
Perbincangan Shim dan Alex terhenti akibat kedatangan Jasmin.
" Shim, aku merindukanmu. Kenapa telponku tidak di jawab hem?" Ucap Jasmin yang kini bergelayut manja di pangkuan Shim.
Alex yang merasa risih, berpamitan karena masih ada urusan lain yang harus ia kerjakan.
Bughk..
Alex langsung menangkap wanita yang bertabrakan dengannya. Wajah Alex langsung ceria saat melihat wanita itu adalah Nara.
" A.. Alex." Ucap Nara.
Nara melepaskan tangan Alex dari pinggangnya.
" kamu tidak apa apakan?" Khawatir Alex.
" Ah tidak. Aku tidak apa apa. Terima kasih karena sudah menolongku." Ucap Nara dengan senyuman khasnya.
" Tidak masalah. Lain kalo hati hati saat berjalan ok. Aku permisi dulu soalnya ada urusan yang harus segera aku tangani. Aku harap kita bisa bertemu lagi." Ucap Shim yang di balas senyuman oleh Nara.
" Permisi, Ruangan Jeon Wil Daeshim Dimana ya? " Ucap Nara kepada salah satu karyawan.
Karyawan tersebut mengarahkan Nara ke tempat Shim berada. Ini pertama kalinya Nara berkunjung ke kantor jadi wajar saja jika ia tidak tau letak ruangan Shim.
" Terima kasih" Ucap Nara dengan senyuman, saat ia telah sampai di depan pintu ruangan Shim.
Tanpa mengetuk, Nara langsung membuka pintu. Nara terkejut saat melihat Shim sedang berciuman dengan Jasmin.
buhgkk...
Nara sengaja menutup pintu dengan kasar. Agar dua insan tersebut sadar jika ada orang lain di ruangan ini.
Shim langsung mendorong Jasmin.
" Kenapa tidak menelpon jika ingin kesini?" Ucap Shim. Namun Nara hanya sibuk mengotak atik ponselnya sambil duduk di sofa ruangan Shim.
Shim mengerti dengan sikap Nara. Ia memberikan kode kepada Jasmin, agar ia meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Dengan kesal Jasmin berjalan meninggalkan Shim dan Nara.
Shim berjalan mendekati Nara, lalu menarik ponselnya hingga membuat Nara berdecik kesal.
" Kembalikan ponselku." pinta Nara.
Shim hanya diam, dan kembali ke kursi kerjanya. Ia mengotak atik isi ponsel Nara. Nara yang mengetahui hal itu langsung menghampiri Shim dan mencoba mengambil ponselnya. Namun tenaga Nara kalah dari tenaga Shim, sehingga ia jatuh ke pangkuan Shim.
" Berikan." Rengek Nara.
" Tidak." Shim mencoba menggoda Nara.
" Ya sudah. Ambil saja, aku tidak membutuhkannya." Ucap Nara yang ingin beranjak dari pangkuan Shim, Namun di halangi oleh kedua tangan kekar Shim.
" Tadi aku bertanya. Kenapa kamu tidak menelpon hem." Ucap Shim yang semakin mengeratkan pelukannya.
Semenjak.kejadian itu. Shim jadi sedikit luluh terhadap Nara.
" Aku menunggu sangat lama. Aku bahkan sudah menelpon tapi tidak di jawab. Ternyata kamu sedang sibuk dengannya." Shim hanya tersenyum melihat wajah cemberut Nara.
" Baiklah aku minta maaf hem. Jangan cemberut lagi." Nara masih diam tak bergeming.
Shim memeluk Nara, menenggelamkan kepalanya di leher jenjang istrinya itu.
" Wangi." Ucap Shim saat mencium aroma tubuh Nara.
Berada di posisi seperti ini, benar benar menggoda Shim. Apalagi aroma tubuh Nara yang sangat ia sukai menambah kesal kasualnya. Shim mencoba mengendalikan dirinya.
Nara yang merasakan keanehan Shim, langsung memundurkan dirinya. Shim menatap Nara dengan mata yang sayu. Nara sangat mengerti dengan tatapan sayu itu.
Tatapan Shim kembali fokus pada pakaian yang di pakai oleh Nara. Baju berwarna abu abu, hanya menggunakan satu tali dan memperlihatkan perut bawah. lalu mengenakan bawahan berupa rok mini yang sangat pendek. Membuat gairah Shim semakin memuncak. Ini kali pertama Nara berpakaian seminim ini.
" Apa kamu ke kampus menggunakan pakaian ini?" Tanya Shim dengan menunjuk pakaian yang di pakai Nara. Namun Nara hanya menggeleng.
" Lalu? Ooh. Apa kamu ingin menggodaku hem?." Ucap Shim yang mulai melingkarkan tangannya lagi ke pinggak Nara.
" Tidak. Aku mengganti pakaianku di mobil. Aku merasa gerah jadi aku memakai pakaian ini." Shim mengerutkan dahi saat mendengar Nara mengganti pakaian di mobil.
__ADS_1
" Di mobil?" Tanya Shim.
" Iya." Shim hanya menggeleng mendengar jawaban istrinya.
" Jangan gunakan pakaian ini di depan umum mengerti. Gunakan jika hanya di hadapanku.!" Nara hanya mengangguk karena malas berdebat.
" Apa kamu lapar?" Nara menggeleng tanda ia tidak lapar.
" Lalu ada apa kamu kesini?"
" Apa hanya Jasmin yang boleh kesini? Ya sudah aku pulang." Shim langsung menarik Nara yang ingin pergi.
" Sensitif sekali. Apa kamu sedang datang bulan hem?." Lagi lagi Nara hanya menggeleng.
Shim merasa sedikit geram dengan tingkah cuèk Nara. Ia mengusap punggung Nara yang tidak berbalut kain untuk menggodanya.
" Shim," Shim hanya terkekeh melihat ekpresi terkejut Nara.
" Berhenti bersikap seperti ini, atau aku akan melakukan hal yang lebih." Ancam Shim.
" Aku tidak takut dengan ancamanmu itu." Sarkas Nara.
Nara sangat terkejut. Karena Shim benar benar melakukan hal yang lebih.
Kini Shim Sedang mengelus paha mulus dan punggung Nara.
" Hentikan. Aku tidak suka." Ucap Nara yang mengalihkan pandangannya.
" Karena aku habis menyentuh Jasmin makanya kamu tidak ingin aku sentuh hem?." Nara hanya mengangguk.
Shim mengangkat Nara menuju kamar rahasia di ruangan itu. Shim menidurkan Nara lalu ia duduk dan memperhatikan setiap inci dari tubuh Nara.
" A. Apa yang kamu lihat?." Karena merasa risih dengan pandangan Shim, Nara memutuskan untuk duduk dan menghadap ke Shim.
" Yang seharusnya aku lihat." Singkat Shim. Nara hanya mengerutkan dahi.
" sekarang kamu berada di semester berapa?" Nara bingung dengan pertanyaan Shim yang tiba tiba membahas semestes kuliahnya.
.............
setelah membaca jangan lupa like dan tinggalkan jejak.
__ADS_1