
"Mas Apollo!! Seharusnya aku yang lebih dahulu pergi meninggalkan dunia ini. Kenapa kamu dulu, mas? Sedangkan aku sudah cukup lama sakit-sakitan dan mengalami kelumpuhan. Mas Apollo?!" ucap mommy Reta pelan.
Nyonya Reta air matanya menetes di kedua sudut matanya. Betapa kepergian tuan Apollo membuat rasa kesedihan yang mendalam pada mommy Reta.
"Mommy, daddy mommy!? Suruh bangun daddy, mommy!?" ucap Sunny seperti anak kecil sambil mendekap nyonya Reta yang saat ini duduk di atas kursi roda nya.
"Ih, kamu ini, selalu bicara ngaco! Daddy kamu sudah meninggal dunia. Mana mungkin dia bisa bangun kembali?" sahut mommy Reta pelan seraya mengusap pundak Sunny.
Ayana yang duduk tidak jauh dari mereka hanya terdiam membisu. Saat ini jasad tuan Apollo sudah siap untuk dikebumikan. Mark yang datang bersama dengan asisten pribadinya, Rendra duduk di kursi paling pojok sambil memperhatikan Ayana. Sesekali Mark melihat ke arah Sunny yang sedang berduka kehilangan daddy nya.
Rendra, sang asisten pribadi Mark diam-diam memperhatikan bos nya yang pandangan matanya sering tertuju pada istri Sunny. Ayana yang mengenakan pakaian hitam tanda sedang berduka terlihat sangat cantik. Kedua matanya tertutup dengan kacamata hitam Ayana banyak diam, dalam pikiran nya dirinya ikut merasakan kesedihan dan kehilangan tuan Apollo. Bagaimana pun juga tuan Apollo pernah singgah dalam pelabuhan darmaga saat mengarungi api asmara sesaat.
"Om Apollo! Semoga semua kesalahan dan dosa-dosa yang sudah om Apollo lakukan mendapatkan ampunan dari Tuhan. Om Apollo mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNYA," batin Ayana yang masih duduk di depan tidak jauh dari Sunny dan mommy nya yang masih berada di dekat jasad tuan Apollo.
Di kursi paling sudut kini Rendra mulai tergelitik menggoda Mark.
"Tuan Mark!? Kenapa anda selalu melihat ke arah istrinya mas Sunny? Apakah wanita itu yang dulu nya salah satu anak dari mami Susi? Di mana anda membayar dengan sangat mahal untuk bisa berkencan dengan wanita itu, tuan?" ucap Rendra pelan. Suaranya terdengar seperti berbisik.
"Rendra!? Sejak kapan kamu mengurusi aku, hah?" kata Mark pelan. Namun ucapan itu cukup membuat nyali Rendra menciut. Rendra tidak berani lagi menggoda bos nya itu. Dimana Mark masih juga memperhatikan Ayana.
__ADS_1
"Ayana?!" batin Mark.
"Semakin sulit aku menggapai mu, aku semakin ingin memiliki ku. Walaupun aku tahu, kamu sudah tidak bisa dimiliki," pikir Mark seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Rendra yang masih memperhatikan bos nya itu segera mengambilkan air minum untuk tuan Mark. Dengan sok perhatian nya memberikan air mineral itu pada tuan Mark.
"Minum, tuan Mark," kata Rendra seraya menyodorkan botol air mineral itu pada Mark. Mark menatap aneh ke Rendra.
"Hem, tumben kamu sangat peka," ucap Mark seraya tersenyum lebar. Rendra hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Sampai akhirnya Mark berkata pada Rendra.
"Akulah laki-laki yang pertama merenggut mahkota nya. Saat itu, dia begitu polos. Setelah malam itu aku merampas kesuciannya, saat pagi kita terbangun, aku bertanya pada nya. Wanita ini ternyata datang dari kampung untuk bekerja di kota. Kekasihnya lah yang mengajaknya ke kota dengan menjanjikan sebuah pekerjaan. Ternyata, kekasih nya menjualnya pada mami Susi. Sampai akhirnya, mami Susi menghubungi ku kalau ada barang baru dan masih tersegel," cerita Mark.
"Dan aku laki-laki beruntung dan pertama kali nya mengajar kan pada wanita itu, bagaimana caranya menyenangkan seorang pria," sambung Mark. Rendra yang mendengar cerita Mark itu kini ikut memperhatikan Ayana.
"Lalu apakah tuan Mark mulai menyukai nya?" sahut Rendra.
*****
Setelah jasad tuan Apollo dikebumikan.
"Aku turut berdukacita atas meninggalnya daddy kamu, sobat!?" ucap Mark pada Sunny.
__ADS_1
"Terimakasih, banyak tuan Mark. Rasanya begitu cepat daddy ku pergi. Aku kira ini hanya candaan daddy ku saja, saat daddy menelpon ku. Nyatanya semuanya adalah benar," sahut Sunny.
"Mas Sunny, setiap orang tidak akan mengetahui secara pasti tentang ajalnya. Kapan saat waktu nya berpulang. Mungkin saja kita harus menunggu gilirannya. Yang pasti ajal dan masa kita di dunia tidak memandang muda atau tua," kata Mark yang tiba-tiba menjadi sangat bijaksana.
"Benar, tuan Mark! Setelah ini aku harus kembali memimpin perusahaan daddy. Saya minta maaf, tuan Mark jika selama saya bekerja di perusahaan tuan Mark dan saat menjadi salah satu karyawan tuan Mark, banyak kekurangan dan kesalahan. Namun saya sangat berterima kasih karena tuan Mark merangkul saya di saat saya memang membutuhkan pekerjaan. Karena disaat itu aku dan daddy ku memang sedang lagi kurang baik hubungan kami," cerita Sunny.
"Aku tahu, antara aku dan daddy sama-sama keras kepala. Sampai akhirnya, disaat terakhirnya daddy lah yang mendatangi ku di rumah ku. Dia meminta supaya aku kembali lagi memimpin perusahaan dan membantu mengembangkan perusahaan. Beliau juga meminta kami untuk kembali tinggal di mansion itu," urai Sunny.
"Aku tahu, mas Sunny! Walaupun kamu sudah tidak ikut bergabung di perusahaan ku menjadi karyawan di sana. Namun kita bisa saling bekerjasama bukan? Kita tetap menjadi sahabat, oke?" sahut Mark.
"Terimakasih, tuan Mark. Anda memang laki-laki hebat!" ucap Sunny.
"Kamu terlalu berlebihan, mas Sunny!? Oh, iya kalau begitu aku pamit dulu. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan dan kehilangan," sahut Mark seraya menjabat tangan Sunny lalu memeluk nya erat. Mereka berdua adalah sahabat. Mark meninggalkan tempat Sunny itu setelah sempat melemparkan senyumnya pada Ayana yang sempat memperhatikan nya saat bersalaman dan berpelukan.
Ayana mendekati Sunny setelah tuan Mark bersama asisten pribadinya berlalu dari rumah duka.
"Ayana??" gumam Sunny seraya menggandeng pinggang Ayana.
"Mas, istirahat yuk! Sejak dari kemarin kamu kurang tidur," ajak Ayana pelan. Sunny tersenyum dan segera menggandeng Ayana meninggalkan ruangan itu di mana masih banyak saudara berkumpul di sana.
__ADS_1
"Ayana, setelah ini kita harus tinggal di mansion ini menemani mommy. Aku juga harus kembali mengelola perusahaan. Kamu mau kan, sayang?!" kata Sunny.
"Iya, mas!? Aku ikut apa kata kamu mas?!" sahut Ayana.