Aku Bukan Menantu Idaman Season 2

Aku Bukan Menantu Idaman Season 2
Bab 15: Ibu Zaidan Tahu Keadaannya


__ADS_3

"Klotek, klotek, klotek, klotek" Suara sepatu melangkah.


Pada ruangan yang penuh dengan dekorasi ubin akustik. Membuat pantulan suara sepatu itu menggema. Nyaring di ruangan kedap suara.


Ibu Zaidan telah masuk di ruangan pribadi Zaidan. Tanpa basa- basi, Ibu Zaidan meletakkan kotak makan yang digenggamnya sedari tadi itu di meja kerja Zaidan.


Zaidan hanya diam melihat kedatangan Ibunya.


"Bukkk!!!"


"Ibu, kenapa tidak pelan-pelan?" tanya Zaidan.


"Jangan berpura-pura lagi Zaidan" kata Ibu Zaidan.


"Maksud Ibu apa?" tanya Zaidan.


"Kamu tidak pernah cerita apapun pada Ibu. Kamu anggap Ibumu ini apa? Hanya sebatas angin?" kata Ibu Zaidan.


"Ibu, lebih baik duduklah terlebih dahulu" kata Zaidan dengan mengarahkan Ibunya agar duduk di sofa depan meja Zaidan.


"Ada apa Ibu? Apa yang sedang Ibu bicarakan?" kata Zaidan.


"Kamu berhenti dari Pak Mahardika tidak pernah bilang pada Ibu. Dan itu sudah 3 bulan yang lalu. Bagaimana mungkin Kamu tidak memberitahu Ibu? Apa Ibu hanya Kamu anggap angin?" kata Ibu Zaidan.


"Soal itu,,,, Ibu tidak bertanya dulu pada Zaidan" kata Zaidan.


"Bagaimana Ibu bertanya. Jika bahan pertanyaannya saja Ibu tidak tahu" kata Ibu Zaidan.


"Iya Ibu, maafkan Zaidan. Zaidan akhir-akhir ini masih banyak pikiran. Jadi, tidak sempat memberitahu Ibu" kata Zaidan.


"Sebenarnya perusahaan Zaidan juga masih di masa krisis. Jadi Zaidan harus berfikir keras agar keluar dari zona merah ini Ibu" kata Zaidan.


"Lain kali, apapun bilang pada Ibu, cerita sama Ibu" kata Ibu Zaidan.


"Iya Ibu siap" kata Zaidan.


"Tapi, Ibu tahu darimana jika Zaidan telah berhenti?" kata Zaidan.


"Ibu tadi membawa makanan ini ke kantor PT. Search. Ibu tahu dari sana. Asal Kamu tahu, Ibu sangat malu dilihat tidak mengenal anaknya di sana" kata Ibu Zaidan.


"Astaga Ibu, seharusnya bisa menelvon Zaidan terlebih dahulu" kata Zaidan.


"Ibu hanya tidak ingin Kamu memikirkan alasan kedatangan Ibu" kata Ibu Zaidan.


"Ibu benar-benar perhatian pada Zaidan" kata Zaidan tidak menyangka jika Ibunya sangat mengenal cara berfikirnya.


"Tapi, sebenarnya angin apa yang membuat Ibu datang kemari?" kata Zaidan.

__ADS_1


"Ah, soal itu. Lebih baik, Kamu makan dulu saja ya! Kita bahas setelahnya" kata Ibu Zaidan.


Ibu Zaidan meraih kotak nasi yang ada di atas meja Zaidan. Lalu membuka dan menatanya di meja yang ada di depan sofa. Tak lupa, Dia juga mengambilkan nasi ke piring yang telah dibawanya. Sehingga Zaidan hanya cukup memakannya.


"Ayo makan yang banyak nak. Kamu terlihat sedikit kurus sekarang" kata Ibu Zaidan.


"Ibu ikut makan juga ya? Menemani Zaidan. Ayo Ibu. Zaidan tidak nafsu jika tidak ada temannya" kata Zaidan.


Awalnya Ibu Zaidan menolak ajakan Zaidan. Namun, karena paksaan dari Zaidan akhirnya Ibu setuju dengan ajakan Zaidan.


Mereka makan bersama-sama di ruangan yang penuh dengan dekorasi ubin akustik itu.


...****************...


"Zaidan, sebenarnya Ibu penasaran tentang sesuatu" kata Ibu Zaidan.


"Apa Ibu?" kata Zaidan.


"Bagaimana perasaanmu terhadap Milanie?" tanya Ibu Zaidan.


"Tentu saja Zaidan sayang padanya karena Milanie adalah istri Zaidan" kata Zaidan.


"Lalu jika saat Kamu dengan Putri bagaimana? Apakah Kamu tidak tertarik sama sekali padanya?" tanya Ibu Zaidan.


"Kenapa Ibu bertanya seperti ini?" tanya Zaidan.


