Aku Bukan Pilihan

Aku Bukan Pilihan
BAB 21


__ADS_3

"Sunny dan istrinya sudah pindah dari rumah itu. Aku belum menemukan tempat tinggal mereka yang baru. Menurut tetangga sebelah di rumahnya yang lama, mereka pindah karena ada insiden kecil yang membuat mereka pindah dari rumah itu," cerita tuan Apollo kepada istrinya Reta. Reta mengerutkan dahinya mendengar cerita dari suaminya itu.


"Ada apa? Sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga mereka pindah?" sahut mommy Reta.


"Menurut cerita salah satu warga di dekat rumah tinggal Sunny itu, saat itu ada salah seorang pria yang datang ke warung kopi milik istri Sunny itu. Namun laki-laki itu langsung saja masuk ke dalam warung. Selang beberapa lama terjadinya keributan dan adu mulut hingga akhirnya laki-laki itu berkoar-koar kalau warung kopi milik Ayana itu hanyalah kedok. Pria itu berkata kalau sebenarnya Ayana itu jual diri. Sehingga banyak warga yang berdatangan ke warung itu," urai tuan Apollo.


"Sepertinya pria itu sangat kurang kerjaan sekali. Dia benar-benar jahat telah memfitnah menantuku. Apakah pria itu memiliki warung kopi hingga ingin memfitnah warung kopi milik menantuku itu supaya warungnya menjadi sepi dari pembeli," ucap mommy Reta.


"Tidak, tidak, tidak seperti itu Reta! Asal kamu tahu Reta! Sebenarnya dahulu nya menantu kamu itu seorang pelacur dan setelah menikah dengan Sunny dia berhenti dari pekerjaan itu untuk menjual diri," jelas tuan Apollo.


"Hah? Apa?" sahut mommy Reta. Tentu saja dia tidak langsung mempercayai ucapan suaminya.


"Yah, sudahlah! Mungkin saja pria yang datang dan berusaha mengganggu ketenangan Ayana dan Sunny itu salah satu pria yang pernah menjadi pelanggan nya Ayana. Jadi dia pikir saat melihat Ayana jualan kopi di warungnya, dia berpikir sekalian jual diri. Padahal Ayana itu sudah insaf dan berhenti dari dunia gelap itu," kata tuan Apollo.


"Kasihan sekali, menantuku itu! Disaat dia ingin memulai jalan kehidupan nya yang baru dan memilih jalan yang lebih baik, ada saja orang yang ingin mengganggu ketentraman dan ketenangan nya. Padahal setiap orang bisa saja berubah. Tidak semua orang akan selalu bergelimang dosa dan maksiat. Ada kala nya ingin berubah menjadi lebih baik. Yang pasti kita yakin bahwasanya Tuhan selalu mengampuni segala salah dan dosa yang pernah kita perbuat. Selagi nafas masih dikandung badan, kita masih ada waktu untuk bertaubat dan bertekad untuk memilih jalan lebih baik dari sebelumnya," urai mommy Reta.


"Benar, Reta! Namun masa lalu yang suram masih saja diingat orang. Itulah hukuman sosial yang harus diterimanya," sahut tuan Apollo.


"Kita pun tidak lebih baik dari wanita tuna susila itu. Kita tidak berhak menghakimi bahkan menilai seseorang hanya melihat casing nya saja. Hati yang bersih lah yang dilihat olehNya," ucap mommy Reta.


"Ya,ya, ya ya! Weekend kita siap-siap untuk menyambut kedatangan putra dan menantu kita di rumah ini. Kamu bisa mempengaruhi mereka kembali agar mau tinggal dan kembali ke mansion kita ini, Reta! Mengingat mereka kini tinggal di rumah Ayana menantu kita itu. Rasanya aku tidak akan rela jika putraku ikut tinggal di rumah istri nya. Sebagai seorang suami harus lebih memiliki segala-galanya dong, baik harta, tempat tinggal maupun kemewahan untuk membahagiakan istrinya," ucap tuan Apollo.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan berusaha membujuk putra dan menantuku itu supaya mau tinggal di mansion ini," sahut mommy Reta.


