
" A. Apa maksudmu?" Ucap Shim yang menatap lekat wajah pucat Nara.
" CERAIKAN AKU!" Shim mengeraskan rahangnya saat mendengar kata itu. Ia tidak menyangka Nara yang sangat mencintainya meminta berpisah darinya.
" Tidak akan. Jangan pernah berpikir aku akan melepasmu. Kamu sudah menjadi milikku dan akan selamnya begitu. Paham!" Tegas Shim yang memegang Tangan Nara. Namun Nara menghempaskan tangan Shim.
" Aku mohon Shim. Aku mohon Cerai..."
Cup.
Shim langsung mencium Nara. Ia tidak ingin mendengar perkataan mutlak itu lagi. Tidak peduli dengan dadanya yang di pukul oleh Nara. Shim semakin memperdalam ciumannya.
Merasa tidak ada perlawanan lagi. Shim melepas tautan bibir mereka. Lalu menatap Nara yang kini terisak dengan sangat pilu.
" Tenanglah. Jangan seperti ini. Sudah ku bilang, aku tidak akan melepasmu Nara. Tidak akan." Ucap Shim yang tengah mengusap air mata Nara dengan lembut.
" Jangan pernah berkata seperti itu lagi hem. Aku tidak suka." Shim kembali mencium Nara dengan sangat lembut. Namun Nara tidak membalas ciumannya. Shim sedikit menggigit bibir manis Nara hingga membuat Nara meringis. Alhasil, Shim berhasil mengabsen setiap inci bibir dari Nara.
Ini pertama kalinya Shim mencium Nara dengan \* nya. Nara mencoba melepaskan tautan itu. Namun Shim menarik tengkuk Nara agar ciuman mereka semakin dalam.
10 menit mereka berciuman. Akhirnya Shim melepaskan tautannya agar Nara bisa menghirup udara.
" Lihat aku!" Nara langsung menatap mata Shim dengan kerutan di dahi.
" Katakan apa maumu. Aku akan berusaha menurutinya. Selain perpisahan hem." Ucap Shim merayu Nara agar ia tidak meminta perceraian lagi.
Shim benar benar tidak ingin kehilangan Nara. Entah apa yang ada di pikirannya, Ia takut jika Nara pergi dari hidupnya.
" Aku ingin bahagia." singkat Nara.
__ADS_1
" Lalu?" Ucap Shim yang masih berjongkok di hadapan Nara.
" Aku ingin bebas. Aku tidak mau tinggal di rumah terus." lanjut Nara.
" Asal itu tidak melewati batas." Ucap Shim yang masih memandangi wajah pucat Nara.
" Aku tidak ingin Jasmin masuk ke rumah ini. Aku tidap peduli jika kalian masih berhubungan. Aku hanya tidak suka jika harus bertemu dengannya." Ucap Nara yang hanya di angguki oleh Shim.
" Terakhir. Aku menginginkan waktumu!."
" Waktuku? Kenapa harus waktu?." Tanya Shim.
" Aku hanya membutuhkan waktumu. Bukan uangmu. Bagiku waktumu sangat penting. Makanya aku memintanya." tegas Nara. Shim hanya tersenyum mendengar penuturan aneh istrinya itu.
" Baiklah jika hanya waktu. aku pasti bisa."
" Lebih utamakan waktumu untukku daripada Jasmin bisakan?" Shim tiba tiba terdiam saat mendengar perkataan Nara.
" Kenapa diam? Apa kamu tidak bisa? Hemm, ya sudah tidak ma..."
" Baiklah. Akan aku usahakan. Sudah cukup aturanmu. Sekarang dengarkan permintaanku ini baik baik." Nara hanya diam.
Nara langsung mencium bibir Shim singkat. Membuat Shim terkejut dengan keberanian baru istrinya itu.
" Sudah berani hem?" Ucap Shim melihat Nara tersenyum.
" Ah sampai dimana tadi.?" Saking terkejutnya, Shim sampai lupa dengan pokok pembahasannya.
" Tidak perlu di lanjutkan. Aku sudah paham. Asal aku mendapatkan apa yang ku mau. Semuanya akan ok. Jika ada yang tidak aku sukai maka jangan salahkan aku jika aku berulah lagi." Ucap Nara.
" Bahkan kamu berani mengancamku hem. Siapa yang mengajarimu?" Ucap Shim yang kini duduk di dekat Nara.
" Aku hanya belajar darimu." Shim melirik Nara lalu tersenyum. Kenapa ia baru sadar bahwa Nara sangat imut jika sedang marah.
" Yaa baiklah. Besok pindahkan semua barangmu kesini."
" Untuk apa? Aku nyaman di kamarku." Ucap Nara.
__ADS_1
" Baiklah. Aku yang akan pindah ke kamarmu." Shim berjalan mengambil baju tidurnya lalu menarik Nara menuju ke kamarnya.
Sedangkan Jasmin tengah di obati oleh para pelayan.
Beberapa hari kemudian.
" Jadi apa yang kamu katakan?" Tanya Alex.
" Aku menolaknya." Singkat Shim yang membuat Alex tersenyum.
" Sudah aku bilang. Ada waktunya dia akan lelah dan meminta berpisah kamu saja yang tidak.mau mendengarkanku." Ucap Alex dengan wajah mengejek.
Flassback on
Shim sedang berada di kantor. Saat sedang sibuk menanda tangani proyek, Alex mampir untuk melihat keadaan Shim.
Di tengah tengah perbincangan mereka, Shim meceritakan kejadian yang telah ia alami beberapa hari yang lalu.
Mendengar penuturan Shim Alex hanya tertawa. Karena ekspresi wajah Shim terlihat sangat frustasi.
Flassback off.
" Jadi sekarang Nara dimana?" Tanya Alex.
" Dia masih di kampusnya, tidak lama lagi aku akan menjemputnya." Ucap Shim yang melirik arloji di tangannya.
ceklek. ( Suara pintu terbuka)
..........
__ADS_1
setelah membaca jangan lupa like dan tinggalkan jejak.