.


"Iya, ada apa?" tanya Zaidan.


"Kenapa wajahmu setajam itu?" goda Zaidan.


"Zaidan, Aku serius" kataku.


"Iya-iya, ada apa sayang?" tanya Zaidan.


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Dan rasanya berat untuk melontarkan perkataan demikian.


"Bagaimana jika Aku resign?" kataku.


Dengan enteng Zaidan menjawabnya.


"Ya sudah resign saja" kata Zaidan.


"Tapi Zaidan, setelah Aku resign. Setelah ini Aku pasti akan kesulitan mencari pekerjaan ke depannya. Jadi Aku ingin Kamu menjawab serius" kataku.


"Sayang,,, Aku sudah serius. Aku juga sudah beberapa kali menyuruhmu untuk berhenti. Kenapa Kamu masih berkata Aku harus serius?" kata Zaidan.


"Sayang, memang perusahaanku kemarin pernah diambang kehancuran. Tapi, untuk sekarang. Aku pastikan perusahaanku tetap stabil. Karena omsite selalu melebihi target" kata Zaidan meyakinkanku.


"Percayalah padaku" kata Zaidan.


"Aku adalah Suamimu. Jadi sudah seharusnya Aku yang bertanggung jawab atas hidupmu" kata Zaidan.


"Terimakasih" jawabku.


Mendengar jawaban Zaidan. Seketika hatiku tersentuh. Walau selama ini yang membuatku tidak percaya sepenuhnya kepadanya adalah karena sikap Ibunya terhadapku. Dia merasa anaknya seorang manusia yang paling istimewa dan Aku hanyalah benalu hidupnya.


Nyuuttt!!!


Dadaku terasa sakit melihat kenyataan itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2