Aku Butuh Pengakuan

Aku Butuh Pengakuan
Penyesalan


__ADS_3

Aisya mengangguk dan menghela nafas "hm,, gini saja membuat jantungku copot saja," gumam Aisya sambil berjalan keluar.


Aisya berjalan menuju ruangan kantin para pegawai pada umumnya, dengan tubuh yang lunglai. Ketika Aisya keluar dari ruangan tersebut cukup membawa perhatian orang-orang disekitarnya. Tak jarang diantara mereka saling berbisik, mungkin mereka sedang membicarakan dirinya, pikirnya.


"Anak baru, hebat ya cepat sekali naik jabatan nya, dekat dengan petinggi lagi. Itu pakai jurus seperti apa ya ?" Sindir seorang wanita bersama teman-temannya.


"Ah paling jurus ngangkang dan telentang ! ups..." sahut temannya.


Aisya Mendengar ucapan tersebut sangat ingin sekali menghancurkan seluruh ruangan itu. ingin ku robek mulutnya yang sangat tajam. Ya, dia berbicara tanpa fakta. Namun Aisya hanya diam dan mengepalkan tangannya. Ia segera keluar dari tempat itu, untuk mencoba mengendalikan emosinya, dengan mengelus dadanya.


"Sabarlah, Aisya.. mereka hanya iri terhadapmu. Biarkan orang menghinamu dan memfitnah semua ini. Asalkan kau tidak melakukan semua itu," batin Aisya.


Aisya mempercepat laju jalannya, karena telinganya begitu panas mendengarnya. Tiba-tiba lajunya terhenti ketika seseorang menyapanya. Ia adalah Ruri rekan kerja yang paling dekat dengan Aisya. Lebih tepatnya tempat duduk mereka berdekatan.


"Aisya, sini dulu !" ucap ruri melambaikan tangan mengajaknya bergabung.


Aisya menoleh, "Eh, iya ada apa Ruri ?" Aisya berjalan menuju meja tersebut meskipun sebenarnya sangat malas.


Namun tiba-tiba celetukan pegawai lain yang disekitar Ruri "Ruri, kau hanya main kecil saja baginya. Kau akan jadi pelampiasan semata. Selera dia kan para petinggi i !" ucap seorang yang lewat begitu saja seolah mengompori untuk menjauhi Aisya.


"Kalian bisa diam, Saya sudah mengenal dia," Ucap Ruri membelanya


Aisya seketika tersenyum, karena ia merasa ada yang membelanya.


"Kalau sudah cinta, pasti buta segalanya, meskipun bekas juga," sindir seseorang dari arah meja sebrang.


"Sudahlah urus saja hidup kalian, tak oerlu mengurusi urusan orang lain," Ucap Ruri.


"Sudahlah Ruri tak perlu kau tanggapi, aku sudah biasanya dengan ucapannya. Ada apa kau memanggilku ?" tanya Aisya


"Kau jangan terlalu lemah, kau harus membela diri, kalau kau memang tak seperti itu," ucap Ruri dengan kesalnya.


"Tak perlu ucapan kasar dibalas dengan kasar, Ruri !" ucap Aisya.


"Oh, atau jangan jangan benar gosip murahan itu terjadi padamu, Aisya ?" Tanya Ruri.


Aisya begitu sangat sakit hati ternyata teman yang dekat dikantornya saja meragukan dia.


"Jadi, kamu mengajak aku kesini untuk berprasangka buruk terhadap ku juga, kalau seperti itu saya sebaiknya pergi saja, terimakasih" ucap Aisya berdiri untuk meninggalkannya namun tertahan sejenak.


"Tunggu Aisya ! jangan marah, duduklah, aku hanya butuh penjelasanmu," ucap Ruri


"Maaf Ruri, lain kali saja, saya ingin mendinginkan kepalaku dulu" ucap Aisya meninggalkan Ruri tanpa menolehnya.


