
"Siap Nyonya Muda, kalau Nyonya butuh apa-apa jangan ragu untuk menelpon yah!" Pintanya Mang Joko sembari menaruh tangannya di dekat telinganya seolah-olah seperti seseorang yang sedang menelpon saja.
Asti tersenyum dan cukup terhibur dengan aksi dan tingkah lakunya Mang Joko supir pribadinya yang baru dipekerjakan ketika ia sudah resmi menjadi istrinya Yudha.
Tujuan utamanya sebenarnya hari itu adalah ingin mengantarkan makanan siang untuk suaminya Yudha tapi, tanpa sengaja ia mengetahui kalau ternyata sudah dua bulan dia belum mendapatkan tamu bulanannya.
Disinilah sekarang Asti, ia bergabung dengan beberapa wanita hamil yang sedang ikut mengantri bersama dengannya menunggu gilirannya dipanggil untuk diperiksa oleh dokter kandungannya.
"Ya Allah… semoga saja aku hamil, aku juga kepengen punya anak dari Mas Yudha ya Allah… memang kami sudah punya anak tiga orang, tapi rasanya ada yang terasa kurang walaupun aku menyayangi setulus hati anak sambungku itu tapi, tetap beda rasanya ya Allah kalau seorang bayi bukan lahir dari rahimku," batinnya Asti.
Berselang beberapa saat kemudian, tibalah gilirannya Asti yang dipanggil oleh suster.
"Bu Asti Aprilia Yuswandari Indra," panggilnya suster tersebut.
Asti yang mendengar namanya disebut segera berjalan ke arah perawat itu," saya sendiri Mbak suster," jawabnya Asti dengan senyuman simpulnya.
"Silahkan masuk Bu," imbuhnya lagi perawat itu.
Asti tersenyum ramah lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari perawat yang bername tag Dini Amera.
"Selamat siang Bu!" Sapanya Bu dokter yang tersenyum ramah ke arahnya Asti.
"Selamat siang juga Bu Dokter," balasnya Asti yang membalas senyuman dokter spesialis kandungan tersebut.
Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh Bu dokter ke hadapannya Asti langsung mulai sejak kapan ia terakhir kalinya haid, hingga kapan ia berhubungan intim dengan suaminya,hingga sudah berapa kali hamil sebelum datang memeriksakan diri di sana.
Asti menjawab sesuai dengan kenyataan yang ada walaupun sedikit segan dan malu-malu, Asti mengutarakan apa yang dirasakan terakhir kalinya. Walaupun sesekali harus tersipu malu, Dokter pun ikut tersenyum simpul melihat reaksi dari Asti.
"Kalau begitu silahkan ibu naik ke atas ranjang, Dini! Tolong bantuin ibu Asti untuk naik, kasihan ibunya kesusahan untuk naik di ranjang!" Perintahnya Bu Dokter itu.
Asti segera berjalan ke ranjang bangkar yang adae di dalam ruangan praktek dokter. Asti diperiksa perutnya melalui alat khusus untuk mengontrol dan mendeteksi apa yang terjadi padanya Asti di dalam rahimnya. Setelah diperiksakan secara detail dan terperinci, Asti dan dokter kembali ke tempat duduk semula.
"Selamat ibu! Anda positif hamil dan sudah jalan delapan minggu," tuturnya Bu dokter dengan ramah.
__ADS_1
Asti yang mendengar perkataan dari Bu dokter, ia menutup mulutnya saking tidak percayanya. Senyuman penuh bahagia muncul dari sudut bibirnya itu. Ia tidak menyangka jika dugaannya benar adanya sesuai dengan yang dia harapkan.
"Syukur Alhamdulillah, ternyata aku bisa hamil juga," cicitnya Asti seraya mengelus perutnya yang masih datar itu.
"Tolong istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran, makan makanan yang bergizi, saya akan meresepkan vitamin dengan obat yang khusus untuk Ibu hamil," imbuhnya dokter.
"Makasih banyak dokter, kalau gitu aku permisi dulu," ujarnya Asti setelah hasil pemeriksaan dan kertas resep dokter sudah berada di dalam genggaman tangannya.
Asti melirik sekilas ke arah jam yang ada di dalam hpnya saat memasukkan bungkusan obatnya yang sudah dia tebus diapotek.
"Masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum waktu istirahat Mas Yudha," gumamnya Asti sembari berjalan ke arah perkiraan mobil dengan memeluk erat berkas hasil pemeriksaannya.
Senyuman sedari tadi dari wajahnya tidak pernah pudar, ia terlalu bahagia mengetahui dirinya hamil anaknya Yudha.
"Aku akan memberikan kejutan kepada Mas Yudha, aku yakin pasti suamiku akan sangat bahagia," batin Asti.
Mang Joko yang melihat kedatangan Asti segera membuka pintu mobilnya," kita langsung ke kampus atau ke kantornya Tuan Muda Yudha?" Tanyanya mamang Joko sambil menutup pelan pintu mobil sebelah kanan.
"Sepertinya Nyonya hamil, sedari tadi selalu tersenyum bahagia walaupun setiap hari raut wajahnya Nyonya Muda selalu bahagia tapi, kali ini lebih bersinar bahagia," Mang Joko membatin.
Ini hari pertama kalinya melihat Asti di perusahaan. Karena sudah hampir lima bulan menikah dengan Yudha tapi, ia tidak pernah datang dan menginjakkan kakinya di sana.
Resepsionis di bagian loby melihat ke arah Asti," kok wajahnya mirip dengan Istrinya Tuan Indra Jaya Liem yah?" Cicit resepsionis itu.
"Siang Mbak, boleh tanya kira-kira di lantai berapa tempat kantornya Tuan Yudha menejer pemasaran berada yah Mbak?" Tanyanya Asti dengan tersenyum ramah.
"Eehh maaf, ohh Pak Yudha yah, ruangannya ada di lantai lima Mbak," jelasnya resepsionis itu.
"Makasih banyak, assalamualaikum," ujarnya Asti.
"Waalaikum salam," balasnya perempuan itu.
Asti meninggalkan loby perusahaan, langkahnya cukup lebar dan panjang. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Yudha. Sesampainya di atas lantai lima, ia keluar dari lift dan arah pandangan matanya tertuju ke arah sebelah kanan sesuai dengan petunjuk dari resepsionis tersebut.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, dia sudah berdiri di depan pintu masuk. Asti menolehkan kepalanya ke arah kanan kiri tapi, tidak melihat adanya seseorang yang berkeliaran di lantai tersebut.
"Aku yakin itu ruangannya Mas Yudha tulisannya sangat jelas terlihat," gumamnya Asti yang tersenyum tipis.
Asti sedikit ragu untuk membuka dan memutarnya kenop pintu itu, karena takut jika ada orang yang melihatnya dan mengira ia adalah pencuri atau orang yang tidak baik.
"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Asti seraya memutar perlahan pintu itu yang ternyata tidak terkunci.
Raut wajahnya langsung pucat pasi melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Map hasil pemeriksaannya terjatuh je atas lantai bersamaan dengan rantang kotak bekal makanannya.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.
I love you all readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
First Love Rubi Salman
Cinta Pertama
Dewa dan Dewi
Makasih banyak all readers… I love you all..
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Takalar, Jumat, 25 November 2022