
"Daddy, kami pulang!?" teriak seorang anak kecil dengan jenis kelamin perempuan berusia sekitar lima tahunan.
Dia datang bersama seorang ibu muda yang penampilannya tetap cantik dan awet muda. Dia adalah Ayana yang datang bersama putri kecilnya yang diberi nama Melani. Ayana membawa beberapa tas belanjaan di dua tangannya dibantu oleh sopir dan seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar. Benar, sopir dan bodyguard nya ikut mengantar dan mendampingi Ayana beserta Melani putri kecilnya berbelanja serta berjalan-jalan di mall.
Mark segera menyambut Melani yang menghambur ke arahnya untuk minta dipeluk. Mark menghujani Melani dengan ciuman di pipi kanan dan kiri nya. Sunny menatapnya penuh rasa kecemburuan. Betapa rumah tangga Mark begitu terlihat bahagia dengan kehadiran putri kecilnya. Apalagi Ayana pun mendapatkan ciuman kasih sayang setelah Mark melepaskan pelukan Melani setelah mencium pipinya. Sampai akhirnya Ayana menyadari ada seseorang laki-laki yang merupakan tamu dari Mark memperhatikan dirinya.
"Eh, em?? Sunny?!" gumam Ayana saat bola matanya kini beralih ke arah Sunny yang duduk di sofa seraya memperhatikan dirinya yang baru tiba disambut dengan hangat oleh Mark.
"Belanja banyak yah sayang?!" tanya Mark.
"Heem, putri kamu juga sangat bersemangat sekali diajak belanja keperluan rumah," sahut Ayana.
"Daddy!! Aku banyak beli mainan juga! Daddy lihatlah ini!?" kata Melani sambil menunjukkan beberapa mainannya. Sunny tiba- tiba memperhatikan Melani penuh selidik.
"Wow, bagus yah mainannya. Sekarang Melani bermain bersama mbak baby sitter yah!!" sahut Mark.
"Oke, daddy! Melani ke kamar dulu yah!? Ayo mommy, main sama aku!?" ucap Melani kecil sambil menarik tangan Ayana.
"Eh?? Iya sayang?!" kata Ayana.
"Kak, aku masuk saja yah sayang. Aku takut nanti kamu cemburu kalau aku lama-lama di sini," bisik Ayana sebelum tangannya ditarik oleh Melani untuk meninggalkan ruangan itu. Mark tersenyum seraya menoel hidung Ayana.
Sunny memperhatikan Ayana yang ditarik tangannya oleh Melani. Mata itu tidak berkedip melihat putri kecil dari Ayana.
"Mark, apakah dia putri kamu?" tanya Sunny menyakinkan keraguannya.
"Tentu saja! Dia sangat cantik sekali bukan? Rasanya aku sangat bahagia memiliki bidadari kecil itu. Melani kecilku sangat dekat dengan ku," sahut Mark.
"Tapi Mark?? Apakah kamu yakin dia adalah darah daging kamu?" tanya Sunny. Mark mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" sahut Mark.
__ADS_1
"Kamu ingin kembali mencoba mempengaruhi aku kah? Kalau Ayana berkhianat dengan aku? Begitu?" kata Mark.
Mark sangat tahu dengan jelas bahwasanya Melani bukanlah darah daging nya. Melani adalah anak biologis dari Sunny. Namun Sunny tidak mengakui itu. Mark tidak ingin mengungkap semua itu kembali toh Sunny menganggap Ayana sudah mengkhianati dirinya. Bahwa dugaan Sunny Mark telah meniduri Ayana saat menculik dan menyembunyikan Ayana saat itu.
"Bukan, bukan begitu Mark!? Tapi kenapa Melani sangat mirip dengan aku, Mark!?" ucap Sunny. Mark mendengus kesal.
"Benar! Kamu selama ini sudah menuduh Ayana berselingkuh dan mengkhianati mu. Padahal aku tidak pernah menyentuh Ayana saat aku menyembunyikan nya. Ternyata kepercayaan mu terhadap Ayana sangat tipis, Sunny. Aku pikir kamu benar-benar sangat mencintai Ayana dan mempercayai Ayana seratus persen. Tetapi nyatanya kamu masih saja mengungkit masa lalu Ayana. Bukannya kamu sangat paham jika Ayana ingin menjadi wanita yang baik. Meninggalkan masa lalu nya. Bahkan kerjaannya itu bukan dasar keinginan Ayana sendiri. Semua karena Adrian, pacar Ayana dululah yang menjerumuskan Ayana ke sumur hitam itu," urai Mark.
"Mark!? Aku menyesal Mark!? Kembalikan Ayana ku, Mark!?" ucap Sunny serius. Mark yang mendengar ucapan Sunny seketika tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, astaga Sunny!! Apakah kamu sudah gila!? Mana mungkin aku rela menyerahkan istriku yang aku sayangi padamu. Aku sudah menunggu Ayana untuk bisa menjadi istriku lebih dari lima tahun. Menyakinkan Ayana kalau aku serius mencintai nya serta aku serius pensiun menjadi laki-laki Casanova. Aku dan Ayana sama-sama memiliki masa lalu yang buruk. Dan kami sepakat tidak akan mengungkitnya kembali. Kami akan melihat ke depan. Kami akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi," urai Mark.
