
Nara selesai mengobati lukanya. Kini ia duduk dengan sangat anggun di hadapan Shim.
Shim menatap Nara dengan penuh tanda tanya.
" Apa karena kejadian tadi, dia seperti ini?" Gumam Shim dalam hati.
" Aku lapar. Cepat ambilkan makananku!" Titah Shim. Namun yang di suruh hanya sibuk memainkan kukunya.
" Apa kamu tidak dengar?" Ucap Shim dengan suara tinggi.
" Apa kamu bisa berbicara dengan nada rendah? Telingaku sakit setiap saat mendengar ocehanmu. Lagipula aku tidak tuli." Perkataan Nara berhasil menembus hati Shim. Hingga Shim merasakan ada sesuatu yang menembus hatinya.
Nara berjalan meninggalkan Shim yang masih beku di tempatnya.
" Sampai kapan kamu akan duduk?" Ucapan Nara berhasil membuyarkan lamunan Shim.
Nara berjalan menuju ruang makan di ikuti oleh Shim.
" Apa Nyonya baik baik saja?" Bi ima yang melihat wajah Nara merasa sangat khawatir lalu ia menghampiri majikannya dan menanyakan kabarnya.
" Aku tidak apa apa bi." Ucap Nara lemah lembut pada bi Ima. Membuat Shim semakin heran dengan sikap istri kecilnya ini. Bagaimana tidak, Kini sikapnya mulai berubah ubah.
Nara melihat Jasmin tengah menyantap makanannya dengan sangat lahap. Shim mulai duduk sedangkan Nara tengah menyajikan makanan untuk Shim.
Setelah selesai, Nara memberikan piring berisi makanan kepada Shim. Lalu ikut duduk tanpa mengambil makanan untuknya.
" Nyonya kenapa tidak makan? Apa perlu saya ambilkan Nyonya makanan ?" Tanya salah satu pelayan.
" Tidak perlu. Aku masih kenyang." Singkat Nara.
Jasmin tiba tiba memiliki rencana saat melihat Nara yang tengah duduk di dekatnya. Jasmin mengambil segelas air dan sengaja menumpahkan air tersebut ke baju Nara.
" Oww maaf. Aku tidak sengaja." Elak Jasmin.
__ADS_1
Shim yang melihat hal itu hanya diam. Dan menatap Nara. Begitupun dengan Nara ia menatap Shim dengan sedikit tersenyum.
Nara berdiri lalu menuangkan air untuk Shim. Saat sedang berdiri di antara Shim dan Jasmin, Nara dengan sengaja menjatuhkan gelas yang ia pegang ke tangan Jasmin.
Shim sangat terkejut melihat perlakuan Nara. Ia langsung berdiri dan menarik tangan Nara.
" Apa yang kamu lakukan hah. Lihatlah, tangannya terluka akibat ulahmu Nara! Ucap Shim
" Aku tidak sengaja. Tanganku terasa licin, alhasil gelasnya jatuh." Ucap Nara yang menatap remeh Jasmin.
Jasmin merasa sangat perih akibat pecahan gelas yang menancap di kulit tangannya.
" Minta maaf sekarang juga!" Tegas Shim. Namun Nara hanya diam.
" Aku bilang minta maaf sekarang juga!" Para pelayan berkumpul karena mendengar ada keributan di ruang makan.
" Jangan memaksaku. Karena aku tidak suka di paksa. Dia yang mulai! Aku hanya mengikuti alurnya. Jadi sekarang kami impas!". Ucap Nara dengan suara pelan namun penuh dengan penekanan.
Shim hanya diam. Dia bingung harus membela siapa.
" Lepaskan!" Ucap Nara dengan wajah yang mulai memerah.
" Aku bilang lepaskan tangan hinamu dari rambutku!" Namun Jasmin semakin memperkuat tarikannya.
" Lihat. Bukan aku yang mencari masalah. Jadi jangan salahkan aku jika aku melukai kekasih kesayanganmu ini!" Setelah mengatakan hal itu, Nara langsung menarik rambut Jasmin hingga rontok.
Jasmin melepaskan jambakannya namun tidak dengan Nara. Ia menarik rambut Jasmin lalu mendorong. Dengan sekali tamparan Jasmin terkulai lemas di lantai.
Hal tersebut membuat para pelayan terkejut karena melihat sikap majikannya yang tidak pernah mereka lihat.
Shim tidak menyangka, Nara bisa melukai Jasmin lebih dari yang ia bayangkan.
" Apa yang kalian lihat? Cepat bawa Jasmin dan obati dia!" Para pelayan segera membopong tubuh Jasmin ke kamar tamu. Sedangkan Shim menarik Nara menuju kamarnya.
__ADS_1
" Apa yang kamy lakukan hah."
" Apa kamu tidak malu, bertengkar di hadapan para pelayan?" Ucap Shim saat sampai di kamar.
" Aku sudah berbaik hati menyuruhnya melepaskan rambutku. Namun dia keras kepala. Aku hanya refleks membela diriku." Ucap Nara santai.
" Sebenarnya apa maumu Nara! Apa maumu. Selama ini kamu hanya menutupi sikap burukmu ini dengan kelembutan palsu hah!."
" Itu yang ingin aku tanyakan Shim. Apa maumu. Kenapa kamu selalu menyakitiku? Aku tau kamu tidak mencintaiku, aku tau kamu punya kekasih. Tapi aku mencoba menerima semua perlakuanmu Shim. Aku selalu mencoba menahan semuanya. Apa kamu tau? Aku sangat menderita hidup denganmu. Aku menderita Shim AKU MENDERITA! Tapi aku mencoba bertahan. Aku mencoba menyembunyikan lukaku darimu. Apa kamu tau kenapa? KARENA AKU MENCINTAIMU SHIM!" Nara terisak saat mengeluarkan semua unek uneknya pada Shim.
" Aku menanggung beban ini sendirian. Aku jauh dari orang tuaku, aku rela meninggalkan orang tuaku demi dirimu. Namun apa yang aku dapat. Apa Shim?"
" Aku memang bodoh, murahan, gila, karena harus bertahan untuk mencintai seorang pria bejat sepertimu hikss." Nara semakin terisak, hingga ia kehilangan keseimbangan. Dengan Sigap, Shim menangkap Nara. Namun Nara mendorong Shim.
" Jangan menyentuhku. Menjauhlah aku tidak ingin di sentuh olehmu. Kamu bilang, kamu adalah suamiku? Hah, Suami." Nara tersenyum sadis saat menyebut kata Suami. Sedangkan Shim tidak menyangka dengan semua pengakuan Nara. Ada rasa sakit saat ia melihat Nara tidak berdaya seperti ini.
" Kamu memang suamiku Shim. Tapi itu hanya di atas kertas dan di mata agama. Aku hany..."
" Diamlah! Biarkan aku bicara." Ucap Shim yang langsung memotong perkataan Nara.
" Apa kamu tidak lelah berbicara terus hem?" Ucap Shim yang mulai mendekati Nara dan berjongkok di depan Nara yang kini sedang duduk di sofa.
" Aku lelah" Shim tersenyum ekspresi istri kecilnya itu. Shim merasa sakit jika melihat Nara seperti ini. Andai dari dulu Nara mengatakan hal ini, mungkin Shim tidak akan berbuat semena mena padanya.
" Aku lelah hidup seperti ini. Aku mohon pulangkan aku ke rumah orang tuaku."
Deg..
Senyuman yang tadi terlukis di bibir Shim kini terganti dengan raut kecemasan saat mendengar ucapan Nara.
..........
setelah membaca jangan lupa like dan tinggalkan jejak.
__ADS_1