
"Ya Allah… hpku ada di mana? Padahal tadi ada di atas meja, sebaiknya aku ke atas dulu mencari hpku setelah itu aku baru mencari keberadaannya Asti x lirihnya Yudha.
Seorang perempuan tertawa terbahak-bahak melihat Asti yang tanpa sengaja ia lihat berlari dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja.
"Rencanaku berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan, biarkan ia kesana kemari mencari hpnya baru aku munculkan," gumamnya seraya memutar hpnya Yudha di depan wajahnya itu.
Asti saking terburu-burunya berjalan dan masuk ke dalam mobil ia tidak menyadari jika mobil yang ia masuki adalah mobil milik pria lain.
Tapi, orang yang berada di balik kemudi mobilnya hanya terdiam dan memenuhi permintaan dari Asti sambil menyunggingkan senyumnya.
"Pak, jalannya pelan-pelan saja soalnya aku lagi hamile, aku takut terjadi sesuatu pada bayiku," imbuhnya Asti seraya mengelus perutnya yang sudah sedikit kelihatan.
Pria yang duduk di depan hanya terdiam dan berkosentrasi mengemudikan mobilnya. Ia segera menurunkan laju mobilnya itu.
"Mang Udin, apa aku bisa minta tolong, Mang Udin antar aku ke rumahnya untuk sementara waktu, tidak usah balik ke rumah dulu," pintanya Asti.
"Baik!" Jawabnya Pria itu.
"Ya Allah… aku tidak tahu harus berbuat apa karena aku tidak mungkin meninta cerai kepada Mas Yudha, aku sangat mencintainya dan juga kami akan segera punya baby, tapi aku tidak mungkin menerima, memaklumi dan berdamai dengan keadaan di mana bahwa Mas Yudha memiliki wanita lain di belakangku," batinnya Asti.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Asti selalu menjadi pantauan dan sesekali supir itu melirik sekilas ke arah Asti melalui kaca spion mobilnya.
"Kasihan juga perempuan ini, kalau seperti yang aku lihat dia sedang memiliki masalah yang cukup rumit dan mungkin berhubungan dengan suaminya tapi, menyedihkan jika ia harus sedih dalam keadaan hamil," pria itu membatin.
Air matanya semakin mengalir deras membasahi pipinya. Dia tidak kuasa menahan air matanya itu karena sudah tidak tahan jika harus kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Ya Allah… berikanlah aku jalan yang terbaik untuk hubungan kami, kayaknya aku buang kartuku saja supaya siapapun tidak ada yang bisa menghubungiku lagi karena aku ingin tenang dulu," cicitnya Asti.
Asti terdiam sesaat dan pikirannya terbang tinggi ke tempat lain dan bayang-bayang saat suaminya mencium dan mencumbu sekretarisnya itu tidak bisa mudah ia lupakan.
Asti kebanyakan terdiam dalam keheningan dan kebisuannya tapi, tatapan matanya seolah-olah menyiratkan bahwa ia sedang sedih dan kalut dalam kesedihannya.
Asti sedikit tersentak terkejut mendengar seruan dari supir itu. Asti menatapnya lalu ia melotot melihat pria yang dikira Mang Udin ternyata orang lain. Saking terkejutnya melihat pria itu, Asti menganga lebar kedua pasang mulutnya membentuk huruf o besar.
"An-da sia-pa? Ke-na-pa bukan Mang Udin," ujarnya Asti yang tergagap saking kagetnya melihat pria yang cukup tampan diusianya yang mungkin kepala akhir empat itu separuhnya dari umurnya Asti.
"Sebaiknya kita masuk ke rumah dulu,nanti Bapak akan jelaskan siapa saya," jelas Pria itu.
Asti menatap intens ke arah pria itu yang sudah berjalan ke arah dalam rumahnya. Asti terus menatap ke arah pria itu tanpa berkedip, dia masih kebingungan dengan suasana yang terjadi kenapa bisa ia salah masuk mobil.
__ADS_1
"Ya Allah… sepertinya aku salah masuk mobil, apa aku ikut ke dalam rumahnya bapak itu, tapi jika kelurganya menganggap aku pelakor gimana?" Asti semakin dilema antara tetap duduk di dalam kursi jok mobil atau masuk ikut bersama dengan bapak itu.
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Kau Bahagiaku
Duren, i love you
First Love Rubi Salman
Cinta Pertama
Meraih Cintanya
__ADS_1
Makasih banyak all readers… I love you all..