Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 8


__ADS_3

Yudha menatap tidak percaya dan keheranan dengan orang yang berhasil masuk ke dalam rumahnya dihitungan ke empat menit.


"Kenapa ia yang masuk lagi! Sial banget aku!!" Umpatnya Yudha yang mengusap wajahnya dengan kasar.


Bu Sari tersenyum penuh kemenangan karena keinginannya akan segera terlaksana dan jadi kenyataan.


"Bagaimana putraku tersayang! Karena sudah ada perempuan yang berhasil masuk melewati pintu itu jadi!! Mama mohon kamu akan tepati perkataanmu dan janjimu itu, jangan sekali-kali mencoba dan berusaha untuk mengelak atau mengingkari janji kamu," ujarnya Bu Sari sambil berjalan ke arah gadis yang sejak tadi hanya berdiri karena tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di dalam ruang tamu itu.


Yudha menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah melihat dengan jelas siapa perempuan yang berhasil melewati pintu berdaun dua itu.


Bu Sari tersenyum penuh kemenangan dan berusaha menahan tawanya," rasain loh bocah tengil, rasain siapa juga suruh kamu untuk berjanji jika ada orang yang melewati pintu itu akan kamu jadikan istri kamu," umpatnya Bu Sari.


Asti kembali berjalan ke arah luar pintu lalu perlahan dan sangat bahagia pelan menutup pintu itu dengan rapat. Sebenarnya tadi pagi,ia habis berjalan santai bersama triple F di sekitar taman area kompleks perumahannya.


Yudha mengusap wajahnya dengan gusar," Baiklah aku akan penuhi semua keinginan Mama sesuai janjiku tadi, tapi aku tidak akan pernah menyentuhnya sedikit pun dan jangan sekali-kali pernah berfikir dan meminta dan menuntut cucu dariku oke!" Ancam Yudha seraya berdiri dan meninggalkan mamanya yang tersenyum sumringah.


"Oke! Putraku yang gantengnya paripurna, dua minggu lagi dari sekarang kamu akan menikah dengan gadis pilihanku dan aku berjanji ia akan mampu membuat kamu bucin dan menaklukkan hatimu dengan kecantikan hati dan wajahnya," teriaknya Bu Sari karena anaknya sudah masuk ke dalam mobilnya yang akan berangkat kerja hari itu.


"Mbak Asti kok pintunya ditutup kembali, apa kita tidak jadi masuk atau masih mau jalan-jalan lagi?" Tanyanya Farah sedangkan Fatir dan Farhat hanya terdiam melihat interaksi keduanya.


"Mbak katanya teman aku malam ini ada pasar malam tidak jauh dari alun-alun kota, apa Mbak mau antar dan temani kami?" Tanyanya Fatir yang berharap Asti bisa memenuhi keinginannya itu.


Asti belum menjawab pertanyaan dari ketiga anak asuhnya, ia berjalan menggandeng tangan ketiganya berjalan kembali ke arah Taman perumahan.


"Kita duduk di sana yuk! baru Mbak jawab pertanyaan kalian, bagaimana setuju?" Tanyanya Asti yang menatap satu persatu anak kembar dari majikannya itu.

__ADS_1


"Boleh," jawab Farhat yang paling tua dari mereka bertiga.


Mereka berjalan beriringan dengan raut wajahnya merona saking bahagianya. Satu persatu orang yang berpapasan dengannya mereka menegur Asti dengan ramah.


"Assalamualaikum Mbak Asti, aku kira Mbak sudah balik ke rumahnya ternyata masih ingin menikmati indahnya taman yah?" Tanyanya Mas Edi tetangganya Asti yang kebetulan masih single atau masih bujangan.


"Waalaikum salam Mas Edi, kami masih ingin bersantai beberapa menit lagi Mas karena anak-anak juga masuk sekolahnya agak siangan juga jadi yah gini jadinya," sahutnya Asti dengan seulas senyuman ramahnya.


Sudah hampir tiga bulan Asti berada di atas Ibu Kota. Bibinya Ani sekitar satu minggu yang lalu dipindahkan ke rumahnya Kakek buyutnya ketiga bocah itu. Apa lagi lima hari yang lalu, Barata Yudha mendapatkan promosi jabatan menjadi menejer pemasaran di perusahaan tempat kerjanya itu.


Sehingga mereka mendapatkan fasilitas rumah, mobil dan gaji yang lumayan tinggi pula. Mereka sudah pindah ke perumahan itu dua hari sebelum peresmian kenaikan jabatannya Yudha.


"Mbak Asti boleh mas minta nomor hpnya gak?" Tanyanya Mas Edi yang tertawa cengengesan ciri khasnya setiap kali Kalau bertemu dengan Asti.


Asti melirik ke arah Mas Edi sebelum menjawab dan mengiyakan permintaannya Edi tersebut.


Edi kembali tertawa cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu," anu… eh anu… mungkin aku eeh kamu butuh bantuan informasi kampus mana yang terbaik di kota yang paling cocok untuk kamu gitu," ujarnya Edi dengan sedikit tergagap.


"Oh gitu yah Mas Edi, kalau gitu sini hpnya saya akan mengetikkan nomor hpku," imbuhnya Asti sembari mengulurkan tangannya ke arah Edi.


Sedangkan di jalan raya tepatnya di dalam mobil Yudha. Ia tak henti-hentinya menyesali perkataannya tadi pagi yang akan menikahi gadis yang melewati pintu rumahnya.


"Sial!!!" Teriaknya Yudha sambil memukul setir mobilnya dengan kuat saat mobilnya berhenti dibawah lampu merah.


"Harga diriku sebagai Menejer pemasaran akan menjadi taruhannya jika teman dan rekan kerjaku mengetahui jika calon istriku hanya pengasuh anak-anakku yang hanya tamatan sekolah menengah atas saja," makinya Yudha yang masih tidak percaya dengan ucapannya sendiri yang akan menjadi boomerang untuk hidupnya.

__ADS_1


Mobil Yudha kembali meluncur membelah jalan protokol Ibu Kota di pagi itu. Ia serba salah karena diam-diam ia menjalin hubungan dengan wanita yang tidak lain adalah rekan kerjanya sendiri yang sudah terjalin hampir lima bulan terakhir ini, hanya saja ia juga tidak ingin membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius.


...****************...


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Second Life Love..


Tetap dukung SLL yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah..


I love you all readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


First Love Rubi Salman


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


__ADS_2