
" Ayo." Lamunan Nara terhenti saat Ray mengajaknya masuk ke sebuah apartemen mewah miliknya.
" Ah iya." Ucap Nara seraya melangkahkan kakinya.
Aku pasti salah lihat. Mana mungkin Nara ada disini. Hufff, ayolah Alex. Hentikan kegilaan ini. Gerutu Alex seraya memijat pelipis nya.
Alex berada di paris sebelum Nara dan Shim. Karena ia adalah dokter handal, jadi tak jarang pemilik rumah sakit di luar kota mengundangnya untuk menyembuhkan pasien yang di anggap sudah sangat kritis.
"Tapi wanita tadi benar benar mirip Nara. Dan pria itu. .." Alex menjeda kalimatnya lalu ia berjalan ke arah apartemen Ray.
" Ini kan apartemen Ray daemon. Tidak mungkin Nara ada bersamanya. Tapi tadi... Ah sial lebih baik aku memastikannya melalui Shim." Alex masih berdiri di depan pintu apartemen Ray, lalu ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
Derttt.. derttt
Kenapa dia selalu menelpon di waktu yang salah. Gerutu Shim saat melihat Nama Alex tertera di layar ponselnya.
tennet
" Kenapa kamu selalu menelpon di waktu yang tidak tepat hah." Alex menjauhkan ponselnya dari telinga. Karena suara Shim berteriak dengan sangat keras.
" Anak kurang ajar. Kenapa meneriakiku hah. Aku menelpon salah, saat aku tidak menelpon kamu juga menyalahkan ku. haisss., sudahlah kalau begitu aku matikan saja. Aku sudah menyempatkan waktu untuk menelpon, tapi balasanmu seperti itu." Alex merasa sangat kesal karena Shim selalu saja menyalahkannya.
" Baiklah maafkan aku. Jangan matikan, katakan ada apa." Suara Shim seketika menjadi lembut saat mendapat bentakan dari Alex.
" Apa kamu sedang di paris?" Alex to the point.
" Bagaimana kamu bisa tau. Apa selain jadi dokter kamu juga seorang spionase?" Ucap Shim yang masih fokus menyetir tanpa tujuan untuk mencari Nara.
" Brengsek. Tidak ada untungnya memata matai seorang ceo seperti mu." Sarkas Alex.
" Lalu?"
" Aku sedang di paris. Saat aku keluar apartemen, aku seperti melihat Nara. Tapi itu tidak mungkin, dia pasti ada bersamamu kan?"
Nyiiiiiiiitt ( Suara rem mobil )
" Katakan, dimana dia." Ucap Shim antusias.
" Apa maksudmu?" Alex bingung dengan perkataan Shim..
Nara.. Gumam Alex seraya menatap pintu apartemen Ray.
" Sialan, katakan dimana kamu melihatnya." Shim semakin naik pitam karena pertanyaan Alex.
" Aku melihatnya di apartemen. Dia bersama dengan Ray." Ucap Alex yang masih menatap pintu apartemen Ray. Namun tangannya sudah mengepal.
Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghilangkan seluruh organ tubuh mu Ray. Gerutu Alex.
__ADS_1
Alex dan Ray saling mengenal saat Ray mengambil alih rumah sakit yang di dirikan oleh Alex. Karena itulah Alex tidak menyukai Ray. Bahkan ia berjanji se kritis apapun pasiennya, jika itu adalah Ray ia tidak akan pernah menyentuhnya.
" Share lokasi sekarang juga." Shim memutuskan panggilan secara sepihak. Dengan segera ia memberikan arahan kepada seluruh anak buahnya u tuk menuju ke lokasi yang telah di berikan oleh Alex.
Tidak membutuhkan waktu lama, Shim dan anak buahnya sampai di lokasi. Ia menelusuri anak tangga dengan kecepatan di atas rata rata. Langkahnya terhenti saat melihat Alex bersandar pada dinding depan pintu apartemen Ray.
Tanpa berkata, Shim langsung menekan bel tanpa jeda.
Ceklek.
" Wah, aku tidak percaya ini. Seorang Jeon Wil Daeshim berkunjung ke apartemen ku." Shim tidak menghiraukan perkataan Ray.