"Mark! Katakan padaku dengan jujur, Mark! Melani putri kecilmu itu sesungguhnya adalah putri kandung ku bukan? Melani adalah darah daging ku kan? Aku janji, aku tidak akan menggangu kehidupan rumah tangga kalian. Melani biar mengenal kamu sebagai daddy nya. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya saja, Mark," kata Sunny panjang lebar. Mark menyipitkan bola matanya.
"Bukannya sudah jelas!!? Haruskah aku menegaskan kembali, Sunny!? Kamu benar-benar bodoh! Melani sesungguhnya adalah darah daging kamu. Tapi ingat janji kamu, Sunny! Kamu tidak boleh merusak lagi kebahagiaan ku dengan Ayana. Demikian juga dengan Melani," kata Mark.
"Mark!? Aku menyesal Mark!? Kenapa aku dulu tidak mempercayai Ayana. Mark ijinkan aku memeluk Melani kecil, putriku Mark!?" ucap Sunny.
*****
"Kak, kamu yakin akan memberikan kesempatan pada mas Sunny untuk mengenal Melani, putri kita?" tanya Ayana. Saat ini Ayana sedang berada di pelukan Mark. Kedua nya sedang bermesraan di kamar utama mereka.
"Sunny adalah ayah biologis Melani, sayang!? Aku tidak ingin memutuskan hubungan darah diantara mereka. Suatu saat nanti ketika Melani besar dan mungkin saja akan melepaskan masa lajang nya, Melani akan membutuhkan ayah kandung nya sebagai wali untuk nikahnya. Kita menyayangi Melani bukan berati menjauhkan kebenarannya dari Melani, bukan? Kebenaran bahwa Sunny adalah daddy nya.
"Kak Mark!? Kakak benar-benar keren!?" sahut Ayana.
"Hehehe sekarang saatnya kita bekerja keras untuk membuatkan adik untuk Melani, sayang!? Aku ingin anak yang banyak dari kamu sayang," ucap Mark tanpa filter.
Ayana memerah wajahnya saat Mark mulai meraup bibir nya yang merah delima. Tanpa banyak kata keduanya sama-sama aktif dalam kegiatan intens yang saling memberikan kenikmatan.
*****
__ADS_1
"Sunny!? Kejadian itu sudah sangat lama sayang!? Memang benar aku melakukan itu untuk pertama kalinya bersama dengan Mark. Tapi sekarang aku benar-benar serius dan ingin setia dengan kamu saja, Sunny! Kita jadi menikah bukan!?" ucap Viviana.
"Tidak! Maaf, Viviana aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini ke jenjang pernikahan. Maaf!?" sahut Sunny.
"Tapi Sunny!? Katanya kamu serius dengan ku dan mau menikah dengan ku? Kenapa Sunny? Apakah semuanya gara-gara aku pernah berhubungan banyak dengan laki-laki seperti Mark?" ucap Viviana.
"Itu salah satunya. Maaf Viviana. Kita putus! Aku tidak ingin meneruskan hubungan kita ini," kata Sunny.
"Sunny, kamu sangat kejam. Setelah kamu menikmati semuanya, kamu mencampakkan aku!?" ucap Viviana.
"Hai?! Bukan aku laki-laki satu-satunya yang menikmati indahnya tubuh kamu. Jadi jangan menyudutkan aku yah? Baiklah, berapapun yang kamu minta, aku akan memberikan kompensasi nya padamu. Oke?" kata Sunny tanpa perasaan.
"Sunny," gumam Viviana dengan kedua matanya yang berkaca-kaca karena diputus oleh Sunny.
*****
Sementara ditempat lain.
"Maaf, Adrian!? Aku sudah tidak bisa mempertahankan pernikahan kita lagi. Kita cerai!?" ucap Tami, istri Adrian si janda muda itu. Tami adalah wanita karir sedangkan Adrian selama ini hanya mendompleng hidup dengan istrinya.
"Kenapa Tami?! Apa kesalahan ku? Kenapa kamu ingin bercerai dengan ku, sayang?!" sahut Adrian.
"Maaf, aku sudah lelah! Aku sudah bosan memiliki suami pengangguran yang kerjaannya hanya menikmati dan menghabiskan uang ku saja. Sementara itu aku diluar kerja keras," ucap Tami.
"Jangan begitu dong sayang!? Bukannya aku selalu memberikan kenikmatan bagi kamu, Tami? Apakah kamu sekarang kurang puas dengan keperkasaan ku?" tanya Adrian.
"No! Bukan itu! Aku pikir aku sekarang sudah tidak menyukai kamu lagi. Maaf, kita harus bercerai. Dan kamu jangan khawatir! Aku akan memberikan kamu beberapa hartaku. Mungkin kamu bisa menggunakan sebagai modal untuk memulai usaha," kata Tami.
"Tapi jangan ceraikan aku, sayang!? Aku akan berubah, sayang!? Bagaimana?" ucap Adrian.
"Maaf, Adrian! Aku sudah lelah. Dan aku sudah sangat lama memaafkan dan memaklumi kamu selama ini. Tapi kesabaran ku sudah habis," kata Tami.
__ADS_1
"Tami!? Tami sayang?! Jangan lakukan itu sayang!? Aku sangat mencintaimu, sayang!? Aku tidak mau bercerai dengan kamu, sayang!?" ucap Adrian seraya memeluk kedua kaki Tami yang masih berdiri mematung.