Aku Bukan Pilihan

Aku Bukan Pilihan
Cerita itu


__ADS_3

Ayu segera menarik handuk yang ada di dekat nya dan menutupi tubuh nya sebelum Aditya membawakan salep untuk nya.


"Ayu ini salep nya,apa kamu sudah pake handuk,"


"Sudah dit,"


Aditya bertanya di depan pintu setelah dirasa Ayu sudah mengenakan handuk ia pun masuk dan mengangkat Ayu dari bak mandi nya dan segera menggendong nya lalu meletakkan nya ke ranjang,Ayu yang hanya menggunakan handuk di dada nya membuat Aditya sedikit gugup.


"Kamu duduk disini,aku ambilkan baju dulu,"


Tak lama Aditya tiba membawa baju kaos dan celana kolor milik nya.


"Maaf yu di lemari cuman ada ini,kalo kamu ngga mau make aku bisa minta baju rumah sakit lagi,"


"Emmm ini juga ngga papa dit,bisa tolong jangan liat sini ngga,Ayu mau pake baju nih,"


"Oh iya yu,"


Aditya mengalihkan pandangan nya ke jendela kaca besar yang menghadap ke jalanan kota yang ramai dengan hiruk pikuk nya ,tak lama Ayu selesai dengan baju kaos dan celana kolor milik Aditya,


Serasa risih Ayu mengenakan pakaian yang bukan milik nya,bahkan sangat jauh berbeda dengan pakaian sehari-hari nya,tapi ia sudah jenuh dengan baju rumah sakit yang dikenakan nya berbulan-bulan.


Tok,tok,tok terdengar suara pintu di ketuk dari luar,Aditya pun segera berjalan keluar untuk membuka pintu,terlihat dua orang perawat tengah berada di balik pintu.


"Maaf tuan kami harus melakukan pemeriksaan kepada nona Ayu,"


"iya sus silahkan,"


Para perawat pun berjalan mendekat ke arah Ayu,mereka terlihat melongo melihat Ayu tengah mengenakan kaos dan celana kolor,Aditya yang melihat hal itu,segera menegur kedua perawat itu.


"Kenapa kalian memandang nya seperti itu?,"


"Ah tidak tuan,maaf,"


"Kalau kalian merasa ada yang aneh,sebaik nya kalian keluar,"


"Ah tidak tuan,"


"Iya saya meminta kalian keluar,untuk membelikan Ayu pakaian,kalian bisa?,"

__ADS_1


"Ba baik tuan,"


Ada rona ceria yang terlihat dari wajah dua perawat itu,mereka segera memeriksa dan melepaskan beberapa selang yang sudah tidak di gunakan lagi oleh Ayu,tak lama mereka pun keluar untuk membelikan pakaian seperti yang di perintahkan Aditya,sebenar nya Aditya bisa saja meminta sekertaris nya ataupun Andre yang membelikan,tapi ia melihat dua perawat itu melihat aneh ke arah Ayu,hingga membuat nya sedikit kesal.


Tok tok tok,kembali pintu itu di ketok dari luar,Aditya kembali berjalan membuka pintu untuk melihat siapa yang berada di balik pintu itu.


"Maaf tuan,pasien bernama Hana menanyakan tuan ,apa kah kami harus membawa nya kesini?,"


"Iya sus bawa kesini,"


"Baik tuan,"


Mereka pun kembali ke ruangan Hana untuk menjemput nya,Aditya kembali ke tempat tidur dan menanyakan kesiapan Ayu untuk bertemu dengan ibu nya.


"Ayu,ibu mu sebentar lagi kesini,apa kamu siap untuk menjelaskan?,"


"iya dit,insyaallah,aku sangat merindukan ibu,"


"Emm tapi tolong ya yu,kalau ibu mu marah aku sudah menyembunyikan mu dari nya,"


"Tolong ngga ya,tolong ngga ya,emmm ngga deh ya,hahahaaa,"


"iya deh,"


Krieekk krieekkk suara kursi roda di dorong,nampak di pintu seorang wanita paruh baya dengan baju bunga-bunga berdasar hitam dengan rok plisket dan sendal jepit nya tengah duduk di kursi roda dengan kedua tangan nya memegangi kedua roda dan diiringi perawat di belakang nya,dengan linangan air mata yang tumpah begitu saja,saat melihat putri nya tengah duduk di ranjang berukuran king itu.


