Aku Bukan Pilihan

Aku Bukan Pilihan
Bab 1


__ADS_3

Aku Bukan Pilihan


"Al,gawat. Bianca sama Adela kejebak macet parah di tol KM 97 karena perbaikan jalan!" bisik Aezar sambil menepuk pundak Alexis.


"Itu bocah berdua kalo ga bikin rusuh di detik-detik terakhir mau tampil, kayaknya penasaran ya Bang?!" sahut Alexis santai


"Terus gimana dong, Al?" balas Leta panik.


Gimana ga panik, 1 jam lagi Team Dancer mereka akan tampil untuk acara ulang tahun salah satu TV swasta. Dan, koreografi yang sudah mereka persiapkan untuk acara terpaksa harus sedikit dirubah karena 2 teman mereka terlambat datang.


"Gue ada ide, Bang," jawab Alexis, masih dengan wajah yang tenang walaupun hatinya ada sedikit panik. Tapi, sebagai leader dia ga mau terlihat lemah dihadapan teman-teman tim dan manajernya.


Alexis memang selalu punya ide-ide baru yang akan dadakan datang ketika dibutuhkan. Wanita yang sudah menggeluti Dancer 15 th itu, selalu terlihat tenang ketika ada masalah apapun yang dihadapinya.


"Apa Al?" balas Aezar sambil menatap mata perempuan yang sudah 10 th ini jadi anak didiknya.


"Kita ubah formasi. Gue yang akan gantiin posisi Adela buat melayang, dan kalian kalian .." Alexis menunjuk kelima dancer nya satu per satu


"Buat formasi seperti penampilan kita waktu di Rusia. Ok!!"


"Tapi Al, lu kan takut ketinggian. Gimana kalo nanti lu pingsan pas di atas?" Zanna menimpali


"Iya Al, jangan ambil resiko berlebihan. Mendingan kita pake formasi yang di Aussie waktu itu aja, itu juga keren kok." Aezar menambahkan


"Lu percaya sama gue ga, Bang?" tanya Alexis

__ADS_1


"Percaya sih, tapi.."


"Kalo lu percaya sama gue, kita pake formasi itu. Ini bukan acara biasa Bang, nama tim dancer kita jadi taruhannya kalo kita kasih sesuatu yang biasa. Pliis,kalo kalian semua sayang sama tim ini, percayakan semua sama gue!"


"Ok, kita semua percaya sama lu." jawab Aezar pasrah, karena dia sendiripun bingung harus gimana karena waktu yang ga memungkinkan buat mikir dadakan.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap kagum pada Alexis. Dia ga menyangka, kalo perempuan yang satu ruangan karena mereka memang dijadwalkan tampil bersama ini bisa dengan tenang menghadapi masalah yang menurutnya cukup susah. Apalagi, dia rela menutupi phobia ketinggiannya hanya karena ingin tampil maksimal.


'Alexis' gumamnya, sambil terus menyapukan kuas untuk melukis diam-diam gadis itu.


 


Dan, acara pun sukses dengan sempurna. Amare Dancer bisa membuktikan bahwa mereka mampu tampil maksimal walaupun ada sedikit insiden. Semua yang tampil bersama berhasil menyihir siapapun yang menyaksikan.


Tapi, Jovanka masih mengkhawatirkan kakak angkatnya. Dia sempat liat bagaimana pucatnya wajah Alexis ketika terbang tadi.


"Dankje." Alexis menerima botol minuman itu, dan menenggak habis isinya.


"Gue gapapa Jo, gue malah puas banget bisa tampil maksimal. Makasih ya, kalian semua udah percaya sama gue." Dia memang ketakutan, tapi dia juga ga akan ngebiarin siapapun cari celah buat menghina tim nya. Apapun akan Alexis lakukan agar segala sesuatunya sempurna.


"Sorry, we're late." Seluruh ruangan menengok ke sumber suara, di depan pintu sudah berdiri Bianca dan Adela. Aezar yang marah dan akan menghampiri mereka, ditahan lengannya oleh Alexis.


"Biarin gue yang ngomong, Bang," Alexis berbisik.


Dua wanita cantik itu langsung ketakutan, mereka lebih baik ditegur oleh manajernya daripada kakak angkatnya. Alexis lebih menyeramkan daripada Aezar, mereka pun tertunduk ketika Alexis melewati mereka dan berkata

__ADS_1


"Kalian ikut gue keluar."


"Baik." jawab mereka serempak.


Mereka jalan beriringan, Alexis membawa mereka jauh dari ruangan. Dibelakang ruangan mereka ada taman kecil, Alexis duduk dan tanpa banyak basa basi dia membuka suara.


"Kalian tau, gue jatuh bangun ngebentuk tim ini. Gue jadi dancer jalanan selama 10 tahun biar gue bisa mewujudkan impian gue. Biar gue bisa nyekolahin kalian, karena aunty Mutia sudah tua untuk kerja agar bisa membiayai kita. Mungkin Tuhan memang ngebuat takdir gue seperti ini. Sisa delapan anak, yang ga tau kenapa semua orang tua enggan buat jadiin kita anak angkat mereka. Sampai akhirnya panti asuhan tutup karena aunty meninggal, Bang Aezar dan gue sibuk nyari duit, jadi panti ga ada yang ngurus. Gue janji sama almarhum aunty dan Tuhan, kalo kalian bertujuh akan jadi tanggung jawab gue. Kalian adik-adik gue, dan gue selalu mastiin kalian ga kekurangan." Alexis menahan tangisnya, mengambil nafas dan melanjutkan lagi


"Gue ga minta apa-apa dari kalian semua, yang gue minta kalian profesional dan tanggung jawab untuk tim. Kalo kalian udah bosen sama Amare, gue ga akan ngelarang kalian keluar.." Alexis menitikkan airmatanya, Bianca dan Adela langsung duduk bersimpuh di depan wanita yang sudah mereka anggap seperti kakak mereka.


"Kak Al, maaf.. maaf.. maafin kita. Tapi, pliis jangan keluarin kita. Gue sama Adel janji akan nebus semua kesalahan kita,tapi tolong.." suara Bianca tertahan oleh tangisnya, dia dan Adela terisak. Alexis mendesah pelan, dan dengan lembut mengelus kepala mereka berdua.


"Kak, tolong ngomong sesuatu." Adela menatap wajah kakaknya yang juga sudah berderai air mata.


"Mana kunci mobil dan kartu kredit kalian. Untuk satu bulan ini, fasilitas kalian kakak cabut. Dan, selama satu bulan juga kalian berdua ga ada yang boleh keluar rumah."


"Baik, Kak." sahut mereka pasrah dan menyerahkan apa yang diminta Alexis.


"Kak... peluk." rengek Adela


"Sini." Alexis merentangkan kedua tangan, yang disambut hangat oleh kedua adiknya. Mereka menangis bersama, dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari awal mereka berbicara sudah memperhatikan.


Ya, dia Abhimanyu. Salah satu aktor yang satu ruangan dengan tim Alexis, yang melukis diam-diam gadis itu. Laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.


"Selain cantik dan baik, lu juga tegas dan tegar. Makin penasaran pengen deketin lu." wajah tampannya menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


 


Dankje \= Terima kasih (dalam bahasa Jerman)


__ADS_2