*****


Sementara itu ditempat lain Adrian terlihat marah-marah tidak jelas di dalam rumahnya. Padahal Tami saat ini sedang sibuk di depan laptopnya. Tami sudah sangat paham kalau suaminya itu selalu saja mencari perhatian jika dirinya sedang sibuk memeriksa laporan keuangan di perusahaan nya. Akhirnya Tami menyudahi kegiatan nya dan mendatangi suaminya itu.


"Ada apa sih? Kok marah-marah gitu? Jelek, ah kalau cemberut seperti itu," ucap Tami dengan lembut. Dirinya lalu memeluk suaminya supaya lebih tenang.


"Uangku habis! Aku butuh modal lagi," ucap Adrian seraya membalas memeluk Tami.


"Hem, berapa yang kamu butuhkan, sayang?!" kata Tami.


"Nanti akan aku transfer ke rekening kamu. Sekarang senyum dong! Jangan lagi cemberut," kata Tami. Adrian tersenyum lebar karena sebentar lagi dirinya akan mendapatkan suntikan lima ratus juta dari istrinya yang kaya raya itu.


"Terimakasih, baby! Oh iya, kamu mau kopi, sayang? Aku akan bikinkan buat kamu! Kamu kan sejak tadi sibuk mengurus kerjaan kamu kan? Aku buatin yah!" kata Adrian penuh rayuan.


"Boleh, sayang!? Tapi jangan pakai susu yah, sayang!?" sahut Tami.


"Siap tuan putri! Sekarang lanjutkan kerjaan nya. Aku akan buatkan kopi spesial buat kamu," ucap Adrian sambil melenggang ke belakang rumah tepatnya di dapur. Sedangkan Tami kembali berkutat di depan laptopnya kembali menyelesaikan semuanya yang belum tuntas.


*****

__ADS_1


Di rumah Ayana. Di sana pasangan suami istri itu sudah pindah ke rumah Ayana. Sunny ikut saja kemauan istrinya itu. Karena jika tinggal di rumah lama Ayana, Sunny lebih dekat jarak tempuh nya ke kantor daripada saat tinggal di rumah yang ada dipinggiran kota. Jadi jika tinggal di rumah Ayana akan lebih cepat tiba di kantor tempat Sunny bekerja.


"Bagaimana sekarang? Apakah kamu lebih nyaman jika tinggal di rumah ini, sayang?!" tanya Sunny.


"Heem, mas! Semakin tenang jika selalu dengan kamu, mas!?" sahut Ayana. Sunny mencolek hidung Ayana karena gemas. Ayana meringis saja.


"Senang nya sudah kembali ke rumah ini," goda Sunny.


"Iya, mas! Sekarang saat ini aku sedang berpikir. Aku mau bikin usaha apa lagi yah kalau tinggal di perumahan seperti ini? Aku kan tidak mungkin hanya ongkang kaki saja tanpa ikut bekerja," kata Ayana.


"Sudahlah, sayang! Kamu di rumah tidak perlu bekerja lagi. Tugas kamu di rumah menanti kedatangan ku pulang dari bekerja. Kamu tidak usah capek-capek bekerja. Oke?!" ucap Sunny.


"Tapi mas!?" protes Ayana.


"Sudah! Jangan bandel! Sekarang saat nya kita konsentrasi bikin anak. Setelah kamu punya baby, nanti kamu bakalan sibuk deh," kata Sunny.


"Hehe, mas Sunny!! Ih kamu nakal," ucap Ayana sambil mencubit pinggang Sunny. Kini keduanya malah cubit-cubitan dan akhirnya keduanya menjadi kebablasan saling tindih menindih hingga terjadi lagi pertempuran panas antara suami istri itu untuk mendapatkan seorang bayi mungil yang lucu di perut Ayana.


"Ayana, sayang!? I love you so much," ucap Sunny seraya merebahkan tubuh Ayana ke pembaringan.


"Mas, I love you to, masss," sahut Ayana dengan mata yang sudah mulai redup.

__ADS_1


__ADS_2