
"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Asti seraya memutar perlahan pintu itu yang ternyata tidak terkunci.
Raut wajahnya langsung pucat pasi melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Map hasil pemeriksaannya terjatuh je atas lantai bersamaan dengan rantang kotak bekal makanannya.
Kebahagiaan jelas terpancar dari raut wajahnya Asti, tapi ia sedikit heran melihat beberapa orang yang berpapasan dengannya menatapnya intens dan kadang berbisik ketika ia melewati tempat itu.
Senyuman manis itu tersungging di bibirnya ketika mengingat jika dirinya positif hamil dua bulan. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang ia dapatkan juga untuk keluarganya
Tapi, Kebahagiaan itu sirna, pupus dan hancur berkeping-keping disaat tangannya membuka pintu ruangan kantor suaminya. Seluruh anggota tubuhnya menjadi saksi bisu atas apa yang dilakukan oleh suaminya sendiri dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
Prang…. Brukk!!!
Suara benda jatuh menganggu aktifitas penghuni ruangan itu. Mata kepalanya melihat suaminya bercumbu mesra dengan wanita lain.
Yudha yang mendengar benda jatuh segera menolehkan kepalanya ke arah pintu. Betapa shock dan terkejutnya melihat kedatangan istrinya. Matanya membulat sempurna melihat Asti berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Ini lah hari yang telah lama aku tunggu, keputusanku tadi sudah tepat untuk tidak mengunci pintunya," batinnya Andien Alina Hamid.
"Aku tidak boleh kalah dengan perempuan itu, aku tidak boleh memperlihatkan rasa marahku di depan mereka langsung, aku akan buktikan di hadapan Mas Yudha jika aku bukan seorang istri yang mudah untuk disinggung ataupun direbut suaminya," Asti membatin dan berusaha untuk menguatkan sendiri hatinya itu.
Asti kemudian berjalan ke arah Yudha sedangkan Andien sedari tadi hanya tersenyum penuh maksud kearahnya Asti yang sama sekali melupakan untuk memperbaiki pakainnya yang sudah berantakan itu.
"Aku yakin dari kelihatan raut wajahnya pasti akan meminta cerai, jikalau hal itu terjadi aku akan sangat bahagia dan aku patut merayakan keberhasilan aku itu," gumamnya Andien yang sudah percaya diri tinggi.
Yudha mati langkah, mati kutu, tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena mengelak pun tidak mungkin Ia lakukan sama halnya dengan membela dirinya. Tiba-tiba lidahnya keluh seketika, hingga ia terdiam tak bergeming sedikitpun di tempat duduknya.
Asti berjalan lalu membungkukkan badannya untuk memungut benda yang sempat ia jatuhkan di atas lantai. Map merah dan rantang khusus tempat bekal makanan suaminya. Untuk pertama kalinya ia mendatangi langsung kantor tempat suaminya bekerja dengan rela ia mendapati suaminya yang sedikit lagi mereka akan berhubungan badan.
Asti menaruh benda yang Ia bawa ke atas meja, "Mas Yudha! Apa sudah makan siang? Kebetulan Asti bawain Mas makanan kesukaan Mas loh," imbuh Asti sembari naik keatas pangkuan suaminya untuk membantu mengancing kancing bajunya itu yang sudah terlepas beberapa buah.
Andien dibuat terkejut dengan kenyataan yang barusan beberapa detik yang lalu nampak jelas di depan matanya itu. Apa yang terjadi di depannya tidak sesuai dengan ekspektasinya sendiri yang terlalu tinggi.
__ADS_1
Yudha pun demikian sampai-sampai ia membelalakkan matanya saat Asti dengan beraninya mempertontonkan kemesraannya di depan Andien. Asti men cum bu suaminya dengan mencium bibirnya Yudha dengan penuh kemesraan dan kelembutan hingga Yudha dibuat terbuai dalam syahdunya dekapan, belaian dan perlakuan Asti.
Yudha sampai-sampai melupakan keberadaan dari istri sirinya itu, bahkan adik kecilnya Yudha sudah bereaksi. Hingga Yudha menginginkan istrinya saat itu juga, tapi Asti segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Yudha yang sudah lepas kontrol.
"Sayang! Apa Mas lupa kalau ada orang lain di dalam sini?" Tanyanya Asti yang menekankan perkataannya di kata orang lain lalu menatap tajam ke arah Andien saat itu juga.
Yudha mengerang frustasi karena kembali harus dilema apakah harus mengusir Andien ataukah mempertahankan Asti dan melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda. Yudha mengusap wajahnya dengan gusar,ia sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.
"Apa yang harus aku lakukan..
Ya Allah… tolonglah aku!" Yudha membatin.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.
I love you all readers...
__ADS_1