
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di Ibu Kota Jakarta dengan selamat, beberapa mobil rombongan sudah berpisah dengan mereka. Karena akan kembali ke rumah masing-masing. Bu Inggrid sangat bersyukur karena anggota keluarganya bisa diandalkan dan meluangkan waktunya untuk menghadiri dan mengantar Yudha hingga ke pelaminan.
Bu Inggrid tak henti-hentinya mengucap syukur atas kelancaran proses akad nikah anak semata wayangnya itu. Walaupun ia hidup dalam keadaan pas-pasan ketika ditinggal cerai oleh suaminya.
Dengan bekerja keras banting tulang berjualan lewat online hingga mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi lagi hingga detik ini menjadi seorang menejer pemasaran disalah satu perusahaan terbesar dan terbaik di Indonesia.
Empat bulan pernikahannya Asti telah berjalan. Asti bersyukur karena suaminya cukup perhatian padanya. Awalnya ia merasa cukup canggung menghadapi suaminya tapi, seiring berjalannya waktu keduanya semakin kompak dan mesra saja. Tapi, hingga detik itu juga Asti dan anggota keluarganya yang lain sama sekali belum mengetahui jika Yudha memiliki dua istri sekaligus.
Bunyi ulekan yang bersumber dari arah dapur terdengar hingga ke ruang tengah yang dijadikan sebagai tempat ngumpul mereka diwaktu senggang.
"Hum aromanya wangi banget, siapa yang masak yah? Setahu aku bibi Sumi belum pulang dari belanja kalau Asti katanya tadi pagi kepalanya sedikit pusing," gumamnya Bu Inggrid seraya berjalan ke arah dapur.
Langkah kakinya semakin mendekati arah dapur, wangi aroma masakan semakin menyeruak hingga ke panca inderanya tersebut.
"Wanginya, aku yakin masakannya pasti sudah tentu lezat," cicit Bu Inggrid Ibu mertuanya Asti.
Bu Inggrid melihat punggung seorang perempuan dengan ikat rambut asalnya yaitu mencepol biasa saja. Tangannya yang lincah, gemulai, telaten mengulek bumbu masakan.
"Sayang! Kamu masak apa? wanginya harum banget loh sampai-sampai buat perut Mama keroncongan," pujinya Bu Inggrid sembari bergurau.
Asti yang mendengar seruan ibu mertuanya segera mengecilkan api kompornya. Dia lalu menolehkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
"Alhamdulillah, kalau mama menyukai aromanya, semoga masakannya Asti enak dan Mama menyukainya," imbuhnya Asti.
"Mama kira kamu sedang kurang enak badan Nak, kok sudah berada di dapur bertempur dengan ulekan dan wajan saja, apa kamu sudah baikan terus obatnya sudah diminum Nak?" Tanyanya Bu Inggrid penuh selidik sambil mencicipi tempe mendoan yang baru saja Asti ambil dari penggorengan.
__ADS_1
Asti melirik sekilas ke arah ibunya itu, "Syukur Alhamdulillah, aku sudah baikan Ma, tapi maaf aku tidak sempat minum obat soalnya aku tidak terbiasa minum obat kalau hanya sakit ringan saja," jelasnya Asti yang tidak ingin Ibu mertuanya tersinggung karena tidak mau dianggap tidak menghargai pemberian dan bantuan dari Bu Inggrid.
Bu Inggrid tersenyum simpul," tidak apa-apa kok Nak, jangan dipaksakan jika emang kamu tidak biasa, mama malah suka prinsip kamu yang jangan sedikit-sedikit sakit minum obat, malah itu menurut Mama bagus loh, mama suka kalau seperti itu, tapi ngomong-ngomong kamu kok yang masak lagian kan ada bibi Sumi yang bisa masak,kamu tidak perlu repot-repot segala," ujarnya Bu Inggrid.
"Tidak apa-apa kok Ma, enggak tahu kenapa aku pengen masak saja, lagian aku suka memasak sudah kebiasaan juga sih Ma, kebetulan tadi Mas Yudha pengen makan masakan aku katanya ia tidak mau makan masakan dari kantin perusahaan atau resto," ungkapnya Asti yang tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, Mama bangga padamu Nak, walaupun kamu sibuk kuliah tapi kewajiban dan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri dan Ibu tidak kamu tinggalkan, Mama sangat bersyukur memiliki anak menantu seperti kamu," pujinya Bu Inggrid sambil mencicipi udang tumis kecap yang baru saja diambil dari wajan.
Asti tersenyum sumringah bahagia mendengar perkataan akan pujian yang ditujukan untuknya.
"Saya merasa sangat tersanjung dengan pujian yang Mama ucapkan padahal masakan Asti juga hanya masakan rumahan yang bumbunya sederhana saja," timpal Asti.
"Jadi kamu ingin mengantar makanan untuk makan siang suamimu sekalian ke kampus?" Tanyanya Bu Inggrid yang sudah duduk dan semangkuk sup ayam brokoli jamur sudah tersedia di depannya siap untuk ia nikmati.
Asti mematikan kompornya lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil bekal kotak makanan yang akan dia isi untuk ia bawa ke perusahaan tempat suaminya Yudha bekerja.
Yudha bergerak cepat mengunci rapat pintu ruangan kantor pribadinya setelah melihat kedatangan istri sirinya Andien. Matanya celingak-celinguk melihat sekitarnya,ia tidak ingin ada seseorang yang melihat kedekatan mereka saat itu yang bisa berakibat fatal untuk hubungan mereka berdua.
"Sayang,apa nanti malam kamu jadi nginap di rumahku kan? Sudah dua minggu loh aku enggak dapat giliran jatah dari kamu," ucapnya Andien dengan penuh kelembutan sambil naik kepangkuan suaminya itu.
Yudha tersenyum smirk sambil mengelus rambut panjang milik istrinya tersebut," insya Allah Mas akan menginap di sana tapi, aku harus mencari alasan yang tepat untuk itu, kamu kan tahu dengan persis jika aku masih memiliki satu istri dan juga Mama yang harus aku pintar cari alasan yang paling tepat agar mereka tidak curiga," kilahnya Yudha.
Yudha yang sebenarnya akhir-akhir ini sangat malas untuk bermalam di rumahnya Andien apa lagi kedua orang tuanya Andien yang sudah hampir sebulan tinggal di sana juga yang selalu menuntut untuk meresmikan hubungan mereka berdua.
Kedua orang tuanya Andien sama sekali tidak mengetahui jika anak tercinta mereka menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Walaupun Andien adalah perempuan yang dinikahi untuk kedua kalinya oleh Yudha karena desakan dan paksaan dari Andien sendiri yang jelas-jelas sudah mengetahui jika, Yudha akan menikah dengan Asti tunangannya itu.
__ADS_1
"Aku sangat malas dan enggan kesana karena alasan kedua mertuaku itu," umpatnya Yudha.
Tok.. tok… tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat mereka harus melerai pelukannya dan Andien segera duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerjanya Yudha.
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Bukan Yang Pertama. Tetap dukung BYP yah dengan cara: like setiap babnya, vote setiap hari senin, gift koin atau pun poin seikhlasnya dan juga masukannya yah.. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lainnya juga yah.. Dukungan kalian sangat berarti dalam bentuk apa pun.
I love you all readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain, ditunggu jejaknya kakak:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
First Love Rubi Salman
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, Rabu, 23 November 2022