Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 6


__ADS_3

Azizah berjalan ke arah dalam lalu ia kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu jati itu yang warna catnya sudah pudar yang awalnya berwarna coklat tua.


"Sudah tua tapi, tenaganya masih kuat saja, Nenek makan apaan sih?" Cicitnya Azizah tapi masih mampu di dengar oleh Asmirah, Asti dan Bu Hilda.


"Nenek sudah yah marahnya kasihan sama Bibi loh, entar cantiknya hilang dan tidak cantik cetar membahana lagi," gurau Asti yang menahan tawanya melihat apa yang mereka lakukan.


"Bukannya tamunya disuguhi minuman apa kek, kopi teh air putih juga boleh sama kuenya ini mah dapat luka saja," cibirnya Azizah.


"Kalau mau makan,minum sono masuk dapur buat sendiri bukannya ngomel-ngomel gak jelas gitu," sarkas Bu Hilda.


Seperti itulah kebiasaan mereka berdua jika sedang bertemu selalu saja ada perdebatan kecil yang mereka berdua ciptakan. Karena itu pula mereka kadang sering merindukan satu sama lainnya.


Padahal Azizah sudah duduk santai di atas kursi kayu. Rumah yang sangat sederhana itu menjadi saksi bisu selama beberapa tahun terakhir ini ini. Asti yang dibesarkan dengan penuh limpahan kasih sayang harus ditinggalkan sementara waktu demi mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta.


"Nenek, kakek kapan pulangnya dari desa sebelah? Aku sudah mau pergi tapi Kakek juga belum balik juga, aku kan mau pamit Nek," ucapnya sendu dengan raut wajahnya yang memelas.


"Kakekmu ridho nak kamu pergi ke Jakarta, cuma kakek berpesan kepadamu agar kamu bekerja yang rajin dan jaga diri baik-baik itu saja harapan dan permintaan kakekmu," tuturnya Bu Hilda.


"Insya Allah… saya akan penuhi amanah Nenek sama kakek semoga Asti tidak dibutakan oleh kemilau indahnya kota Jakarta," imbuhnya Asti.


Walaupun Asti hanyalah anak sambung dari putra pertamanya Bu Hilda dan Pak Jamal tapi, kasih sayang yang dia dapatkan sungguh besar dan tulus dari semua anggota keluarganya.


Barang-barang Asti semuanya sudah diangkat oleh adik sepupunya Asmirandah. Mobil rental yang akan mengantar mereka hingga ke kota sudah terparkir di pinggir jalan raya yang depan rumahnya dengan sabar menunggu keberangkatan mereka.

__ADS_1


"Insya Allah… ini jalan yang terbaik aku pilih dan tempuh, aku tidak harus terbebani dengan masalah lainnya Aku harus fokus bekerja sambil mengumpulkan uang untuk kuliah dan jika ada waktu aku akan mencari keberadaan mama," batinnya Asti.


Asti langsung memeluk tubuh renta itu, jasa-jasa nenek Hilda sangatlah besar dan tanpa kasih sayang Neneknyalah mungkin Asty tidak akan ada hingga sekarang. Asty memeluk tubuh Neneknya dengan sangat erat.


"Cucuku, carilah Mama kamu, ingat alamat rumahnya ada di dalam buku kecil yang kemarin nenek berikan padamu nak, ingat baik-baik pesan nenek," tutur Bu Hilda.


Air mata keduanya sama-sama membasahi pipinya tubuhnya bergerak hebat dalam pelukannya. Sedangkan Nenek Hiksay sekuat tenaga menahan kesedihannya beliau lakukan itu agar, Asti bisa berangkat dengan tenang tanpa ada beban pikiran yang mengganjal sehingga perjalanan cucunya dan keponakannya berjalan lancar.


"Nenek hanya berharap padamu Nak, jangan lupakan nenek apa pun yang terjadi, kalau kamu ada waktu luang, janganlah lupa kabari nenek," pintanya Bu Hilda di hadapan neneknya.


"Maafkan saya yah Nek, selama ini sudah menyusahkan Nenek, kadang aku juga tidak mendengar perkataan dari Nenek, tapi aku sangat bahagia dan bersyukur karena berkat kebaikan dan ketulusan Nenek aku bisa hidup seperti sekarang ini," tuturnya Asti semakin merapatkan pelukannya seakan-akan tidak ingin berpisah dengan Neneknya itu, air matanya semakin menetes membasahi pipinya.


Suara klakson dari mobil yang dibunyikan oleh supir tersebut membuat Alisha terpaksa melepas pelukannya itu.


"Azizah jaga Nenek baik-baik yah, kalau kamu ingin bicara dengan kakak kamu datang ke rumahnya Mbak Azizah untuk meminta siapa pun yang bisa menghubungi sayai untuk menelpon Kakak," pinta Asti lalu memeluk tubuh adiknya itu.


"Kakak jangan lupakan Asmirandah yah, kalau Kakak sampai di Kota untuk selalu telpon aku yah, kalau kakak ada waktu senggang!" pintanya Asmirah pun semakin kencang tangisannya dan memeluk pinggang kakaknya.


Mbak Azizah pun ikut bersedih, karena seumur hidupnya Asti ini untuk pertama kalinya dia meninggalkan Neneknya. Sekalipun Asti tidak pernah meninggalkan Neneknya begitu pun juga dengan Neneknya jika bepergian ke daerah lain pasti memboyong serta cucu-cucunya.


"Ayok Asti, supaya kita sampai di Kota tidak terlalu larut malam," bujuk Mbak Azizah menyeka air matanya lalu menarik tangan adik sepupunya itu.


"Ya Allah…. Engkau maha penyayang Engkau maha besar… Engkau maha pengasih jaga dan lindungilah cucu-cucuku di mana pun mereka berada," Bu Hilda membatin.

__ADS_1


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Second Life Love..


Tetap dukung SLL yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah..


I love you all readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


First Love Rubi Salman


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


__ADS_2