
Brrrmmmm,,,,
Hari ini, Aku duduk di kursi depan tepatnya di samping Zaidan menyetir.
Di tengah hujan yang tidak ragu menyerang Bumi.
Kali ini Dia menjemputku pulang kerja. Setelah Aku menelvonnya.
"Melihat laporan keuangan, CV. Terpadu sepertinya mengalami kerugian untuk tahun ini" kataku.
"Aku jadi merasa bersalah jadi beban perusahaan" tambahku.
"Bagaimana pun Mereka harus tetap menggajiku setiap bulannya meski pendapatan tidak mencukupi" tambahku.
"Kenapa Kamu tidak resign saja?" tanya Zaidan.
"Resign? Maksudmu mengundurkan diri?" tanyaku.
Zaidan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagaimana pun Graha sangat membutuhkan kasih sayang darimu" kata Zaidan.
"Tapi, jika Aku mengundurkan diri. Kesempatanku untuk mendapatkan pekerjaan nanti pasti akan sulit" batinku.
"Di sisi lain. Aku menikmati hari-hariku bekerja. Dengan bekerja Aku memiliki pengalaman dan hal-hal baru. Tapi di sisi lain, Aku harus memikirkan anakku Graha" batinku.
"Akan Aku pikirkan kembali" jawabku.
"Kenapa harus berfikir, Aku juga sudah bekerja dan menafkahi mu. Apa pemberianku selama ini kurang?" kata Zaidan.
"Bukan, bukan itu. Maksudku ini tentang keinginanku" kataku dengan menunduk.
"Keinginanmu apa? Apa yang tidak Aku berikan padamu?" kata Zaidan.
"Kebebasan" jawabku.
"Itu yang tidak Kamu berikan padaku" kataku.
"Padahal Aku sudah mengizinkanmu bekerja. Apa itu belum cukup bebas?" kata Zaidan.
"Itu sudah cukup. Jadi, jangan memaksaku untuk berhenti" kataku.
"Meski Kamu menjadi beban perusahaan?" kata Zaidan sengaja menggiring opiniku agar berfikir untuk keluar dari pekerjaan.
"Huhh. Itu kan Saya hanya merasa bersalah saja" kataku.
Tak lama mataku terpaku dengan sepucuk surat yang tergeletak di atas jok mobil.
"Surat apa ini?" tanyaku.
"Oh, itu undangan dari Pak Mahardika" jawab Zaidan.
"Pak Mahardika mengundangmu? Untuk apa?" tanyaku.
"Entahlah, tadi Aku buru-buru pergi" jawab Zaidan.
"Tadi? Kenapa Kamu tidak cerita sama sekali padaku?" tanyaku.
"Bukankah baru saja Aku cerita" jawab Zaidan.
"Iya saat Aku bertanya. Jika Aku tidak menemukan surat undangan ini dan tidak bertanya. Kamu pasti tidak akan cerita padaku kan?" kataku.
"Untuk apa? Ini adalah pekerjaanku. Apa urusannya denganmu?" kata Zaidan cetus.
"Apa?" kataku tak menyangka.
"Apa urusannya denganku?" kataku.
__ADS_1
"Aku ini istrimu. Bagaimana Kamu Suamiku berbicara seolah Aku bukan siapa-siapa" kataku.
"Kenapa hal sekecil ini dipermasalahkan sih" kata Zaidan.
"Siapa yang mempermasalahkan. Tapi memang akhir-akhir ini Kamu terlalu tertutup Zaidan" kataku.
"Apa yang Aku tutupi darimu?" kata Zaidan menimpali.
"Aku yakin ada yang ditutupi Zaidan padaku selain ini" batinku.
"Kamu yang tahu jawabannya kenapa membalikkan pertanyaan padaku" kataku.
"Hah, kekanak-kanakkan sekali" kata Zaidan.
Braaaakkkk!!!
Pintu mobil itu ditutup kembali dengan keras oleh Zaidan.
Zaidan meninggalkan Aku sendiri di dalam mobil.
"Seharusnya Aku yang marah kenapa jadi Dia yang marah!" gumamku kesal.
Yah, umur pernikahan kami sudah masuk ke 9 tahun pernikahan lebih. Sikap Zaidan akhir-akhir ini mulai berubah padaku. Zaidan tidak sehangat dulu. Dia lebih banyak bekerja di luar hingga tidak pernah memperhatikanku dengan Graha.
Aku berfikir perubahan Zaidan dikarenakan,
"Mungkin karena waktu ku lebih sibuk untuk bekerja dibandingkan dengan waktu keluarga" pikirku.
"Sementara ini, hanya itu dugaanku" pikirku.
Seketika pikiranku teringat dengan Graha yang masih berada di rumah Ibuku saat ini.
