Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 35


__ADS_3

Bu Inggrid sedikit kesal karena pembantunya belum balik dari pasar sehingga dengan terpaksa ia yang harus membuka pintu rumahnya itu.


"Semoga saja yang datang orang yang aku hendaki datang jika tidak aku akan semprot dengan perkataan yang sungguh indah sampai-sampai ia tidak bisa melupakan perkataan ku ini!" Geramnya Bu Inggrid.


Tapi baru sepersekian detik saja ia melihat seorang perempuan yang sudah dikenalnya beberapa hari yang lalu datang berkunjung ke rumahnya bersama dengan anak tunggalnya itu.


"Andien!" Beonya Bu Inggrid.


Andien segera meraih tangan kanannya Bu Inggrid untuk dia cium agar tidak membuat Ibu mertuanya itu marah. Tapi, Bu Inggrid sama sekali tidak menggubris sikapnya Andien bahkan ia menghempaskan tangannya Andien dengan cukup kasar.


"Maaf aku tidak sudi tanganku disentuh oleh perempuan sepertimu! Perempuan yang menghalalkan segala cara untuk menikahi putraku yang bego ini!" Sarkasnya Bu Inggrid sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya itu.


"Mama! Stop aku mohon jangan seperti ini, bagaimana pun Andien adalah Istriku dan tidak lama lagi akan melahirkan cucu untuk Mama," ucapnya Yudha yang tidak menyukai sikapnya Bu Inggrid.

__ADS_1


"Ohh jadi kamu sudah hamil, semoga saja itu brenar anak kamu bukan milik pria lain!" Cibirnya Bu Inggrid.


"Mama bagaimana pun juga Andien istriku mau tidak mau mama harus menerimanya seperti mama menerima seorang baby Sitter menjadi istriku," ketusnya Yudha.


Andien diam-diam tersenyum penuh kemenangan karena Yudha membelanya dan membandingkan dirinya dengan Asti.


"Hahaha ini yang sudah lama aku tunggu-tunggu,"


"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Mas Yudha ma, Mbak Andien adalah istri keduanya Mas Yudha sedangkan saya hanya pembantu yang terpaksa dinikahi oleh mas Yudha," timpalnya Asti yang langsung muncul tanpa ketiga orang itu sadari kedatangannya.


"Asti ya Allah nak kamu kemana saja, mama dan ketiga anakmu merindukan kamu," ucap Bu Inggrid sambil memeluk tubuh anak menantunya itu.


"Ma, maafkan Asti yang sudah pergi tanpa berpamitan dengan mama dan Fatir, Farah dan Farhat tapi kali ini kedatanganku untuk berpamitan dan meminta ijin untuk pergi selamanya dari rumah ini karena saya akan mengakhiri hubunganku dengan Mas Yudha," ungkap Asti dengan penuh kesungguhan hatinya.

__ADS_1


"Maksudnya apa Nak kenapa kamu tiba-tiba mengatakan ingin bercerai dengan Yudha suamimu kamu itu sedang hamil, mama mohon jangan seperti ini," bujuknya Bu Inggrid yang berusaha untuk menahan Asti.


"Itu bagus kalau kamu sadar diri dan meminta cerai kepada Mas Yudha," sahutnya Andien yang tertawa pongah melihat kehancuran Asti.


"Mas Yudha aku mohon padamu tolong jatuhkan talak tiga langsung kepadaku karena saya tidak ingin berbagi suami dengan perempuan manapun di dunia dan dengan alasan apapun, jadi aku minta dengan sangat ceraikan saya sekarang juga masalah anak insya Allah setelah dia lahir aku akan mengajukan ke pengadilan agama untuk mengurus proses perceraian kita yang tersisa lima bulan lagi dari sekarang," pintanya Asti.


Yudha menatap Bu Inggrid terlebih dahulu dan ke arahnya Andien yang berharap Yudha bisa memenuhi permintaan dari pelakor itu.


"Mas tunggu apa lagi, dia sudah meminta mas untuk menceraikannya maka apa yang mas tunggu lebih lama lagi," bujuknya Andien.


"Asti tolong jangan seperti ini, pikirkan juga ketiga anaknya Yudha, aku mohon tarik semua kata-katamu," rengeknya Bu Inggrid.


"Maaf Bu keputusanku sudah bulat saya ingin bahagia seperti wanita lain di luar sana yang bebas mencintai dan dicintai, aku hanya manusia biasa yang sudah berjuang dan berusaha untuk menahan semuanya dalam kesabaran tapi mas Yudha lebih memilih hidup dengan perempuan itu," ungkap Asti.

__ADS_1


"Baiklah karena ini maumu mulai detik ini kamu aku talak tiga langsung dan tolong pergi dari rumahku dan kehidupan kami!" Tegasnya Yudha dengan suaranya yang cukup besar dan menggelegar memekakkan telinga siang itu.


__ADS_2