Aku Bukan Yang Pertama

Aku Bukan Yang Pertama
Bab. 15


__ADS_3

Berselang beberapa saat kemudian,mobil mereka sudah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi hingga membelah jalan perkampungan yang cukup bebas dari kemacetan seperti yang terjadi di ibu kota Jakarta.


"Ya Allah… Yudha kemana sih! Kenapa perginya lama banget, padahal sadari empat jam yang lalu ia pergi," cicitnya Bu Inggrid yang berjalan ke sana kemari mondar-mandir di hadapan beberapa orang yang sudah siap mengantar sang calon pengantin ke rumahnya Asti.


Bu Inggrid dibuat kalang kabut dengan menghilangnya Yudha. Bu Inggrid takut jika putra tunggalnya itu mempermalukan dirinya yang tiba-tiba menghilang karena sedari dulu menolak pernikahannya.


"Ya Allah… Yudha pergi ke mana? Sedari tadi aku telpon nomor hpnya tapi tidak aktif, Resky juga aku sudah hubungi nomornya tapi sama saja nomor mereka sama-sama tidak aktif juga," ketusnya Bu Inggrid yang sudah cemas dengan kondisinya anaknya yang belum pulang juga dari acara makeup di salon tempat yang dipilih oleh keluarganya Asti.


"Sabarlah Mbak Inggrid, insya Allah…Yudha pasti pulang, aku yakin Yudha tidak mungkin buat kita malu dengan kabur dari tempat acara, aku yakin dengan sangat jika ia segera pulang," ujarnya Bu Jingga adik iparnya.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh adikmu, Ibu mohon bersabarlah dan tenangkan dirimu, kalau kamu seperti ini sama saja kamu menyiksa diri kamu dengan keadaan yang sama sekali tidak terjadi akhirnya jadi kenyataan," timpalnya Bu Mutia Ibu mertuanya Bu Inggrid.


Bu Inggrid mendengarkan perkataan dari ibunya itu dan ia mendudukkan bokongnya di atas sofa buludru cokelat itu. Tapi, baru semenit saja Bu Inggrid duduk, pintu rumah yang disewanya terbuka dan menyembullah wajah seseorang yang sedari tadi ditunggu-tunggu kedatangannya.


Bu Inggrid berdiri dari tempat duduknya," Yudha kamu dari mana saja, kenapa lama sekali perginya?" Tanyanya Bu Inggrid yang sudah memberondongkan pertanyaan untuk putra tunggalnya itu.


Yudha terdiam sesaat dan menghentikan langkahnya," maaf di salon ramai sekali Mama, terus pas mau pulang ban mobil kami pecah, iya kan Resky?" Ujarnya Yudha yang menatap tajam ke arah Resky.


Sedang Resky yang ditatap oleh Yudha hanya tersenyum cengengesan dan juga kebingungan sehingga salah tingkah karena harus berkata jujur atau menuruti perintah Yudha yang jelas-jelas kebohongan besar.


"I-ya Bu, apa yang dikatakan Abang Yudha be-nar sekali," jawabnya Resky yang sedikit tergagap karena selama ini ia akan gagap berbicara jika harus berbicara bohong.


"Kalau gitu,ayo kita bersiap untuk berangkat ke rumahnya Asti karena kalian sudah ditunggu sedari tadi," imbuhnya Pak Rusman Heriawan saudaranya Bu Inggrid yang paling tua.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Asti tempat pelaksanaan akad nikahnya. Iringan rombongan pengantin sudah ditunggu sedari tadi dan telah menyambut mereka dengan senyuman ramah dengan penuh kebahagiaan.


"Selamat datang Nyonya Inggrid di rumah kami yang sederhana dan kecil ini dibandingkan dengan rumahnya Ibu yang ada di ibu kota Jakarta, pasti jauh banget bedanya," ungkapnya Nenek Minah yang menyambut calon pengantin pria.

__ADS_1


"Ibu terlalu merendah, sama saja rumah kami juga biasa saja kok," timpalnya Bu Inggrid yang tersenyum penuh sumringah dan bahagia.


"Kalau gitu kita masuk segera karena hampir waktu baiknya lewat loh ibu," pungkas Pak Kardi paman angkatnya Asti.


