
"Baiklah aku setuju dengan persyaratan yang Mas ajukan, tapi aku mau dua minggu dari sekarang Mas harus nikahi aku dan saya tidak menerima penolakan lagi," timpalnya Astrid.
Yudha kembali teringat dengan perkataan mamanya tadi pagi jika ia dan mamanya besok pagi akan segera melamar Asti baby Sitter ke tiga anak kembarnya.
"Aku serasa ingin berteriak kencang, ini karena aku yang terlalu bodoh," makinya Yudha.
"Mama! Aku mohon dengarkanlah aku untuk kali ini saja, aku tidak mungkin bisa menikahi perempuan pilihan Mama, aku sama sekali tidak mencintainya, apa Mama ingin melihat kami tidak bahagia dan berakhir seperti pernikahan aku yang dulu?" Rengeknya Yudha.
Bu Inggrid menatap ke arah putra semata wayangnya. Ia tidak mungkin membatalkan niatnya untuk menikahkan Asti dengan anaknya. Ia juga sudah mendapatkan informasi tentang perempuan yang sudah menjalin hubungan anaknya.
Dari situlah ia sudah bertekad untuk menyelenggarakan pernikahan keduanya apa pun yang terjadi. Lagian Bu Inggrid sudah merencanakan semuanya dan hanya menunggu hari h nya saja.
"Maafkan Mama, dulu papamu dan kakek yang memutuskan perjodohanmu dengan Andien sehingga pernikahan kalian harus berakhir tapi, kali ini Mama yakin Asti adalah wanita sholeha dan hanya dia wanita yang cocok untuk kamu," sela Bu Inggrid.
"Tapi Mama! Please kali ini dengarkan aku," pintanya Yudha yang sudah berlutut di depan wanita yang melahirkannya.
Bu Inggrid tidak menghiraukan lalu meninggalkan ruangan pribadi dengan wajahnya yang merah padam menahan amarahnya. Beliau berusaha menekan emosinya di hadapan anaknya itu, karena agar anaknya patuh dan luluh pada keinginannya. Bu Inggrid hanya melirik sepintas ke arah anaknya tanpa berniat untuk membuka suaranya lagi.
__ADS_1
"Kalau sudah seperti ini, aku terpaksa menikahi mereka berdua karena aku tidak mungkin hanya menikahi Asti sedangkan Astrid yang sedari awal ngotot ingin menikah denganku," batinnya Yudha.
Beberapa hari kemudian, kedua belah pihak keluarga sudah saling bertemu. Mereka sepakat satu minggu dari sekarang akan diadakan akad nikah dan sekaligus resepsi pernikahan yang hanya diadakan di kampungnya Asti sedangkan di kota tepatnya di rumahnya Nyonya Inggrid hanya sekedar syukuran saja.
"Sayang besok datanglah ke alamat ini, kita akan menikah di sana sekitar jam delapan pagi, kamu tunggu aku sampai aku datang dan atur semua persiapannya agar aku hanya tinggal melangsungkan ijab qobul,oke!"
Yudha mengirim pesan chat ke nomor hpnya Astrid mengabarkan untuk menunggu sampai ia datang karena harus menyelesaikan pernikahannya dengan Asti terlebih dahulu sebelum menikahi Astrid secara siri.
"Oke, aku akan menunggu kamu," balasnya Astrid melalui pesan chat.
Suasana malam itu sungguh ramai karena berbagai acara adat diselenggarakan di kediaman Asti di kampung halamannya. Rombongan calon pengantin pria beserta keluarganya sudah datang. Mereka menyewa salah satu rumah warga masyarakat setempat.
Bu Inggrid bersosialisasi dengan anggota keluarganya Asti dan juga dengan anggota masyarakat yang ada di sekitar rumah yang disewanya selama mereka berada di kampung tersebut hingga acara adat istiadat pernikahan sudah selesai.
"Besok, aku harus mencari alasan yang paling bagus agar mereka tidak curiga jika aku pergi sementara waktu," gumamnya Yudha yang duduk di dalam kamarnya tanpa ada niat untuk bergabung dengan yang lainnya.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.
__ADS_1
I love you all readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
First Love Rubi Salman
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah