Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
khayalan


__ADS_3

***


Kini Aisya sudah berada di Asramanya, ia segera membersihkan diri dan mengisi perut nya. Setelah itu, Ia merebahkan.tubuhnya di atas ranjang. Aisya merasa kelelahan hari ini, karena begitu banyak aktivitas hari ini. Untuk mengisi kesunyiannya ia mencoba menyalakan televisi, ia beberapa kali mengganti chanel tv tetapi tidak ada yang membuatnya berselera.


Aisya Mendengus, "Sungguh membosankan, Acara TV sekarang !" gumamnya.


Aisya kemudian mematikan televisi tersebut, kini ia meraih ponselnya di atas nakas.


"Sepertinya menelpon Sinta lebih baik" gumam Aisya yang mencoba mencari nomor Aisya di kontaknya.


"Nah, ini dia," ucap Aisya tersenyum dan memanggil nomor ponsel tersebut.


tuut..tuut...


"Hallo, Aisya ! Ada apa ?" Suara Sinta begitu kerasnya disana.


"Assalamualaikum, Sinta !" seru Aisya


"Waalaikumsalam, Aisya ! hehe lupa maklum saking bahagianya," Sinta terkekeh yang kadang suka lupa mengucapkan sapaan salam.


"Sebahagia itukah, Sinta. Awas Bahagia mu membuat sang pencipta murka," tutur Aisya.


"Ih, jangan begitu Aisya, Kau ini. Aku kan lupa, mana mungkin aku mengingatnya," Sinta berkilah.


Aisya mendengus, "Ya, iyalah Sinta kalau lupa pasti tidak ingat !" membuat Aisya begitu kesal akan tingkah sahabatnya itu.


Sinta hanya terkekeh, "Eh, sekarang sudah pulang kerja ? bukankah jam kerjamu pulang jam 8 malam ?" tanya Sinta bertubi-tubi tanpa jeda.


"Sabar, Aku kan sekarang sudah menjadi Asisten tuan besar, jadi pulangnya lebih Awal, maksimal jam 6 Sore dan minimal jam 4 sore. Kau sendiri tidak terganggu, oleh kehadiran ku ?" tanya Aisya.


Aisya memang kerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam istirahat 3 Jam yaitu satu jam waktu makan siang, satu jam menjelang sore dan satu jam saat petang. Sedangkan di hari menjelang weekend dia bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dengan istirahat satu kali saat jam makan siang.


"Tidak. Aku sudah pulang dari jam 5 sore, ini juga lagi rebahan."


"Itu memang jam kerjamu Sinta !"


Sinta hanya terkekeh mendengar Aisya yang selalu dibuatnya kesal.


"Eh, Sya hidupmu enak sekali, sudah pulang kantor nya di kurangi, kau di percaya pula sama Atasan mu," ucap Sinta.


"Iya, Sinta. Alhamdulillah, aku juga masih tidak percaya akan semua ini, bolehkah aku berpikir aneh-aneh ?" tanya Aisya


"Memangnya, apa yang membuat pikiranmu bertanya-tanya ?" tanya Sinta.


"Aneh, saja. Aku baru tiga bulan bergabung, tiba-tiba aku di percaya melakukan perjalanan bisnis yang sama sekali aku tidak kuasai." Tutur Aisya yang sejenak merasa aneh dengan pengangkatan dirinya sebagai anggota perjalanan dinas keluar negeri.


"Mungkin, kamu berpotensi makanya beliau memilihmu, tetap positif thinking," tutur Sinta menyemangati.


"Kau tahu sendiri, bagaimana aku diperlakukan oleh seniorku, mungkin mereka mengira aku ada main dengan atasanku," ucap Aisya yabg begitu kesal.


"Sudah. Aku tahu kamu kok ! kau tidak akan seperti itu. Kau jangan terlalu mendengarkan kata orang, itu hanya membuatmu patah semangat. sudahlah sekarang pikirkan masa depanmu, tak perlu memikirkan kehidupan orang lain. karena orang lain tidak akan membantumu. Ingat orang yang membencimu tidak akan mempercayai mu," tutur Sinta menasehati Aisya.


"Kau tumben, bijak sekali hari ini. Aku terharu mendengar. By the way, thankyou kau sudah menguatkan ku, sun sayang dari aku !" ucap Aisya seraya meledek di iringi dengan tertawa terbahak-bahak.


"Aku sudah minum minuman orang pintar, jadi otakku sedikit encer," jawab Sinta tertawa.


"Ah kamu bisa aja Sinta !" seru Aisya


"Kamu perjalanan dinasnya kemana ?" tanya Sinta penasaran.


"Katanya ke suatu negara, tapi aku juga tidak tahu pasti, negara mana ?" jawab Aisya yang mencoba memikirkan negara mana yang ia kunjungi.


"Wow, keren sekali kau. Akhirnya bisa naik pesawat dan langsung ke Luar Negeri ! ucap sinta yang tidak kalah hebohnya.


"Iya, aku juga masih belum menyangka. Aku tidak memikirkan bisa sejauh ini, membayangkan saja aku tidak pernah."


