Aku Bukanlah Aku Yang Dulu

Aku Bukanlah Aku Yang Dulu
Bab 12


__ADS_3

Nara membersihkan lukanya sendiri. Sesekali air matanya menetes mengingat apa yang baru saja ia alami. Tidak pernah terlintas jika hal seperti ini akan membuatnya terluka bertubi tubi.


Selesai mengobati wajahnya, Nara berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Merasa sangat lelah, Nara tertidur di bathup.


Ceklek ( Suara pintu terbuka).


Pukul 20.29, Shim kembali dari kantornya. Amarahnya sudah mulai mereda.


Saat berada di kantor, ia terus memikirkan Nara.


" Apa aku berlebihan?" Ucap Shim dengan suara lirih.


Shim mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Namun ia tidak menemukan sosok Nara. Dengan sigap, ia berjalan menuju kamar mandi. Ia memutar panel pintu namun tidak bisa. Karena Nara menguncinya dari dalam.


Shim menggedor pintu kamar mandi, namun tidak ada jawaban. Merasa khawatir, Shim mendobrak pintu itu hingga berulang kali, hingga terbuka.


Shim langsung menelusuri setiap inci yang ada di kamar mandi. Shim berhenti saat mendapati Nara yang terlelap di bathup berisikan air hangat tanpa sehelai benang pun.


" Ceroboh sekali. Kenapa tidur disini Pabo." Ucap Shim yang berjalan mendekat ke arah Nara.


Shim tidak dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh Nara, karena air hangat yang bercampur dengan sabun membuat air tersebut berkeruh.


Shim berjongkok tepat di depan wajah Nara.

__ADS_1


Ia memperhatikan wajah Nara dengan seksama dan melihat luka luka yang ia timbulkan masih membekas dengan jelas di wajah cantik Nara.


" Hal ini tidak akan terjadi jika kamu tidak bertemu dengannya." Ucap Shim yang mulai berdiri dan berjalan keluar untuk mengambil handuk.


Shim kembali dengan handuk anti air di tangannya. Tanpa ragu, ia langsung melebarkan handuk tersebut dan menutupi tubuh Nara. Sebelumnya, ia telah memutar knop bathup agar airnya turun.


Shim mengangkat Nara ala bridle style, Dan menurunkannya secara perlahan pada ranjang king size nya.


Kini Nara hanya berbalut handuk anti air yang tipis. Hingga Shim bisa melihat setiap inci dari lekukan tubuh Nara. Hal itu membuat Shim kesulitan menelan ludahnya sendiri.


Ceklek ( Suara pintu terbuka)


" Shim. Aku menunggumu di apartemen. Kenapa kamu tidak datang. aku sangat merindukanmu." Ucap Jasmin yang sedang memeluk Shim dari belakang.


Jasmin tidak mau diam. Ia berjalan menghadap ke Shim dan menghalangi pandangan Shim terhadap Nara.


Cup.


Jasmin merasa kesal karena Shim tidak membalas ciumannya.


" Baby, jangan bilang, sekarang kamu menyesal karena sudah melukainya." Bentak Jasmin. Shim hanya diam.


" Ada apa kamu kesini? Bukankah sudah kusuruh menunggu di apartemen saja?" Ucap Shim yang kini duduk di sofa kamar.


" Aku lelah menunggumu yang tak kunjung datang. Makanya aku kesini. Lagipula aku bosan di apartemen terus. Aku ingin bersamamu saja." Ucap Jasmin yang kini duduk dan bergelayut di pangkuan Shim.

__ADS_1


Lagi lagi Shim hanya diam. Membuat Jasmin merasa sangat kesal. Ia mencari akal agar Shim mau bermesraan dengannya. Karena sudah lama ia tidak mendapat sentuhan dari Shi.


Tangan Jasmin mulai menelusuri setiap inci dari wajah Shim dan turun ke perut Shim yang masih terbalut baju formal.


" Aku sedang tidak ingin Jasmin." Shim tau dengan maksud Jasmin. Ia menolaknya dengan dingin.


" Ayolah. Jangan bilang kamu tidak ingin karena Nara." Jasmin memanyunkan bibirnya.


Karena tidak mendapat jawaban dari Shim, Jasmin mulai mencium Shim lagi. Namun Shim tidak membalasnya. Karena nafsu yang sangat tinggi, Jasmin menggigit bibir Shim dengan keras. Hingga Shim membuka mulutnya. Alhasil kini Jasmin berhasil mengabsen setiap inci dari mulut Shim.


Shim yang tadinya tidak mau. Kini terpancing dengan cumbuan Jasmin. Akhirnya ia mulai merespon keinginan Jasmin.


Mereka bercumbu mesra di sofa. Dimana Nara masih terlelap dalam mimpi indahnya.


Suara desahan, membuat tidur Nara terganggu. Ia mulai mengumpulkan kesadarannya dan memperjelas pendengarannya.


" Suara apa ini?" Gumam Nara saat kesadarannya mulai teekumpul.


Saat Nara bangun, ia sangat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Hatinya serasa hancur. Melihat suaminya bercumbu dengan Jasmin.


Hati Nara benar benar tersayat melihat kejadian itu. Sedikit titik hitam yang pernah ada, kini kembali. Bahkan titik itu semakin membesar hingga membuat Nara menitikkan air mata kebenciannya terhadap dua insan yang ada di hadapannya.


.........


Setelah membaca, jangan lupa like dan tinggalkan jejak.

__ADS_1


__ADS_2