Aku Bukanlah Aku Yang Dulu

Aku Bukanlah Aku Yang Dulu
Bab 21


__ADS_3

Selama 25 menit, ritual mandi Nara akhirnya selesai. Ia mengambil handuk kimono lalu memakainya. Ia mulai berjalan keluar dari kamar mandi.


Selama Nara mandi, Jasmine mengambil kesempatan untuk bercumbu dengan Shim. Nara hendak berjalan ke lemari pakaian, namun langkahnya terhenti saat melihat Jasmine tengah bermanja bersama Shim.


Nara mulai memikirkan cara untuk bisa menarik perhatian Shim.


" Awwww" Tanpa berpikir panjang, Nara langsung menjatuhkan dirinya di dekat meja rias.


Shim langsung menghempaskan Jasmine saat melihat Nara terjatuh.


Sial. Ternyata dia juga pandai berakting. Awas kamu Nara. Kesal Jasmine lalu ia memilih untuk duduk di sofa sambil melihat seberapa hebat akting lawannya itu.


" Apa kamu baik baik saja? " Shim terlihat begitu khawatir.


" Perutku. Awww,. " Nara berteriak seakan ia benar benar sedang kesakitan.


" Apa perutmu sakit hah?" Nara mengangguk dan semakin meremas perutnya yang tidak sakit. Shim semakin khawatir. Tanpa aba aba, ia langsung membopong tubuh Nara ke atas kasur.


" Tunggu, aku akan menelpon dokter." Langkah Shim terhenti saat Nara memegang tangannya.


" Perutku sakit. Dari semalam aku belum makan." Nara bangun dan memeluk Shim dengan sangat erat. Lalu ia tersenyum miring ke arah Jasmine.


Jasmine semakin geram melihat tingkah Nara.


" Shim, aku juga sangat lapar. Tolong pesankan makanan untukku." Jasmine tidak mau kalah dari Nara.


" Tunggu sebentar Jasmine. Dan kamu, makanan apa yang kamu ingin kan? " Shim mengelus kepala Nara yang masih bersandar di dada bidangnya.


" Tidak perlu memesankan makanan untukku. Aku akan turun sendiri dan memilih makanan ku sendiri. Jadi pergilah, temani pacar kesayanganmu untuk makan. Atau dia akan mati kelaparan nanti." Nara melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaian yang semalam di pesan oleh Shim melalui Jasa pelayanan kamar.


Shim menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tau benar kalau sekarang Nara sedang marah. Ia jadi bingung harus menuruti kemauan siapa. Di satu sisi Jasmine adalah kekasihnya dan ia sangat menyayanginya. Di sisi lain, ada Nara yang berstatus sebagai istrinya. Ia juga mulai menyukai Nara.


" Jasmine, turunlah dulu. Dan pesankan makanan untukku. Nanti aku akan menyusul." ucap Shim.

__ADS_1


" Aku tidak mau." Jasmine kembali duduk.


" Aku janji akan segera menyusul." Dengan malas jasmine berjalan meninggalkan kamar Shim.


Sial. Berani sekali Shim menyuruhku pergi. Ini semua karena wanita sialan itu. Akan aku pastikan, kamu membayar semua ini Nara. Sepanjang jalan menuju restoran dekat hotel, Jasmine tidak berhenti memaki Nara dalam hati.


" Nara, buka pintunya." Ucap Shim yang kini berdiri di depan pintu ruang ganti.


Ceklek.


Nara membuka pintu dan langsung melewati Shim. Ia menuju ke meja rias untuk memoles wajahnya.


" Nara." Shim berjalan mendekati Nara dan menarik kursi tempat Nara duduk.


" Aku mohon jangan bersikap kekanak kanakan seperti ini." Ucap Shim yang berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Nara.


" Siapa yang bersikap kekanakan? Aku hanya tidak suka jika suamiku lebih banyak menghabiskan waktu bersama kekasihnya." Shim tersenyum mendengar perkataan Nara.


" Apa kamu cemburu? "goda Shim.


" Benarkah "


Nara hanya menatap Shim dengan sinis lalu mengalihkan pandangannya.


Cup.


Nara membulatkan matanya saat Shim dengan tiba tiba menarik tengkuknya.


" Emmmmmmmm" Nara mencoba melepaskan tautan mereka, namun tidak berhasil karena Shim menahan tengkuk Nara hingga Nara sulit bergerak..


Merasa tidak ada perlawanan, Shim melepaskan tautan mereka dan menatap wajah Nara yang merah akibat kekurangan oksigen.


" Tidak perlu memoles wajahmu. Cukup rapikan rambutmu lalu kita turun untuk makan." Ucap Shim yang mengelus bibir Nara.

__ADS_1


Nara hanya mengangguk lalu ia mulai merapikan rambutnya dan memakai sedikit lipbalm agar wajahnya tidak terlihat pucat.


" Ayo. " Ajak Nara saat dirinya selesai dengan aktivitas riasnya.


Saat ingin keluar dari kamar hotel, pandangan Shim tertuju pada bibir Nara.


Dengan satu kali tarikan Shim berhasil mendaratkan ciuman ke bibir cerry Nara.


" Ugh," Nara mengeluarkan suara saat Shim menggigit bibir bawahnya.


Shim melepaskan tautannya dan menghapus sisa salivanya di bibir Nara.


" Sudah aku bilang. Tidak perlu memoles wajahmu." Ucap Shim yang kini merapikan rambut Nara.


" Aku hanya memakai lipbalm, wajahku akan terlihat pucat tanpa polesan di bibirku." Ucap Nara dengan kesal.


" Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu memoles bibir mu agar selalu merah." Ucap Shim dengan senyum penuh makna membuat Nara semakin kesal dengannya.


" Menyebalkan."


" Ya sudah ayo kita turun dan makan. Kamu sudah sangat lapar kan?" Nara mengangguk.


Mereka berjalan menuju restoran tempat Jasmine berada. Nara yang melihat keberadaan jasmine seketika menjadi bad mood.


" Baby kenapa lama sekali." Jasmine langsung memeluk Shim. Sedangkan yang di peluk malah melirik ke arah Nara.


" Aku mau memesan makanan ku dulu." Ucap Nara.


" Tidak. Tunggu disini biar aku yang memesannya." Ucap jasmine bersemangat. Shim tersenyum melihat Jasmine yang mulai mengerti keadaan.


Nara mengerutkan keningnya ia merasa Jasmine sedang mempunyai rencana jahat terhadapnya.


....................

__ADS_1


Setelah membaca jangan lupa like dan tinggalkan jejak💜


__ADS_2