Sama saja, orang disini.Tak pernah menghargai aku bahkan tak ada yang percaya padaku. Mereka hanya melihatku saat berjalan dengan Tuan besar saja, tanpa mengetahui aku kenapa dipilihnya.. sungguh menyebalkan, Batin Aisya menggerutu.


Namun ternyata Ruri mengejarnya, Aisya janji untuk cerita kepadaku, aku mohon! ujar Ruri.


Aisya membalikan badannya dan hanya sebuah anggukan dan ia langsung pergi keluar.

__ADS_1


Sudahlah, Jangan terlalu memikirkan ucapan orang lain, batin Aisya.


Tujuan kali ini adalah sebuah taman, yang sering ia kunjungi, karena tempat tersebut baginya mamou menenangkan dirinya.


***


sebuah taman yang indah, dengan pepohonan besar yang rindang dikelilingi kolam yang cukup besar, di kelilingi bangku-bangku kecil nan sunyi, karena jarang ada orang yang kesana, jadi lokasinya cukup tenang untuk digunakan sekadar menghirup udara segar dan menenangkan pikiran. Aisya biasa datang ke tempat itu, selama masih baru dan sampai saat ini ketika jenuh.


Hari ini dirinya benar benar tertekan, karena semua pegawai menganggap nya wanita penggoda sang atasan demi sebuah jabatan, padahal semua itu hanya tuduhan belaka.


Aisya memandang langit, sambil menghela nafas, "takdirku seperti ini, aku bingung dengan apa yang sedang ku jalani hari ini, aku tak mampu lagi menahan semua ini, apakah aku harus menutup telinga ?" gumam Aisya meneteskan sedikit air matanya.


"orang-orang disini semakin, terlihat kompetisi nya demi mendapatkan sebuah jabatan, bahkan mereka berprasangka terhadapnya karena anak bawang yang baru masuk tiba tiba menjadi kepercayaan Atasnnya," pikir Aisya sambil menyeka air matanya.


"Ah, aku pun tidak tahu kenapa aku yang di pilih oleh Atasanku itu, aku sudah bertanya alasan memilihku, mereka tak pernah menjawabnya" gumam Aisya.


Selama di taman Aisya hanya berbicara kepada seorang diri, kali ini memang dirinya benar-benar tertekan, berkali-kali berpikir kesalahan apa yang telah perbuat, sesekali Aisya melirik jam tangan ternyata waktu menunjukan pukul. 13.00 WIB.


"Sudah masuk lagi, padahal aku ingin berlama-lama disini," gumam Aisya berjalan kembali ke kantornya.


***


Ruangan dengan dekorasi yang unik, namun membuat orang yang berada di dalam terasa nyaman, Aisya kini sudah berada dikantornya, dengan keheningan. Aisya sibuk dengan dokumen yang sedang ia persiapkan untuk nanti.


tok tok tok


"Boleh saya masuk" ujar lelaki muda yang ada didepan pintu yang tiada lain ialah Dirga, Atasannya.


Aisya terperanjat dan langsung menganggukan "iya, pak silahkan duduk" ujar Aisya.


Seketika Aisya terasa tidak nyaman, jantung bergetar lebih kencang dan mencoba menenangkan diri.


Tenang, tenang, Mengapa orang itu kesini, biasanya juga jika ada perlu telepon, batin Aisya


"Maaf Pak, Ada yang perlu saya bantu, pak ?" tanya Aisya.


"Iya, ada" tegas Dirga menantang.


"Mengenai hal apa pak, mohon maaf biasanya bapak melalui telepon," ujar Aisya.


"Memang saya tidak boleh mengecek ruang kerja karyawan saya ? atau jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu di sini" ujar dirga sambil melirik kekiri ke kanan.


"Maaf pak, asli bin suwer saya tidak menyembunyikan apapun," Aisya keceplosan saking takutnya sambil mengacungkan dua jarinya gelagapan kemudian segera menurunkan tangannya.