" Dimana Nara."
" Nara. Ah, dia sedang tidur. Aku rasa di sangat kelelahan."
Brukhh.
Shim menarik kera baju Ray.
" Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan melepaskan mu." Shim mendorong Ray.
Shim dan anak buahnya menerobos masuk ke dalam apartemen Ray. sedangkan Alex menunggu di luar sembari memperhatikan musuh bebuyutannya.
" Nara" Teriak Shim. Namun tidak ada jawaban.
" Tuan, Nyonya ada di sini." Shim melebarkan langkahnya mendekati kamar yang di maksud anak buahnya.
Shim mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Lalu menatap wajah damai Nara. Ia mengusap pipi Nara dengan lembut.
Nara menggeliat saat ia merasakan sentuhan di pipinya. Perlahan ia membuka mata.
" Sh.. Shim"
" Jangan pergi seperti ini lagi." Ucap Shim yang masih mengusap wajah Nara.
Nara memalingkan wajahnya. Ia masih merasa kesal dengan Shim.
" Bangunlah kita kembali ke hotel. Disana kamu bisa tidur dengan puas." Shim tau kalau Nara masih marah. Ia berusaha keras untuk membujuk nya.
" Aku tidak mau, aku sudah memesan tiket untuk pulang."
" Benarkah. Kenapa harus memesan tiket?"
" Kalau aku tidak pesan bagaimana aku bisa mendapatkan tumpangan untuk pulang." Shim tersenyum mendengar perkataan polos istrinya.
Cup.
__ADS_1
Karena gemas, Shim mencium Nara dan menyalurkan rasa senang karena berhasil menemukan nya.
Nara tidak menolak dan tidak membalas. Ia hanya diam membiarkan Shim bermain sendiri.
" Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya. hmm" Shim melepaskan tautannya dan memeluk tubuh Nara dengan sangat erat.
" Kamu selalu bilang seperti itu."
" Lalu aku harus apa." Shim menghembuskan nafasnya dengan kasar.
kenapa mereka lama sekali. Sangat membosankan jika aku harus selalu melihat wajah laknat bocah ingusan ini.
Alex mulai naik pitam karena Ray berada di hadapannya sambil menunggu Shim keluar.
" Apa kamu bisa memutuskan hubungan dengan Jasmine?" Mendengar perkataan Nara, Shim melepaskan pelukannya.
" Kenapa kamu berkata seperti itu?"
" Hah. Tidak perlu basa basi."
" Aku tidak bisa." Singkat Shim.
" Kalau begitu putuskan hubungan mu denganku."
" Berapa kali aku bilang, jangan pernah bahas ten....
" Lihat. Sikap egoisme yang sangat tinggi sangat melekat padamu. Aku sudah cukup baik untuk membiarkan kalian bersama. Tapi aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak mendapatkan keuntungan apapun. Jadi aku berhak untuk melarang suamiku untuk mendua. Aku harap kamu mengerti Shim. Coba pikir. Wanita mana yang mau suaminya mendua hah? Apalagi suamiku ini lebih mementingkan simpanan dari.....
" Aku tidak bisa Nara. Sampai kapanpun aku tidak akan mau melepasmu." Tatapan Shim pada Nara benar benar sangat dalam.
" Ka.....
Kalimat Nara terhenti karena Shim langsung mencium nya lagi.
Kini ciuman Shim semakin memanas. 3 menit mereka berciuman dan Shim mengakhirinya dengan lembut.
" Kita bicarakan ini saat di rumah. Sekarang ayo pulang. Atau aku akan menghamilimu sekarang juga agar kamu tidak melawanku lagi." Nara membulatkan matanya. Dengan cepat ia berdiri dan memegang tangan Shim.
" Ayo."
" Ayo apa.?" Goda Shim.
" Pulang" Shim tertawa melihat tingkah istrinya yang pangling karena takut di hamili.
Mereka keluar bersama dengan anak buah yang sedari tadi mendengar perkataan mereka di kamar.
Tanpa permisi Shim langsung melewati Ray dan menarik tangan Nara.
__ADS_1
........
Setelah membaca jangan lupa like and tinggalkan jejak.