"Itulah yang namanya Rezeki yang tidak terduga, sesuatu yang tidak pernah terbayang menjadi sebuah kenyataan," ucap Sinta.


"Betul, Sinta. Kita harus percaya kekuatan doa dan berusaha itu menjadi nyata bahkan dibalas dengan yang tidak terduga," Timpal Aisya.


"Benar sekali ternyata semboyan DUIT itu berbuah manis untukmu !" seru Sinta.


"Alhamdulillah, berkat Doa, Usaha, ikhtiar dan Tawakal alias DUIT, mengubah hidupku segalanya," ucap Aisya seraya bersyukur atas nikmat telah ia rasakan saat ini.


"Eh, kau selama disana ditanggung kan biayanya ?" tanya Sinta.


"Iya, aku ditanggung oleh perusahaan. Aku hanya tinggal duduk manis saja," jawab Aisya.


"Enak, sekali anda. menjadi ratu untuk beberapa hari," seru Sinta.


"Andaikan aku menikmati menjadi ratu sejagat nya selamanya, mungkin hidupku lebih indah," ucap Aisya sejenak berkhayal.

__ADS_1


"Kamu mau jadi isteri Atasan mu ?" tanya Sinta


"Ngaco, kamu. Mana mungkin Tuan besar mau terhadap ku !"


"Tidak ada yang tidak mungkin, kalau Tuhan berkehendak, pasti terjadilah," tutur Sinta menguatkan.


"Benar juga, kan katanya Atasanku masih lajang, Tak apalah, sejenak bermimpi." Sahut Aisya.


"Ternyata kau mengincar Tuan Muda juga rupanya," telisik Sinta.


"Iyalah, Aku cita-citanya mendapatkan suami Tuan Muda yang mapan, tampan dan beriman," ucap Aisya.


"Semboyan mu lumayan maruk ya, tapi itu jarang, Aisya !" seru Sinta.


"Ada kok, buktinya itu Atasanku."


"Kalau dia mau sama kamu ! ini pahitnya, dia sudah memiliki calon, mau jadi isteri selingan ?" tanya Sinta.


"Tidaklah, kau ini. Aku tidak mungkin juga seperti itu !" ujar Aisya.


"Kalau kau tetap mencari yang mapan, biasanya sudah berumur !" ujar Sinta.


"Berarti itu bukan Tuan Muda !" seru Aisya


"iya, lebih tepatnya sugar daddy !" seru Sinta tertawa cekikikan.


"Ih, seram sekali kau. Aku tak mau, aku maunya yang masih muda tampan nan mapan !" seru Aisya.


Sintah terkekeh, "Ada yang Tuan Muda, tampan nan mapan ?"


"Apa itu ?" sahut Aisya penasaran.


"Duren sawit !" seru Sinta tertawa terbahak-bahak.


"Wah tak ku sangka, kau diam-diam mencari Duda keren sarang Duit ternyata !" seru Aisya yang tertawa.


"Ya, kalau memang sudah jodoh. Apa boleh buat." ujar Sinta menantang.


"Yakin ? memang kau sudah siap menjadi ibu tiri ?" tanya Aisya.


"Memang ada yang salah dengan menjadi ibu tiri ?" tanya Sinta.


"Oh, tidak ! Aku tidak termasuk itu, aku ibu tiri yang baik. Aku akan menghilangkan citra ibu tiri yang jahat. Lagian kan tidak semua ibu tiri seperti itu !" Sinta mengelak.


"Benar, Tapi kenyataannya yang beredar di masyarakat luas memang seperti itu !" ucap Aisya.


"Tenang, Aku mau menjadi agent of change citra ibu tiri !" ucap Sinta.


"Bagaimana kalau kau yang tidak di sukai olehnya ? bahkan kau sengaja selalu di kambing hitam kan ?" ucap Aisya mengompori Sinta.


"kau, kompor meledug banget sih, Aku jadi ngeri mendengar nya." Ujar Sinta


Aisya, terkekeh, "kau baru digertak begitu saja, nyali mu sudah menciut," ledek Aisya.


"Aku juga, ingin hidup aman tentram dan damai, Aisya !" Sinta mendengus.


"Ih, kok kita jadi bahas, Ibu tiri ! aku hanya ingin membahas Tuan muda yang mapan ! Kenapa kau jadi membahas Duren yang berduit !" seru Aisya memprotesnya.


"Ya, kalau tidak mendapatkan Tuan Muda, ada opsi kedua yaitu Duren sawit. Hidup itu harus realistis. Jangan mau hidup melarat !" seru Sinta.


"Opsinya, boleh juga. Tapi tak perlu dijadikan patokan juga. Carilah yang bertanggung-jawab supaya ia akan melakukan apapun terhadapmu termasuk memenuhi kebutuhanmu." tutur Aisya.


"Iya, Siap, Bu ! yang penting cukup kan ?


" tanya Sinta tertawa.


"Iya cukup membeli rumah, mobil, perhiasan, dll. !" seru Aisya.