"Ayu apa itu kamu yu,anak ibu?,"


Hana mencoba bertanya kepada wanita yang tengah duduk di ranjang dengan rambut yang tergerai panjang,sesekali hana menyapu air mata dan mengucek nya,ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihat nya untuk yang kedua kali.


"Iya bu ini Ayu,"


Ayu menjawab sambil merentangkan tangan nya berharap ibu nya itu akan memeluk nya karna ia teramat merindukan ibu nya itu.


"Kamu masih hidup yu?,"


Hana berkata sembari memeluk erat putri nya itu untuk meyakinkan bahwa itu benarlah putri nya.


"iya bu,"

__ADS_1


Ayu yang tidak tahan melihat ibu nya menangis,ia pun ikut menangis bersama dalam pelukan panjang.


"Nak Aditya bisa jelas kan?,"


"iya bu saya akan menjelaskan,"


Aditya pun menjelaskan semua nya dari awal Andre membawa Ayu,hingga mengalami kritis,serta mencari pendonor,saat melemah detak jantung nya,juga maksud nya membawa bu Hana tinggal bersama di rumah nya,bu Hana yang mendengar cerita itu tercengang,ia tidak menyangka begitu beruntung nya Ayu bisa mengenal Aditya yang sudah sangat baik menolong dan merawat nya,hingga Aditya menceritakan alasan kenapa ia merahasiakan semua nya hanya demi keselamatan dan kesembuhan Ayu.


Tak habis air mata Hana ia tetap menangis dengan sedikit senyum mengambang di sudut bibir nya,tangis bahagia setelah mengetahui semua nya


"Bu kami dan om Arman juga sudah mengetahui siapa pelaku nya,"


"Benar kah nak Adit?,"


"Iya bu,"


Ayu yang masih di penuhi air mata haru teringat dengan janji yang di ucapkan Aditya.


"Dit semalam kamu janji kan buat cerita masalah Ayah yang kamu maksud itu,"


Aditya dan Hana pun menoleh ke arah Ayu dan kembali saling tatap,mereka sangat bingung untuk menjelaskan nya.


Hana menarik nafas dalam ingin memulai cerita,ada sedikit ketakutan di hati nya kalau saja Ayu tidak bisa menerima Arman sebagai Ayah nya,atau bahkan membenci nya.


Cerita dimulai sejak mereka berpacaran dan Arman di jodohkan ,Arman mengirimkan surat kepada Anya yang tak pernah di berikan Anya hingga Hana pergi tanpa pamit meninggalkan semua nya,untuk menghidupi bayi yang dikandung nya,sampai saat ia tinggal dirumah Aditya dan Arman bertamu membawa putri nya saat itulah mereka bertemu dan Arman menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.


Di sebuah rumah mewah bergaya eropa kuno.


"Selamat siang,kami dari pihak kepolisian ingin memberikan surat penahanan terhadap saudari Anggelina atas tuduhan penabrakan yang menghilangkan nyawa orang lain,"


kedua petugas itu berhadapan langsung dengan Anggelina yang terlihat panik.


"Maaf pa saya tidak tau menau tentang tuduhan ini,jelas bukan saya pelaku nya,"


"Nanti biar jelaskan di kantor saja,sekarang cepat ikut kami,"


"Tapi pa tunggu,saya cari Ayah saya sebentar,"


"Nanti saja kamu telpon di kantor polisi,sekarang cepat ikut kami,"

__ADS_1


Akhir nya kedua polisi itu menarik paksa tangan Anggelina untuk membawa nya ke kantor polisi.


__ADS_2