"Dia juga tidak memikirkan untuk menjemput Graha!" gumamku.
"Hazzzz, lagi-lagi Aku yang harus menjemputnya" gumamku.
"Tunggu, Bagaimana jika Aku tidak pulang saja. Menginap di rumah Ibu" gumamku.
Aku berjalan masuk ke rumah dan mencari Zaidan.
Saat Aku masuk ke kamar. Terlihat Zaidan senyum-senyum sendiri melihat ponselnya.
Deg!
Pemandangan itu, bagaikan orang yang sedang,,, jatuh cinta.
"Ayah" panggilku.
Seketika Zaidan gelagapan bingung memasang expresinya.
Dengan wajah yang datar Dia menjawab panggilanku.
"Ada apa?" tanya Zaidan.
Yang tadinya Aku ingin izin untuk menginap ke rumah Ibuku.
Pertanyaan yang Aku lontarkan kali ini membelok.
"Ayah dengan siapa senyum-senyum sendiri? Seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja" sindirku.
"Cara berbicaramu seperti menyudutkanku" kata Zaidan.
"Saya tidak menyudutkan, tapi Saya bertanya kepada Ayah" kataku.
"Salahkah Aku tersenyum jika memang melihat video lucu dan menggemaskan di reel?" kata Zaidan.
Seketika Zaidan cepat-cepat mencari video lucu yang ada direel akunnya.
__ADS_1
"Ini lihat, Heran deh. Akhir-akhir ini Kamu itu sensitif sekali" kata Zaidan.
"Owh, iya maaf-maaf. Kalau begitu,,, Saya mau izin menginap di rumah Ibu malam ini. Bolehkah?" kataku.
"Iya" kata Zaidan.
"Oh, Kamu bisa berangkat sendiri kan? Hari ini tubuhku rasanya capek semua. Jadi tidak bisa mengantarmu" kata Zaidan.
"Iya tidak apa-apa. Baiklah Aku berangkat" kataku.
"Iya salam untuk Ibu. Hati-hati di jalan" kata Zaidan.
Aku menganggukkan kepala dan mencium tangannya.
Lalu berangkat naik mobil sendiri menuju ke rumah Ibu.
...****************...
Seketika Zaidan teringat dengan kejadian siang tadi saat Zaidan meninggalkan Dimas sendirian di kantin kantor PT. SEARCH.
8 jam sebelumnya,,,,
Zaidan menerima pesan dari seseorang untuk meminta bantuan darinya dengan cara pribadi.
Setelah Zaidan menerima pesan itu, tanpa ragu Zaidan memenuhi panggilan wanita itu.
Tepat di sebuah jalan beraspal yang berada di pegunungan.
Tentu jalanan di sini sangat sepi. Meski sepi, tapi jalan ini penghubung antara kota Jember dan kota Banyuwangi.
Zaidan beranjak pergi menelusuri jalanan itu dengan kecepatan tinggi.
Tak lama,,,,
Di pertengahan jalan. Ada sebuah mobil berwarna merah terparkir di pinggir jalan.
Melihat kondisinya, terlihat sekali jika mobil itu sedang mogok.
Zaidan berhenti dan menghampiri mobil yang sedang mogok itu.
"Ibu Santi, ada masalah apa?" tanya Zaidan.
Tanpa sepatah kata jawaban. Santi langsung berlari ke arah Zaidan dan memeluknya.
Hingga berhasil membuat Zaidan kaku dengan mata yang membulat.
Tentu saja Zaidan juga merasakan tonjolan itu bersentuhan tepat di dada bidangnya.
Suasana yang sepi, pemandangan yang indah. Dan hanya Mereka berdua yang ada di sana.
Ditambah lagi,,, penampilan bu Santi yang memakai pakaian sexy kantor dengan wajah yang cantik.
"Glek" Zaidan secara reflek menelan salivanya.
"Tuan, Saya takut Tuan. Saya dengar di sini banyak hantu jika masuk jam malam. Saya takut Tuan" kata Santi merengek.
"Ah, bu Santi bisa masuk ke mobil Saya. Kita turun bersama sekalian mencari montir" kata Zaidan menenangkan bu Santi.
"Baik Tuan, sebelum itu maafkan Saya telah merepotkan Tuan. Saya benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi" kata Bu Santi.
"Tidak ada yang direpotkan. Jadi bu santi santai saja" kata Zaidan.
"Terimakasih Tuan" kata bu Santi.
"Entah kenapa, Aku sangat senang bergantung pada laki-laki ini" batin Bu Santi.
Ya, Mereka adalah rekan bisnis. Yang sempat kenal saat rapat di luar kota.
__ADS_1
Akhirnya Mereka naik mobil Zaidan menuju turun kembali ke kota Jember.
...----------------...