"Exactly ! kau paling mengerti," ucap Sinta.


"Tapi, kalau kau menjadi orang kaya, harus sudah siap mental dan fisiknya, jangan sampai kau kaya tetapi masih bermental misqueen !" seru Aisya.


"Iya, jangan sampai, buka pintu mobil saja kau tak bisa," Sinta mendengus.


"kau menyindir ku !" seeu Aisya


"Tidak, siapa yang menyindir mu ! memang benar kau tak bisa membuka pintu mobil ?" tanya Sinta.


Aisya berhenti sejenak, namun terbuyarkan ketika Sinta memanggil.


"Aisya, kau tidak tidur kan !" seru Sinta.

__ADS_1


"Iya aku masih bangun, aku jadi ingat kejadian tadi !" ucap Aisya dengan nada malas.


"Memangnya ada kejadian apa ?" tanya Sinta serius.


"Tapi kau berjanjilah, jangan menertawakan ku," ancam Aisya.


"Tergantung, apa dulu masalahnya ?" tanya Sinta yang semakin penasaran.


Aisya mendengus, "Aku tidak bisa membuka pintu mobil mewah Atasanku, saat tadi mengantarku menyelesaikan administrasi," ucap Sinta.


Seketika Sinta tertawa terbahak-bahak, "Kau ini, memalukan sekali ! tapi lucu asli !"


"Tuh, kan. Sudahlah jangan dibahas lagi, aku juga merasa ingin tenggelam ke lautan dalam dan bersembunyi di bikini bottom ! seketika jiwa misqueen ku meronta !" bentak Aisya yang sedari tadi menahan malu.


"Itu belum seberapa, kalau kau sudah berada di lingkungan mereka. Kau akan dipenuhi dengan aturan, misalnya kau harus makan di meja makan dan harus bersama-sama. Hidupmu akan terkekang yang bias makan dimana saja!" seru Sinta.


"Sudah ku bayangkan, perutku sudah kelaparan, sedangkan keluarga belum kumpul. Bisa jadi aku mati kelaparan," ujar Aisya.


"Belum lagi harus higenis, sedikit pegang sesuatu bisa disemprot sama desinfektan," ujar Sinta tertawa.


"Lama-lama bukan kuman yang mati, tapi aku juga ikut mati !" seru Aisya.


"Belum lagi mendapatkan mertua yang super jutek, berjiwa sosialita, sudahlah terhempas kalau kau tidak bisa menyeimbangkannya." Ujar Sinta memanas-manasi Aisya.


"Horor sekali, lebih horor dari sebuah cerita misteri, kalau sudah urusan mertua, "ucap Aisya bergidik ngeri.


"Iya, Masa kita menyeimbangkan dengan prinsip BPJS !" Seru Sinta.


"Itu menyiksa diri sendiri, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita ! sungguh terlalu, mending tidak sama sekali !" seru Aisya.


"Terlalu memaksakan kehendak, trend jaman sekarang banget !" ucap Sinta


"Iya, dan itu sulit diberantas !" ucap Aisya.


hening


"Salah satu cara mendapatkan yang terbaik adalah meminta kepada yang Maha mengetahui. Tuhan pasti akan mempersiapkan yang terbaik dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan bukan aapa yang kau inginkan." Tutur Aisya mencoba menyemangati dirinya sendiri.


"Iya, betul sekali. sekarang lebih baik kita memperbaiki diri dan tidak lupa mengetuk pintu langit," sahut Sinta.


"Benar, berbisik pada bumi maka langit akan mendengar begitulah dasyat nya Doa." tutur Aisya.


"Kita tidak apa apa bermimpi setinggi langit, supaya jatuh pun masih tertahan diantara bintang-bintang ! " Seru Sinta.


Aisya sedikit menguap kemudian melirik ke arah jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Sinta tidak terasa kita sudah mengobrol berjam-jam dengan mu. Kau belum mengantuk ?" tanya Aisya.


"Astaga, saking asyiknya kita mengobrol ya, ternyata Ini sudah larut malam, besok aku harus berangkat pagi !" Seru Sinta yang terdengar sedikit menguap.


"Ya, sudah. kita istirahat saja. Nanti kalau ada waktu kita berjumpa ya.." ujar Aisya


"iya Nanti kita janjian saja !" seru Sinta.


"Baiklah, Selamat malam sinta, assalamualaikum, " pamit Aisya.


"Malam juga Aisya, Waalaikumsalam," Tutup Sinta.


Pembicaraan mereka pun terhenti disana. Aisya sudah menguap berkali-kali, namun ia segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Selanjutnya ia mengecek pintu Asrama, dan merapihkan tempat tidurnya. Kini ia sudah berbaring dan merebahkan tubuhnya.


Tersirat kebahagiaan yang di alami Aisya, karena tidak seperti biasanya ia disibukkan bekerja. Kini pekerjaannya terlihat lebih santai dan nyaman karena banyak waktu luang.


"Aku ingin terus seperti ini, Ya Tuhan," gumam Aisya yang di iringi dengan menutup kedua matanya yang lama kelamaan ia tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2