Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 19


__ADS_3

Ibu Inggrid tersenyum sumringah ke hadapan cucunya," kalau seperti itu, entar sore kita balik ke Jakarta, tapi bunda sama papa harus nginap beberapa hari disini lagi agar kalian segera punya dede bayi," jelasnya Bu Inggrid.


Asti yang mendengar perkataan dari mama mertuanya dibuat tersipu malu lalu segera menundukkan kepalanya saking malunya mendengar penuturan mertuanya itu.


"Sukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… saya sangat bersyukur karena suami, mertua dan anak-anak dari suaminya cucuku memperlakukannya dengan sangat baik, semoga selamanya mereka selalu baik dan menyayangi Asti hingga akhir waktu, aku berharap pernikahan mereka langgeng, sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek," batinnya Bu Aminah nenek angkatnya Asti.


Yudha tersenyum simpul, "Sepertinya rencana Mama itu tidak bisa jadi kenyataan karena saya sudah mendapatkan telpon dari atasan saya, kalau masalah buat dede bayinya papa dan bunda bisa di rumah yang di Jakarta,gimana menurut kamu sayang?" Tanyanya Yudha seraya menggenggam tangannya Asti dengan penuh kasih sayang.


Asti tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya," kalau menurut Asti itu tidak masalah bagiku, aku serahkan semuanya kepada Mas Yudha saja, karena bagi Asti semua keputusan apapun itu aku serahkan kepada Mas untuk memutuskannya karena aku yakin itu yang terbaik," ujarnya Asti.


Bu Inggrid tersenyum melihat kekompakan mereka berdua sebagai pasangan suami istri, Bu Inggrid bahagia karena Asti perempuan yang tidak banyak menuntut banyak pada suaminya.


"Syukur Alhamdulillah,anakku mendapatkan istri yang baik,solehah, perhatian dan penyayang, aku sama sekali tidak salah pilih menjadikan Asti sebagai menantuku dan aku berharap Asti berbeda dengan Amelia mantan istrinya yang terdahulu," batinnya Bu Inggrid.


"Kalau begitu, Asti kemas pakaianmu sayang karena setelah shalat dzuhur kita akan berangkat," pintanya Yudha di hadapan istrinya.


Asti yang mendengar perintah dari suaminya segera berpamitan kepada mereka yang kebetulan ada di dalam ruangan itu.


Yudha sedikit gelisah karena hpnya sedari tadi bergetar untung saja ia selalu tidak mengaktifkan nada deringnya.


"Apa sih yang diinginkan oleh Andien! Padahal aku sudah mengatakan padanya berulang kali untuk jangan sekali-kali untuk menghubungiku jika bukan aku yang duluan," umpatnya yang sedikit kesal dengan kelakuan dari istri sirinya itu.

__ADS_1


Bu Inggrid yang melihat kegelisahan putranya itu hanya sesekali melirik ke arah putranya. Sedangkan yang ditatap oleh mamanya sama sekali tidak merasakan jika dirinya menjadi pusat perhatian dari beberapa pasang mata.


Yudha segera mengirimkan chat kenomornya Andien," sayang,sabar sedikit kenapa aku tidak mungkin setelah selesai menikah langsung balik ke Jakarta untuk menemui kamu, lagian kamu kan sudah dapat jatah dan giliran jadi sekarang saatnya bersama dengan Asti," isi dari chatnya Yudha lalu segera menon aktifkan hpnya.


Berselang beberapa saat kemudian mereka sudah berpamitan kembali ke Ibu kota Jakarta. Tangis haru dan air mata kesedihan mewarnai kepergian Asti dan rombongan keluarga besar mereka.


"Cucuku, aku sangat menyayangimu tapi sekarang tanggung jawab berada di tangan suamimu Nak dan semoga kamu juga bisa segera bertemu dengan kedua orang tua kandung kamu nantinya," Bu Aminah membatin sambil menyeka air matanya yang mewakili perasaannya yang begitu sedih melepas kepergian untuk kedua kalinya cucunya ke ibu kota Jakarta tapi dengan alasan yang berbeda pula.


Dulu Asti berangkat ke Ibu kota Jakarta untuk bekerja dirumah Nyonya Inggrid atas dasar ajakan dari bibinya Ani dan sekarang karena Asti menjadi seorang istri sekaligus menantu baru di dalam keluarga besar Yudha.


"Nenek, doakan Asti agar selalu menjadi istri yang selalu patuh dan hormat kepada suamiku," cicitnya Asti sambil menatap ke arah Neneknya hingga mereka tidak mampu lagi melihat tubuh Neneknya yang berdiri di depan pagar kayu rumahnya.


Pernikahan mereka seperti layaknya pernikahan normal lainnya di luar sana. Ada kalanya mereka makan bersama di rumah ataupun memilih di luar bersama ketiga anaknya. Asti bangun pagi hari ini karena akan menyajikan makanan untuk sarapan pagi suaminya beserta anak-anaknya.


Yudha mengerjapkan kedua matanya ia melihat ke arah sampingnya tapi, sudah tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Asti kemana? Emangnya sekarang jam berapa?" Gumamnya sambil melirik ke arah jam yang terpasang dengan kuat di dinding rumahnya.


Jam menunjukkan angka enam, id segera bangkit dari tidurnya lalu bergegas ke dalam kamar mandi karena ia harus buru-buru berangkat ke kantornya karena hari ini harus mengadakan dan mengikuti rapat di kantornya.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


I love you all readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


First Love Rubi Salman


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah


Takalar, Senin, 20 November 2022

__ADS_1


__ADS_2