Aku Bukan Pilihan

Aku Bukan Pilihan
BAB 23


__ADS_3

"Ada apa daddy? Tumben daddy menelpon ku?" tanya Sunny di suatu malam.


Dia hendak beristirahat dan tidur, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ayana yang berbaring disebelahnya sudah mulai tertidur lelap. Sunny yang tidak ingin istrinya itu terganggu saat dia menerima telepon dari daddy nya segera turun dari tempat tidur itu lalu berjalan menuju ruang tengah. Sunny duduk seraya berbicara dengan daddy nya melalui sambungan di handphone nya.


"Sunny, aku mohon kepada mu, nak! Mulai besok gantikan posisi daddy di perusahaan. Daddy tidak yakin bisa hidup lebih panjang lagi. Karena daddy mulai sakit-sakitan," ucap tuan Apollo di seberang sana. Suara tuan Apollo sebenarnya terdengar sangat lemah. Namun tuan Apollo berusaha berbicara dengan lantang. Namun tiba-tiba saja suara daddy nya diganti dengan suara Pak Robert, sang asisten pribadi tuan Apollo yang merangkap bendahara satu di perusahaan nya.


"Daddy! Halo daddy! Daddy ngomong apa sih? Aku tidak suka daddy memaksaku untuk kembali di perusahaan itu dengan alasan seperti itu. Penyakit apa yang daddy rasakan hingga daddy bicara seperti itu!?" sahut Sunny.


"Halo, mas Sunny! Tuan Apollo pingsan, mas! Sekarang ini, tuan Apollo sedang dirawat di rumah sakit. Selama ini tuan Apollo memiliki riwayat penyakit serangan jantung. Jadwal yang sangat padat membuat kondisi tuan Apollo menurun kesehatan nya hingga mengalami sesak," terang pak Robert.


"Pak Robert, jangan bercanda dalam urusan seperti ini, dong! Aku tidak mau dipaksa kembali memimpin perusahaan daddy dengan alasan daddy saat ini sedang sakit," sahut Sunny masih tidak percaya atas informasi dan berita yang disampaikan oleh pak Robert.


"Tapi kenyataannya memang demikian, mas Sunny! Kalau mas Sunny tidak percaya, mas Sunny bisa datang secepatnya di rumah sakit," ucap Pak Robert.


"Apa? Malam-malam begini? Pak Robert, jangan membual dong!" sahut Sunny.


"Tidak, mas! Saya tidak berbohong! Tuan Apollo benar-benar dalam kondisi kurang baik. Bisa dikatakan kritis. Apalagi sekarang tuan Apollo sudah dibawa masuk ke dalam ruangan IGD," urai Pak Robert.


"Di rumah sakit mana?" sahut Sunny akhirnya.

__ADS_1


Mau tidak kau Sunny harus secepatnya ke rumah sakit itu dan memastikan kebenarannya. Namun dalam hati kecil Sunny, semua berita yang disampaikan oleh Pak Robert hanyalah kebohongan. Daddy nya tidak benar-benar kritis seperti apa yang telah dikatakan oleh Pak Robert.


"Di rumah sakit pusat kota, mas Sunny! Saya menunggu mas Sunny datang secepatnya ke sini. Karena hanya mas Sunny saja salah satu keluarga dari tuan Apollo. Saya tidak mungkin memberi kabar kepada nyonya Reta malam-malam seperti ini. Ditambah nyonya Reta juga sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk datang ke rumah sakit ini," terang Pak Robert.


"Baik, aku akan segera ke sana! Nanti aku akan menghubungi Pak Robert kembali kalau sudah sampai di rumah sakit itu," kata Sunny.


*****


"Aduh, bagaimana ini? Ayana masih tertidur pulas. Apakah aku harus membangunkannya? " gumam Sunny.


Sunny segera mengganti pakaian nya yang tadi dirinya sudah mengenakan pakaian tidur. Namun tiba-tiba saja Ayana membuka mata dan melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi.


"Daddy masuk rumah sakit, Ayana! Karena kamu sudah terbangun, apakah kamu mau ikut dengan ku ke rumah sakit?" kata Sunny.


"Aku ikut, mas Sunny. Sebentar, aku akan mengganti pakaian ku dulu mas!?" sahut Ayana.


"Oke, Ayana sayang! Cepat lah sedikit dan tidak perlu berdandan," kata Sunny yang kini sudah mulai mengkhawatirkan keadaan daddy nya.


*****

__ADS_1


Di dalam mobil. Benar! Setelah beberapa lama bekerja di perusahaan milik Mark, Sunny mendapatkan fasilitas mobil pribadi. Ini untuk memudahkan Sunny dalam bekerja.


"Semoga daddy tidak kenapa-kenapa! Pak Robert bilang kalau daddy saat ini sedang berada di ruang IGD. Aku tiba-tiba menjadi takut, Ayana. Sebelum pak Robert berbicara dengan ku, daddy sempat berbicara dengan ku dan bahkan memohon padaku untuk kembali memimpin perusahaan. Aku pikir semua ini hanyalah lelucon dan kebohongan mereka, namun pak Robert sudah menyakinkan padaku kalau semua berita ini benar adanya. Aku takut Ayana! Kalau seperti ini, aku hanya berharap kalau semua itu hanyalah kebohongan daddy ku saja supaya aku kembali ke perusahaan lagi untuk memimpin dan mengelola perusahaan milik daddy itu," cerita Sunny.


"Tenang, mas! Semoga om Apollo tidak kenapa-kenapa, sayang!?" sahut Ayana. Sunny menyipitkan bola matanya.


"Dia dady ku, Ayana! Itu artinya dia juga daddy kamu juga. Jangan panggil daddy ku dengan om lagi," kata Sunny.


"Walaupun dulunya kamu dan daddy pernah..." sambung Sunny yang akhirnya keceplosan kembali mengingat masa lalu Ayana. Ayana tiba-tiba kembali menundukkan kepala dan tanpa sadar kesedihan nya itu membuat kedua matanya berkaca-kaca.


"Eh?? Maafkan aku, Ayana sayang!!? Aku tidak bermaksud..." ucap Sunny seraya berusaha meraih tangan Ayana. Namun tangan itu ditepisnya.


"Aku tahu mas!? Masa lalu yang buruk masih saja jelas dan membekas di kepala mu. Bahkan ketika aku sudah berhenti dari pekerjaan itupun kamu masih saja mengungkitnya. Ini sangat menyakitkan sekali. Apalagi kamu, yang sudah menjadi suamiku masih belum bisa melupakan masa laluku yang gelap," ucap Ayana yang tanpa sadar air matanya menetes sudah.


"Sayang?! Maafkan aku, sayang!!?" Sunny segera merengkuh tubuh Ayana setelah menghentikan mobilnya dan menepikan nya di pinggir jalan. Ayana semakin berguncang dalam tangisannya saat dalam pelukan Sunny.


"Sudah yah!!? Aku minta maaf, Ayana sayang!? Jangan nangis dong!!" kata Sunny.


"Kamu jahat, mas!!" ucap Ayana sambil memukul dada Sunny. Sunny membiarkan Ayana meluapkan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2