
Brakkk!!!
Pintu itu tertutup rapat dengan kuatnya. Yudha bahkan terkejut mendengar pintunya dihantam bukannya ditutup tapi, seolah ingin dihancurkan sebagai pelampiasan kemarahan dari Andien.
Asti tersenyum penuh arti ketika melihat Andien pergi dari ruangan suaminya," mungkin aku sebaiknya menyimpan rahasia ini dulu kepada siapapun itu termasuk Mas Yudha," batinnya Asti.
Yudha segera mengelus lembut pipinya Asti sedangkan yang diperlakukan seperti itu segera turun perlahan dari pangkuannya Yudha.
"Maaf aku harus pergi dari sini untuk selamanya!' ujarnya Asti lalu segera berlari ke arah luar dan tidak lupa mengambil tas selempangnya di atas.
Yudha hanya tersenyum sepele karena menganggap jika Asti pergi karena hanya marah salah paham dengan kejadian yang terjadi padanya.
"Maafkan aku Mas aku harus pergi dari sini untuk selamanya dari sisi hidupmu, mungkin perempuan itu yang terbaik untuk kamu dan anak-anak, Fatir, Farah dan Farhat maafkan bunda Nak! Bunda harus pergi dari kehidupan kalian, bunda tidak sanggup di madu dan juga tidak ingin berbagi suami dengan wanita manapun juga," lirihnya Asti.
Asti terus mempercepat langkah kakinya ke arah pintu keluar, ia tidak ingin menangis karena jika ia menangis itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri dengan suaminya khususnya. Mungkin orang-orang yang berpapasan dengannya tidak ada yang mengenalnya sehingga baginya aman saja.
Setelah keluar dari loby perusahaan,ia berjalan perlahan ke arah pohon yang cukup rindang dan memegang pohon itu.
"Aku harus pergi jauh dari sini tapi, aku tidak mungkin pulang kampung karena sama saja akan membuat nenek sakit hati, walaupun nenek bukanlah nenek kandungku tapi, aku cukup berhutang budi padanya makanya itu cukup aku yang seperti ini aku tidak mau berbagi dukaku dengan orang lain," Gumamnya Asti yang jongkok di depan pohon besar itu.
__ADS_1
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya, ia segera mempercepat langkahnya karena tidak ingin dirinya dikejar oleh suaminya Yudha. Asti melihat mobil putih yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku harus meminta bantuan pada Mang Udin untuk mengantarku ke terminal," cicitnya Asti yang matanya semakin berembun hingga pandangannya tidak jelas dengan berkabut.
"Mang Udin! Jalan," pintanya Asti yang tidak melihat ke arah depan tepatnya tempat duduk di kursi kemudi.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam ruangan tempat Yudha berada. Dia baru tersadar mendengar ucapan dari istrinya, ia kira istrinya tidak akan marah dan pergi meninggalkannya.
"Ya Allah… semoga Asti tidak mencurigai ku walaupun mungkin ia melihat aku tadi bermesraan dengan Andien," lirihnya Yudha yang segera berlari dengan cepat kearah lift tanpa peduli dengan tatapan mata yang sedari tadi memperhatikannya dengan seksama.
Yudha berulang kali menekan tombol lift, tapi pintunya lift itu tidak terbuka hingga Yudha mengerang marah dan muak menghadapi pintu lift yang tidak kunjung terbuka itu.
Yudha menggelengkan kepalanya tanda marah dengan yang terjadi padanya. Semua saku celana, baju hingga jasnya ia periksa tapi, ternyata hpnya tidak ditemukan.
"Ya Allah… hpku ada di mana? Padahal tadi ada di atas meja, sebaiknya aku ke atas dulu mencari hpku setelah itu aku baru mencari keberadaannya Asti x lirihnya Yudha.
Seorang perempuan tertawa terbahak-bahak melihat Asti yang tanpa sengaja ia lihat berlari dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja.
"Rencanaku berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan, biarkan ia kesana kemari mencari hpnya baru aku munculkan," gumamnya seraya memutar hpnya Yudha di depan wajahnya itu.
__ADS_1
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Kau Bahagiaku
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
Meraih Cintanya
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1