Dirga melirik dengan senyuman kepada gadis itu, karena melihat tingkahnya lucu.


aduh, senyuman nya sungguh menawan ,,,kenapa ini, Atasan tampannya tidak tertandingi, aku tidak kuat kau melihatku seperti itu, tenang Aisya tenang, ayo berpikir, batin Aisya mencoba mengalihkan pandangannya dengan secepat kilat ketika terdesak munculah kata-kata keberaniannya.


"Maksud saya, bapak bisa menghubungi saya via telepon jika bapak membutuhkan bantuan saya. Saya yakin waktu bapak, lebih berharga dibandingkan hanya datang keruangan ini, yang tiadalah artinya" ucap Aisya dengan senyuman terbaiknya untuk meyakinkan Atasannya bosnya

__ADS_1


Apakah kosa kataku tidak rumit, mudah-mudahan aman, Batin Aisya.


"kata siapa saya datang kesini adalah sebuah kesia-siaan ? " ujar Dirga melirik Aisya kembali.


Tuh kan, salah lagi ! Aku harus bagaimana, aku selalu salah di depannya. Padahal, aku sudah berbicara selebay ini, apakah aku harus lebih lebay lagi, batin Aisya sambil menelan salivanya.


"Ia, benar sekali. Tua kesini tidak ada yang sia-sia, karena keputusan Tuan itu adalah berharga, begitupun untuk datang kesini, terimakasih bapak sudah menyempatkan datang keruangan saya, suatu kehormatan bagi saya," ucap Aisya tersenyum seikhlas-ikhlasnya.


"Kamu ternyata hebat juga dalam berbicara," ujar Dirga tersenyum sinis.


Aisya segera menanyakan maksud dan tujuannya, agar segera menjauh dan tidak banyak berdebat dengan bosnya karena bagi aisyah Atasannya keras kepala tidak mau mengalah.


"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Aisya lafi.


"Saya kesini hanya memastikan kamu berada di ruangan ini tidak kelayapan di jam kerja" jawab Dirga sambil meninggalkan ruangan


hmm, hanya iru saja dibuat rumit ! sejak kapan Aku bolos di jam kerja, sungguh tak beralasan, batin Aisya


Ketika Aisya ingin mengepalkan tangannya merasakan kegembiraan. Yes, namun tertahan karena Dirga membalikan badannya.


"o, iya, jangan lupa antar saya ke cafe Ceria, jam 08.00," ucap dirga meninggalkan ruangan sebelum Aisya menjawab seolah melarang adanya penolakan.


"bruk" menutup pintu


"Sungguh tak sopan sekali, baru saja aku merasakan kebahagiaan, kau hancurkan", gerutu Aisya.


"Sebentar tadi dia mengantarnya ke Cafe ceria. Apakah tak salah, biasanya kan sama Pak Rama. Heran orang kaya uda tua juga masih saja minta diantar," Gumam Aisya.


"Aku ingin sekali bilang tidak mau, namun apalah dayaku yang tak diberikan kesempatan untuk menjawabnya," Gumam Aisya kesal


"Dasar penguasa, bisa semena-mena terhadap bawahan, semua keinginannnya harus terwujudkan, awas saja ya, kalau tak di anggap lembur, karena tidak ada yang gratis ! eh aku tak mungkin berani sama Atasan itu, " umpat Aisya mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama dari tadi pagi hingga malam membuatku susah.


"Kalau bukan karena Duit, aku tak sudi menemanimu wahai penguasa. Demi sesuap nasi aku rela kau anggap aku sebagai butiran debu. Aku harus profesional dengan kerjaan" Aisya menggerutu tanpa henti-hentinya.


"Rassanya semua fasilitas yang aku peroleh selama ini ternyata aku dipekerjakan untuk Tuan penguasa itu," kesal Aisya merasa menyesal telah bekerja ditempat ini.


.


.


.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2