"Ehemz,,, tidak apa-apa. Menurut Ibu, Putri sangatlah cantik. Dia juga arsitek yang terkenal. Bahkan Dia dikabarkan menjadi orang terkaya yang nomer 5 di Indonesia. Setelah Pak Presiden dan Rafi ahmad. Tidakkah Kamu tertarik padanya Zaidan?" kata Ibu Zaidan.


"Apa sih kelebihannya Milanie. Gadis miskin tapi nuntutnya minta ampun. Ibu benar-benar heran padamu. Kenapa dulu tidak bertemu dengan Putri dulu sebelum Kamu meminang Milanie" kata Ibu Zaidan.


"Ahahahahaha Ibu lucu sekali" kata Zaidan.


"Kamu kenapa justru tertawa. Ibu serius. Ini demi masa depanmu" kata Ibu Zaidan.


"Lihatlah, Dia sekarang bekerja meninggalkan anaknya karena tidak mau menjadi Ibu" kata Ibu Zaidan.


"Ibu, yang telah ditakdirkan tidak akan tertukar. Bagaimana pun kekurangan Milanie, pasti ada suatu kelebihan padanya" kata Zaidan.


"Jika melihat Putri, memang Dia tampak wanita yang sempurna. Itu karena Kita belum tahu kekurangannya apa" kata Zaidan.


"Tidak ada manusia yang sempurna Ibu. Yang ada, bagaimana cara pandang sudut mata Kita kepadanya. Mata Kita, ingin melihat kelebihan atau kekurangannya. Jika melihat kekurangan saja, pasti tidak akan ada benarnya dari orang itu di mata Kita. Tapi, jika Kita lebih fokus pada kebaikan atau kelebihannya. Pasti orang itu terlihat sangat baik di mata Kita" kata Zaidan.


"Kamu benar-benar banyak bicara akhir-akhir ini ya Zaidan" kata Ibu Zaidan.


Tak lama Zaidan meraih tangan Ibunya dengan lembut. Kemudian Dia menggenggam kedua tangannya.


"Ibu,,, Coba Ibu lihat kebaikan pada Milanie" kata Zaidan.

__ADS_1


"Milanie sekarang bekerja untuk kebutuhan keluarga. Yang seharusnya itu adalah tanggung jawab Zaidan. Dia juga perempuan yang mau mengandung dan melahirkan anak Zaidan. Sedangkan Zaidan tidak bisa melakukannya. Justru Zaidan yang berutang budi pada Milanie Ibu" kata Zaidan.


"Jadi, Zaidan mohon do'a restu dari Ibu. Do'akan usaha Zaidan lancar. Do'akan rejeki Zaidan lancar. Tidak ada do'a yang mustajab selain dari ucapanmu Ibu" kata Zaidan.


Ibu Zaidan tersentuh dengan penjelasan dari anaknya. Dilihatnya Zaidan yang dulu masih sangat kecil. Kini di depannya, Dia telah dewasa.


Dan satu hal yang Ibu Zaidan pahami di sini. Jika anaknya sekarang adalah seorang kepala rumah tangga. Imam dari keluarganya. Bukan lagi seorang anak kecil.


Ibu Zaidan mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyetujui tentang permintaan do'a Zaidan padanya.


"Ibu pasti do'akan" kata Ibu Zaidan.


"Terimakasih Ibu" kata Zaidan.


Tak lama pintu ruangan Zaidan ada yang mengetuk.


"Tok, tok, tok"


"Ayah, tadi Ibu menelvon jika Ibu ada urusan. Jadi Saya sempetin pulang dan Graha,,,,," kataku terhenti saat melihat ada Ibu mertua yang sedang duduk di sofa.


"Owh Ibu ternyata di sini. Sudah lama Ibu?" kataku menyapa.


"Iya rumayan" jawab Ibu mertua.


"Graha???" sapa Ibu Zaidan.


"Oma?" jawab Graha.


Ibu mertua langsung menyapa Graha dan menggendongnya. Mencium pipi kanan dan kirinya. Selayaknya seorang nenek yang sangat merindukan cucunya.


"Biarkan Graha Ibu bawa. Kamu bisa kembali bekerja" kata Ibu Mertua.


"Iya Ibu terimakasih" kataku.


Segera Ibu Zaidan mengemasi kotak nasi yang telah habis tanpa sisa. Lalu membawanya keluar dan menggendong Graha.


Tak lama Zaidan menyusul Ibunya berjalan keluar.


"Ibu akan pulang dengan siapa?" tanya Zaidan.


"Ibu sudah pesan taksi langganan Ibu. Dari waktunya sepertinya Dia sudah ada di depan" kata Ibu Zaidan.


"Oh baiklah kalau begitu. Hati-hati Ibu" kata Zaidan.


"Dada.... ✋Graha" kata Zaidan dengan melambaikan tangan.


Graha membalas lambaian Ayahnya.

__ADS_1


Tak lama, Ibu Zaidan telah menghilang dari pandangan Zaidan.


...----------------...


__ADS_2