
Duduk sendiri sambil menyesap minuman nya. Mark saat ini sedang galau. Biasanya kalau dirinya sedang dilanda kegelisahan yang tidak jelas seperti ini, Mark akan berkencan dengan wanita cantik dan seksi. Terakhir kali nya, Mark berkencan dan memboking Ayana saat dahulunya masih menjadi wanita tuna susila.
Berjalan berlenggak lenggok seorang wanita yang minim bahan, mendekati Mark yang masih menyesap minuman dengan beralkohol. Wanita itu duduk di dekat Mark seraya menunjukkan gaya gemulai nya. Wanita itu menyalakan korek apinya dan mendekatkan nya ke batang rokok Mark saat dilihatnya Mark akan menyalakan rokoknya. Wanita itu tersenyum seraya menatap lekat Mark.
"Terimakasih," ucap Mark setelah wanita itu sudah menyalakan batang rokok nya. Mark mulai menghisap rokok nya dalam. Lalu menghembuskan nya ke wajah wanita itu. Tanpa marah wanita cantik dan seksi itu masih memperhatikan Mark seolah mengagumi ketampanan Mark.
"Aku Sela," kata wanita itu memperkenalkan dirinya pada Mark.
"Hem, Sela? Belum dapat mangsa?" sahut Mark. Sela tersenyum getir.
"Belum! Malam ini sangat sepi. Bahkan sehari ini aku belum mendapatkan seorang pun untuk memakai jasaku," kata Sela. Mark terkekeh mendengar nya.
"Berapa bayaran kamu dalam satu kali permainan?" tanya Mark.
"Tidak mahal, bang! Biasanya hari sabtu aku pasang harga tujuh ratus ribu. Karena hari ini hari kamis, aku turunkan harga menjadi tiga ratus ribu satu kali main. Tapi belum juga ada pelanggan," urai Sela.
__ADS_1
Mark menatap lekat wajah Sela. Dalam pikiran Mark saat ini kembali teringat Ayana. Seandainya Ayana di depannya, mungkin saat ini Mark akan memboking nya dalam satu malam. Dan biasanya dalam satu malam itu, Mark bisa bermain dengan Ayana sampai tiga kali. Hingga Ayana merasakan kelelahan. Saat pagi hari pun, Mark kembali mengajak Ayana bertempur. Jadi bisa ditotal saat berkencan dengan Ayana, Mark akan bermain sampai empat kali. Dan bahkan Mark selalu bergairah dan bersemangat saat bersama dengan Ayana. Mark benar-benar merasa seperti telah berkencan dengan pacarnya.
"Bang, anda belum menyebutnya nama abang!?" kata Sela. Mark menyipitkan bola matanya.
"Tidak penting!" sahut Mark. Mark mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan kepada Sela. Jumlah nya lebih dari tarif Sela dalam satu permainan. Sela tersenyum lebar seraya menghitung uang kertas dari Mark.
"Hem, dua juta rupiah? Kalau begitu, abang bisa bermain sepuasnya dengan ku. Ayo, kalau begitu, jangan menunda-nunda nya lagi. Mau di dalam toilet, mobil, atau hotel?" kata Sela. Mark tersenyum lebar saat Sela berkata seperti itu.
"Tidak! Aku lagi tidak ingin! Itu uang untuk kamu saja!" ucap Mark segera menghubungi sopirnya. Mark ingin kembali pulang.
"Tapi, bang! Saya juga bekerja. Dan karena anda sudah memberikan saya uang, seharusnya saya melayani anda, bang!?" protes Sela.
"Kenapa? Paling tidak sekali saja dulu, anda menikmati pelayanan dari saya. Sehingga uang yang saya dapatkan ini bukanlah cuma-cuma saja. Melainkan memang saya harus menjual jasa," kata Sela.
"Maksa sekali, kamu! Ya sudah! Datangi laki-laki itu, dan ajak dia bermain dengan kamu. Karena aku sudah membayar nya. Sudah, bereskan?" ucap Mark yang segera berlalu meninggalkan Sela yang masih bengong saja. Kini Sela melihat ke laki-laki yang ditunjuk oleh Mark.
__ADS_1
"Laki-laki itu, yah?!" gumam Sela.
"Baiklah! Aku akan mendekati nya," gumam Sela akhirnya.
*****
"Tuan mabok lagi?" tanya Rendra. Kini Mark sudah dijemput Rendra. Asisten pribadi Mark ini selalu siap menjalankan perintah jika Mark selalu menghubunginya.
"Tidak!? Hanya minum sedikit saja!?" jawab Mark.
"Masih teringat dengan wanita itu?" ucap Rendra.
"Wanita yang mana?" tanya Mark.
"Ayana!?" jawab Rendra. Mark kembali menghembuskan nafasnya. Mark kembali merasakan sesak jika mengingat bahwasanya Ayana sudah dimiliki oleh Sunny, teman dekatnya.
__ADS_1
"Apakah kamu punya ide, Rendra? Supaya aku bisa memiliki wanita itu?" tanya Mark.
"Eh, em??" Rendra tidak bisa memberikan solusinya. Tentu saja, karena wanita yang masih dipikirkan tuan Mark kini sudah menjadi istri orang.