Mereka sudah duduk di kursi masing-masing, begitu pula dengan manten prianya. Yudha sudah duduk di hadapan Pak penghulu dengan kursi dan meja yang dihias sedemikian cantiknya dengan bunga melati,mawar memenuhi pinggiran kursi dan bagian tengah meja.


"Sekedar informasi, karena Asti adalah sebenarnya anak angkat kami dan kebetulan Bapak dan ibunya hingga detik ini tidak kami ketahui dan maaf bukannya kami sengaja membuka rahasia ini karena bertujuan agar tidak menimbulkan pertanyaan nantinya karena pernikahan ini akan diserahkan kepada wali hakim," jelasnya panjang lebar Pak penghulu pak Siardi.


"Silahkan dimulai saja akad nikahnya Pak, kami sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut," imbuhnya Pak Wiranto Paman dari bapaknya Yudha.


"Baiklah kalau seperti itu, apa Mas Yudha sudah siap untuk menikah atau butuh istirahat sejenak dulu Mas?" Tanyanya Pak Penghulu.


"Silahkan dilanjutkan Pak, karena lebih cepat lebih baik," timpalnya Yudha.


"Baiklah Mas Barata Yudha Frans Adityaswara saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kami yang bernama Asti Aprilia Yuswandari Indra dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 17.110.000 rupiah dibayar tunai," ucapnya Pak penghulu dengan serius.


Raut wajahnya Yudha serius tidak seperti wajahnya tadi pagi saat menikahi Andien secara siri. Mungkin hal itu terjadi karena ketegangan mental berbeda dengan yang ia rasakan. Saat ini tatapan mata yang begitu banyak dari berbagai orang yang hampir memenuhi seluruh ruangan tersebut mampu membuat Yudha sedikit grogi dan salah tingkah.


Yudha yang tiba-tiba terdiam tak bergeming dengan tangannya yang masih berjabat tangan dengan pak penghulu. Bu Inggrid yang melihat putranya membisu segera berjalan pelan lalu menyenggol sedikit lengan putranya itu. Hingga mampu membuyarkan lamunannya.


"Eeh maaf Pak, bisa dilanjut," tuturnya Yudha yang sedikit malu dengan kejadian akibat ulahnya sendiri.


"Sepertinya manten kakinya butuh aqua pak penghulu!" Teriak beberapa tamu undangan dan juga sahabat dan keluarganya Asti yang tersenyum dan juga tertawa terbahak-bahak.


Beberapa orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan itu sedangkan keluarga besar Yudha. Terutama Bu Inggrid sebagai mamanya. Bu Inggrid hanya menggeleng kepalanya dan sedikit merasa malu.


Yudha menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan sedikit kasar," Saya terima nikah dan kawinnya A…sti Aprilia Yuswandari Indra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucapannya Yudha yang tegas, lantang tapi saat menyebut namanya Asti sedikit tersendak karena bingung dan hampir menyebut namanya Andien dengan Ariana sehingga ia cukup kebingungan.

__ADS_1


"Bagaimana para saksi, apakah sah??" Tanyanya Pak Penghulu seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


"Sah!!" Teriak dari semua orang yang hadir dan semakin banyak dan bertambah pula tamu undangan yang datang di siang hari itu.


"Alhamdulillahrobbilalamin, Mas Yudha sudah resmi dan sah menjadi pasangan suami istri, kalau begitu tolong pengantin perempuannya segera dibawah ke sini," pintanya Pak Penghulu.


Beberapa menit kemudian, Asti sudah berada di hadapan Yudha dan sudah duduk di hadapan suaminya yang baru saja menjadi suaminya itu. Yudha tak berkedip melihat Asti yang sangat cantik dimatanya bahkan sampai ia pangling melihat perubahan Asti yang sangat ayu, menawan dan menarik hingga Yudha bahkan tidak menyadari jika senyuman terbit dari sudut bibirnya yang memuji kecantikan istri barunya sekaligus istri ketiganya dalam hidupnya.


"Gadis kampung ini sangat cantik, bahkan kalau boleh jujur dia lebih cantik dari pada Andien," gumam Yudha.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.


I love you all readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


First Love Rubi Salman


Cinta Pertama


__ADS_1


Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah


__ADS_2