Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 34


__ADS_3

"Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil keputusan karena perlu kamu ketahui penyesalan itu selalu datangnya di belakang kalau depan itu namanya pendaftaran, satu hal lagi kamu itu sedang hamil tidak mungkin bisa bercerai dari suamimu," nasehatnya Anjas yang bahagia sebenarnya mendengar perkataan dari Asti perempuan yang diam-diam ia sukai itu.


"Makasih banyak, aku yang salah telah hadir di dalam hubungan mereka, aku akan bertemu dengan Paman Danuadji dan Tante Wulan untuk meminta izin balik ke rumah mertuaku, aku sangat kasihan dengan calon anakku dan ketiga anaknya Mas Yudha tapi aku tidak mungkin hidup seperti ini terus dalam berbagi suami, aku mungkin egois, tapi aku tidak bisa hidup berbagi suami karena aku sudah yakin Mas Yudha tidak mungkin memilihku," ucapnya Asti kemudian berjalan ke arah dalam rumah sepasang suami istri yang sudah berbaik hati menerima dan menampungnya.


"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu saya sebagai temanmu hanya mendukung apapun keputusanmu dan juga hanya akan memberikan masukan yang terbaik untuk kamu, diterima atau tidak itu urusan belakangan yang penting aku berhak mengingatkan kamu dalam kebaikan," ucapnya Anjas.


Asti menyeka air matanya dan berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sangat sakit dan sedihnya memikirkan akan bercerai dengan suaminya itu, "Apa aku boleh minta tolong kamu antarin aku pulang ke rumahnya mas Yudha untuk bertemu dengan Mas Yudha dan juga bertemu dengan ibu mertuaku serta anak-anaknya Mas Yudha," pintanya Asti yang sebenarnya enggan dan juga segan merepotkan orang lain.


"Itu tidak masalah kemanapun tempat tujuan kamu saya akan selalu siap untuk menolongmu," imbuhnya Anjas kakak kelasnya dua tingkat dari Asti di kampusnya.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, Asti sudah berpamitan dengan Bu Wulan sedangkan dengan Pak Danuadji belum sempat karena, sudah berangkat ke kantornya.


"Asti jangan lama-lama yah, karena Ibu pasti kangen banget padamu nak," ujarnya Bu Wulandari ketika mengantar Asti sampai di garasi rumahnya itu.


Asti memeluk tubuh perempuan yang baik hati menolongnya dimasa sulitnya. Hatinya Asti terasa sedih seolah dia akan berpelukan dengan ibu kandungnya sendiri.


Entah Kenapa setiap kali aku memeluk Nyonya Wulan aku merasa aku sedang memeluk tubuh mama kandungku sendiri. Mungkin karena Ibu Wulan terlalu baik jadi aku berfikiran dan merasakan hal semacam ini.


"Waalaikum salam, hati-hati ingat kamu itu sedang mengandung jadi jaga kesehatan dengan baik banyak makan makanan yang sehat pula, vitamin dan obat yang ibu belikan jangan lupa kamu minum,kalau ada waktu senggang datang jenguk ibu yah," harapnya Bu Wulan yang tersenyum tipis melepas kepergiannya Asti bersama anak sambungnya itu.

__ADS_1


"Anjas antar Asti sampai depan pintunya yah," sarannya Bu Wulan.


"Siap Mama," balasnya Anjas penuh semangat.


Mobil berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan protokol Ibu kota Jakarta. Asti menatap terus ke arah luar jendela mobilnya. Ia berusaha untuk menahan air matanya saking sedihnya karena berpisah dengan Bu Wulan dan juga akan mengakhiri biduk rumah tangganya itu.


"Semoga hari ini mas Danu sudah menemukan petunjuk kalau Asti adalah putri kandungku yang diasuh oleh Mas Adhitya Mulya yang membawa kabur putriku ke kampung halamannya dulu."


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Yudha. Bu Inggrid yang mendengar suara bel berbunyi ia segera berjalan ke arah depan pintu rumahnya itu.

__ADS_1


"Sejak kepergian Asti dari sini aku sungguh kelimpungan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, walau sudah ada mbak Siti yang membantu tapi tetap capek, ini semua gara-gara Yudha yang Ketahuan selingkuh, kalau aku ketemu dengan perempuan itu pasti aku tampar keras wajahnya hingga tidak sudi lagi melihatku," geramnya Bu Inggrid sambil memutar kenop pintu rumahnya itu.


__ADS_2